Setelah Dujjonku, Kini Tren Dessert Butter Tteok Viral dari Korea Selatan

Munculnya Tren Dessert Baru dari Korea Selatan

Korea Selatan terus menjadi sumber inspirasi bagi dunia kuliner, dan kali ini, muncul sebuah tren dessert yang sedang viral. Setelah sebelumnya kita dihebohkan dengan Dubai Chewy Cookie atau Dujjonku, kini muncul lagi sebuah kue yang menarik perhatian, yaitu Shanghai Butter Tteok. Berbeda dengan Dujjonku yang memadukan pasta pistachio dan tekstur renyah kunafa, Butter Tteok hadir dengan pendekatan yang lebih hangat dan comforting, tetapi tetap memiliki elemen kejutan berupa tekstur yang kontras.

Eksplorasi Rasa dan Tekstur Butter Tteok



Butter Tteok memiliki tampilan luar yang mirip dengan madeleine khas Prancis, namun saat digigit, kamu tidak akan menemukan remah roti yang lembut. Justru, kamu akan merasakan sensasi oily dan kenyal yang elastis. Secara teknis, Butter Tteok sebenarnya adalah adaptasi dari Huangyou Niangao, kudapan tahun baru asal Shanghai, Tiongkok, yang terbuat dari ketan dan mentega. Namun, industri kuliner Seoul berhasil memolesnya menjadi sesuatu yang jauh lebih estetik dan Instagrammable.

Rahasia di Balik Kelezatannya



Butter Tteok tidak menggunakan tepung terigu, melainkan campuran tepung ketan dan pati tapioka. Inilah yang menciptakan efek chewy atau jjondeuk yang sangat disukai oleh masyarakat Korea. Selain itu, penggunaan susu dan mentega berkualitas tinggi dalam jumlah besar memberikan aroma yang harum dan rasa creamy yang tertinggal lama di lidah. Biasanya, kue ini disajikan dengan condensed milk untuk memberikan efek glaze yang berkilau sekaligus rasa manis yang pas.

Mengapa Butter Tteok Menjadi Viral?

Dalam industri kuliner modern, rasa saja tidak cukup. Ada beberapa alasan mengapa Butter Tteok berhasil menggeser dominasi kue-kue sebelumnya di Korea:

  1. The Battle of Textures

    Di Korea, ada istilah kuliner yang sedang populer, yaitu “Geot-ba-sok-cho” yang artinya kering di luar, lembut di dalam. Butter Tteok membawa konsep ini ke level berikutnya. Bagian luarnya dipanggang hingga kecokelatan dan memberikan sensasi crispy tipis, sementara bagian dalamnya sangat kenyal. Kontras antara “garing” dan “molor” inilah yang membuat orang ketagihan.

  2. Nostalgia yang Modern

    Bagi orang Korea, tteok atau kue beras adalah makanan masa kecil dan simbol tradisi. Dengan mengemasnya dalam bentuk kue modern seperti madeleine atau balok kecil yang praktis dimakan, Butter Tteok memberikan rasa nostalgia namun dengan kemasan yang relevan bagi Gen-Z.

  3. Harga Terjangkau



Salah satu alasan kuat mengapa sebuah makanan menjadi tren masif adalah kemudahannya untuk didapatkan. Saat ini, Butter Tteok sudah merambah ke berbagai lini, mulai dari kafe estetik di Seoul hingga rak-rak convenience store seperti CU atau GS25. Dengan harga di kisaran 2.000 won (sekitar Rp23.000), camilan ini sangat terjangkau sebagai teman minum kopi sore hari.

Di Jakarta sendiri, tren Butter Tteok sudah mulai muncul di beberapa kafe dan toko roti. Nah, apakah kamu sudah mencobanya, babes?

Pos terkait