Bencana Banjir Situbondo: Ribuan Rumah Terendam, Dua Warga Hilang
Kabupaten Situbondo kembali dilanda musibah banjir bandang yang memprihatinkan. Luapan sungai yang terjadi di sejumlah wilayah tidak hanya merendam ribuan rumah warga, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran mendalam akibat hilangnya dua orang warga. Peristiwa tragis ini menambah daftar panjang bencana alam yang melanda daerah tersebut.
Kronologi dan Dampak Banjir
Banjir bandang ini dipicu oleh curah hujan yang sangat tinggi disertai angin kencang pada Sabtu malam. Akibatnya, Sungai Lubawang meluap dengan dahsyat, menerjang Desa Kalianget di Kecamatan Banyuglugur dan wilayah lainnya. Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, yang langsung meninjau lokasi bencana, menyatakan bahwa banjir kali ini memiliki skala yang lebih besar dibandingkan banjir yang pernah terjadi sebelumnya, yaitu pada 21 Januari lalu.
“Tadi kami juga mendapatkan laporan bahwa ada dua warga dari Desa Patemon dan Sumberanyar (Kecamatan Jatibanteng) dinyatakan hilang,” ujar Bupati Rio saat berada di Desa Kalianget, Minggu (8/3). Beliau menambahkan bahwa dampak banjir kali ini sangat parah, tidak hanya merendam permukiman penduduk, tetapi juga merusak berbagai infrastruktur vital.
“Tadi saya berjalan berkeliling banyak tembok pagar roboh, pohon-pohon tumbang, karena kemarin malam hujan deras juga disertai angin kencang,” jelasnya, menggambarkan skala kerusakan yang ditimbulkan.
Dua Warga Dilaporkan Hilang
Dua warga yang dilaporkan hilang pada Sabtu (7/3) tersebut adalah Tohari alias Pak Has (40), seorang warga Desa Patemon, dan Jaelani, warga Desa Sumberanyar, Kecamatan Jatibanteng.
Menurut Kapolsek Besuki, Agus Nurahmadi, kedua warga tersebut diduga kuat terseret arus banjir yang deras. Tohari alias Pak Has dilaporkan hilang saat sedang mencari rumput di sekitar sungai ketika air mulai meluap. “Keluarga dan warga sudah mencari sejak kemarin petang, tetapi sampai hari ini belum ditemukan,” ungkap Agus Nurahmadi.
Sementara itu, Jaelani dinyatakan hilang setelah selesai memanen jagung di kawasan dekat sungai di desanya. Diduga, ia terbawa arus sungai saat melintas di Dam Goa dalam perjalanan pulang ke rumah.
Penanganan Darurat dan Luasnya Dampak
Menghadapi situasi darurat ini, Pemerintah Kabupaten Situbondo mengambil langkah cepat dengan meningkatkan status tanggap darurat. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses penanganan pascabencana, termasuk pencarian korban hilang, evakuasi warga, serta penyaluran bantuan logistik.
Data yang dihimpun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo menunjukkan bahwa banjir luapan sungai ini berdampak pada enam kecamatan di wilayah kabupaten tersebut.
Berikut adalah rincian kecamatan dan desa yang terdampak banjir:
- Kecamatan Banyuglugur:
- Dua desa terendam, yaitu Desa Kalianget dan Desa Banyuglugur.
- Kecamatan Besuki:
- Lima desa terdampak banjir, meliputi Desa Kalianget, Besuki, Kalimas, Bloro, dan Pesisir.
- Kecamatan Jatibanteng:
- Dua desa terendam, yakni Desa Jatibanteng dan Desa Wringinanom.
- Kecamatan Mlandingan:
- Dua desa terdampak, yaitu Desa Selomukti dan Desa Sumberpinang.
- Kecamatan Bungatan:
- Satu desa terendam, yaitu Desa Bungatan.
- Kecamatan Kendit:
- Dua desa terdampak, yakni Desa Klatakan dan Desa Kendit.
Pemerintah daerah bersama tim gabungan terus berupaya melakukan pencarian terhadap kedua warga yang hilang dan memberikan bantuan kepada ribuan warga yang terdampak banjir. Kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan lebat juga menjadi perhatian serius dalam upaya penanganan bencana ini. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.




