Persija Jakarta Akui Kesalahan Strategi Usai Imbang dengan Dewa United di JIS
Pelatih Persija Jakarta, Mauricio Souza, akhirnya mengakui adanya kekeliruan dalam strategi timnya yang berkontribusi pada hasil imbang 1-1 melawan Dewa United dalam lanjutan pekan ke-25 Liga Super musim ini. Laga yang digelar di Jakarta International Stadium (JIS) pada Minggu, 15 Maret 2026, itu membuat “Macan Kemayoran” harus puas berbagi poin dengan tim tamu.
Persija sempat memimpin di pengujung babak pertama melalui gol sundulan Emaxwell Souza pada menit ke-45+4. Gol tersebut tercipta berkat kerja sama apik dengan rekan senegaranya asal Brasil, Bruno Tubarao. Emaxwell berhasil menyambut umpan silang dari Tubarao dengan sundulan yang sempat ditepis oleh kiper Dewa United, Sonny Stevens. Namun, bola pantul kembali disambar oleh Emaxwell dengan kepalanya, kali ini berhasil menaklukkan pertahanan lawan dan merobek jala gawang.
Memasuki babak kedua, performa pertahanan Persija tampak mengalami penurunan. Situasi ini dimanfaatkan oleh Dewa United yang berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-55 melalui gol Alexis Messidoro. Gol balasan ini berawal dari serangan balik cepat yang digalang oleh kapten Dewa United, Ricky Kambuaya. Kambuaya berhasil menembus lini tengah Persija dan memberikan umpan terobosan kepada Rafael Struick. Struick berhasil mengelabui dua pemain belakang Persija sebelum melepaskan tembakan. Meskipun tembakan Struick terbilang lemah dan berhasil dihalau oleh Carlos Eduardo, bola muntah langsung disambar oleh Alexis Messidoro yang berada di posisi tepat untuk menyamakan skor.
Hasil imbang ini menjadi pukulan telak bagi Persija, yang semakin menjauh dari persaingan papan atas klasemen melawan Borneo FC dan Persib Bandung.
Analisis Strategi dan Kondisi Lapangan
Awalnya, Mauricio Souza sempat melontarkan kritik terhadap kondisi rumput JIS yang dinilai tidak layak untuk sebuah pertandingan profesional. Namun, setelah melakukan evaluasi, pelatih yang pernah menukangi Madura United ini akhirnya mengakui bahwa terdapat kesalahan strategi dalam mengantisipasi serangan balik cepat yang dilancarkan oleh Dewa United, terutama di babak kedua.
“Mungkin kesalahan strategi,” ungkap Souza kepada awak media setelah pertandingan di JIS. “Dalam latihan minggu ini sebelum melawan Dewa United, saya sudah mencoba memperbaiki kesalahan-kesalahan sebelumnya dalam bertahan. Saya tidak melihat Dewa United melakukan sesuatu yang banyak untuk bisa mencetak gol ke gawang kami, akan tetapi, mereka tetap merupakan tim yang bagus.”
Analisis lebih mendalam terhadap proses gol Dewa United menunjukkan adanya kerentanan dalam barisan pertahanan Persija. Pada saat serangan balik dilancarkan, tim tuan rumah hanya menyisakan tiga pemain di lini belakang, sementara tim lawan mampu menyerang dengan empat pemain. Souza mengakui bahwa pola pertahanan timnya kurang memiliki antisipasi yang memadai terhadap kecepatan serangan balik Dewa United di babak kedua. Kesenjangan jumlah pemain antara lini pertahanan Persija dan lini serang Dewa United menjadi celah yang efektif dimanfaatkan oleh tim asuhan Jan Olde Riekerink tersebut.
Catatan Buruk di JIS dan Dampaknya
Hasil imbang kali ini menambah daftar panjang pertandingan Persija yang kurang memuaskan ketika bermain di kandang sendiri, JIS. Souza membandingkan performa timnya di JIS dengan pertandingan tandang.
“Di lapangan ini (JIS), kami gagal menang melawan Bali United, tetapi di kandang Bali United kami menang,” ujar Souza. “Kami gagal menang atas Malut United di sini, namun di markas Malut United kami menang. Sekarang, kami gagal menang melawan Dewa United di lapangan ini (JIS), di markas Dewa United sebelumnya, kami menang.”
Perbandingan ini menunjukkan adanya inkonsistensi yang signifikan dalam performa Persija antara bermain di JIS dan di markas lawan. “Kami banyak membuang poin di JIS tetapi kami bisa bicara banyak karena itu lapangan tempat kami bermain,” imbuh Souza.
Meskipun demikian, Souza enggan menjadikan kondisi lapangan sebagai satu-satunya alasan kegagalan timnya meraih poin penuh. “Namun begitu, saya tidak bisa menganalisis secara teknis untuk tim saya karena sulit bermain dengan kondisi lapangan yang buruk,” pungkasnya, menyiratkan bahwa faktor teknis dan taktis tetap menjadi fokus utama dalam evaluasi tim.




