Vicky Prasetyo Mengungkap Kritik Terhadap Peran Inara Rusli
Vicky Prasetyo, seorang artis yang dikenal dengan gaya bicaranya yang penuh metafora, kembali menjadi sorotan setelah menyinggung peran Inara Rusli dalam sebuah video unggahannya. Dalam video tersebut, ia menyoroti bagaimana Inara Rusli dianggap sebagai orang ketiga yang ikut campur dalam rumah tangga Wardatina Mawa.
“Salam revolusi! Kali ini aku akan bicara tentang seorang wanita yang mungkin sedang ramai diperbincangkan karena menjadi orang kedua merebut kebahagiaan wanita yang lain dengan mengatasnamakan agama,” ujar Vicky Prasetyo dalam video yang diunggahnya di akun Instagram pribadinya.
Menurut Vicky, ironi terjadi karena Inara Rusli pernah berada di posisi sebagai perempuan yang tersakiti. Hal ini membuatnya heran dengan situasi yang kini berbalik. Ia menyatakan bahwa tidak menyangka seseorang yang pernah merasakan luka justru kini dianggap mengubur kebahagiaan rumah tangga orang lain.
“Listen to me, banyak wanita hari ini lupa caranya menjadi mahal, sibuk jualan air mata, mengemis perhatian laki-laki dengan modal air mata dan drama kesedihan,” kata Vicky dengan nada menyentil.
Ia menilai kesedihan dan air mata tidak seharusnya dijadikan alat untuk meraih validasi, apalagi demi kebahagiaan yang dinikmati di atas penderitaan orang lain. Vicky juga menegaskan bahwa tidak pantas menjadikan penderitaan sebagai komoditas, terlebih jika pria yang didekati masih muda dan dinilai telah mapan serta sukses.
“Belajarlah dari Cinderella, dia tidak sengaja cuma melepas satu sepatu dan dia mendapatkan cinta sejati dari seorang pangeran,” ujarnya.
“Sementara kalian melepas baju, mengumbar tubuh demi validasi sesaat. Hasilnya? Bukan dapat pangeran, malah kalian kehilangan harga dirinya,” tegas Vicky.
Tidak hanya itu, ia kembali melontarkan perumpamaan yang dianggap menyentil keras pihak yang disindirnya.
“Ingat, barang diskonan memang cepat laku, tapi tidak akan pernah dipajang di etalase yang utama,” ucapnya.
Vicky kemudian menutup pernyataannya dengan pesan moral yang menurutnya penting untuk direnungkan.
“Jadilah wanita yang dikejar karena kualitas, bukan yang dinikmati karena gratisan. Karena mahal itu pilihan, murah itu kebiasaan,” pungkasnya.





