Kondisi Darurat di Kecamatan Sawang, Aceh Utara
Selama empat bulan terakhir, puluhan siswa di Kecamatan Sawang, Aceh Utara terpaksa menggunakan perahu karet secara berdesak-desakan untuk mencapai sekolahnya. Fenomena ini terlihat saat para pelajar menyeberang sungai yang menghubungkan Desa Sawang dengan Desa Lhok Cut. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi keselamatan para pelajar.
Jembatan penghubung antar desa di wilayah tersebut sudah rusak akibat banjir bandang besar pada akhir November 2025. Namun hingga kini, jembatan pengganti belum dibangun oleh pemerintah. Tiap harinya, para pelajar mulai dari sekolah dasar hingga sekolah lanjut harus berdiri berdesakan di atas perahu karet. Terkadang, arus sungai berubah menjadi deras dan keruh, sehingga keselamatan para anak-anak tersebut dalam ancaman.
Desakan dari Anggota DPRK Aceh Utara
Anggota Komisi III DPRK Aceh Utara, Abuzar ST, mendesak pemerintah pusat maupun pemerintah daerah agar segera mengambil langkah konkret, dengan membangun jembatan pengganti. Agar para pelajar tidak lagi menaiki perahu karet setiap harinya.
“Ini sangat urgen dan harus segera ditangani. Jangan sampai ada korban lagi. Beberapa hari lalu bahkan sempat ada anak sekolah yang jatuh ke sungai,” ujar Abuzar yang juga Panitia Legislasi DPRK Aceh Utara, kepada Serambi, Sabtu (11/4/2026).
Meskipun kondisinya memperihatinkan dan mengancam keselamatan, para pelajar terpaksa menaikinya, karena perahu itu menjadi satu-satunya akses mereka untuk berangkat ke sekolah. Tidak hanya menggunakan perahu karet, sebagian warga juga memanfaatkan rakit sederhana, bahkan ban bekas sebagai alat penyeberangan. Dalam beberapa kasus, anak-anak harus diantar orang tua mereka menyeberangi sungai karena keterbatasan biaya transportasi.
Mobilitas pelajar di wilayah itu memang saling terhubung antar desa. Sejumlah siswa dari Desa Sawang bersekolah di Desa Lhok Cut, termasuk untuk tingkat taman kanak-kanak. Sebaliknya, banyak pula siswa dari Desa Lhok Cut, Kubu, dan Blang Cut yang menempuh pendidikan di Desa Sawang.
Kekhawatiran Masyarakat
Kendati penuh risiko, semangat anak-anak untuk tetap bersekolah tidak surut. Namun, situasi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran. “Beberapa waktu lalu, dilaporkan sempat terjadi insiden anak sekolah yang jatuh ke sungai saat menyeberang,” ujar Amiruddin warga Kecamatan Sawang kepada Serambi, Sabtu (11/4/2026).
Kebutuhan Rompi Pelampung
Anggota Komisi III DPRK Aceh Utara, Abuzar ST, mengatakan, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah pembangunan jembatan permanen sebagai akses utama masyarakat, khususnya pelajar. Namun untuk waktu dekat, yang paling dibutuhkan oleh para pelajar maupun warga yang menyeberang adalah rompi pelampung untuk keselamatan. Untuk mencegah adanya resiko dalam proses penyeberangan.
“Minimal ada jembatan. Sementara, sebelum dibangun jembatan, harus disediakan juga rompi pelampung untuk keselamatan anak-anak yang menggunakan rakit atau perahu,” tambahnya.
Warga berharap pemerintah segera merespons kondisi tersebut, agar aktivitas belajar mengajar tidak lagi dibayangi risiko keselamatan akibat keterbatasan sarana penyeberangan.
Informasi Singkat tentang Jembatan Sawang
- Jembatan rusak sejak November 2025
- Penghubung Desa Sawang–Lhok Cut, Kecamatan Sawan
- Pelajar sudah 4 bulan lebih naik perahu karet
- Arus sungai yang kadang deras mengancam keselamatan
- DPRK desak pembangunan jembatan permanen





