Peluncuran Buku “Kita Belum Dewasa” Karya Sugioto
Buku Kita Belum Dewasa karya Sugioto resmi diluncurkan, Sabtu (2/5/2026). Buku ini menjadi karya ketiganya yang ditulis dengan tujuan untuk mengajak pembaca merefleksikan makna kedewasaan. Dalam buku ini, Sugioto tidak hanya menyampaikan refleksi pribadi, tetapi juga memperkenalkan konsep bahwa kedewasaan tidak diukur dari usia atau pencapaian, melainkan dari cara seseorang bersikap terhadap berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini membahas topik-topik yang dekat dengan pengalaman umum, seperti bagaimana kita bereaksi ketika tidak dipahami, menyikapi kritik, mencintai tanpa ingin menguasai, dan melepaskan tanpa harus membenci. Melalui hal-hal sederhana ini, Sugioto mengajak pembaca untuk lebih jujur pada diri sendiri dan mengevaluasi apakah mereka benar-benar bertumbuh atau hanya sekadar bertambah usia.
Peluncuran buku berlangsung di Majesty Pollside Lantai 1 Aston Pontianak Hotel & Convention Center. Acara ini dihadiri oleh banyak tokoh penting, termasuk Raja Tayan Panembahan Anom Pakunegara, Gusti Yusri S.H, Yang Xiaoqiang Direktur Confusius Institute Untan, Rektor Universitas Widya Dharma Pontianak, Dr.M. Hadi Santoso, S.E., M.M, Rektor UPB Pontianak Dr. Purwanto, S.H., M.Hum., FCB.Arb., FIIArb., CIM, perwakilan dari PGRI Pontianak, Dr. Hermansyah SH, M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, perwakilan Dinas Perpustakaan Daerah dan Kearsipan Kota Pontianak, para mahasiswa Untan, serta para Tokoh Politik dan Masyarakat.
Karya Ketiga Sugioto
Sebelumnya, Sugioto telah merilis dua buku sebelumnya. Pada tahun 2022, ia meluncurkan bukunya yang pertama berjudul Sugioto: Proses, Protes dan Sukses, sebuah biografi yang menggambarkan perjalanan hidup, perjuangan, dan kesuksesan Rico sebagai pengusaha. Kemudian pada tahun 2024, ia kembali meluncurkan buku keduanya yang berjudul Kita Di Ujung Tanduk, sebuah kumpulan opini yang membahas isu-isu genting di Indonesia, seperti politik, ekonomi, dan demokrasi.
Buku terbaru ini, Kita Belum Dewasa, merupakan hasil kerja keras Sugioto yang membutuhkan waktu empat bulan untuk diselesaikan. Ia menjelaskan bahwa buku ini bukan sekadar kumpulan renungan, tetapi undangan untuk introspeksi diri. Di dalamnya, kedewasaan didefinisikan melalui cara kita merespons luka, perbedaan, kegagalan, dan diri sendiri, bukan hanya dari usia atau status sosial.

Refleksi dan Pengakuan Diri
Dalam setiap halaman, pembaca diajak untuk berhenti sejenak dan bertanya secara jujur apakah mereka benar-benar bertumbuh atau hanya sekadar bertambah usia. Buku ini hadir di tengah dunia yang serba cepat, di mana kedewasaan sering diukur dari pencapaian, jabatan, atau usia. Namun, Sugioto menekankan bahwa kenyataannya, banyak orang masih belajar mengelola emosi, gemetar saat harus bertanggung jawab, dan sering kalah oleh ego sendiri.
Ia menyampaikan bahwa jika setelah membaca buku ini, pembaca merasa terusik, tersentuh, atau bahkan tersenyum pahit, itu adalah tanda baik. Artinya, proses pendewasaan sedang bekerja. Sebelum menjadi dewasa, kita harus berani mengakui satu hal mendasar: kita belum dewasa, dan perjalanan untuk belajar baru saja dimulai.

Tanggapan Positif dari Tamu Undangan
Dalam sesi bedah buku, banyak tamu yang hadir memberikan tanggapan positif terhadap karya Sugioto. Raja Tayan Panembahan Anom Pakunegara, Gusti Yusri S.H, menilai buku ini sangat berani. Menurutnya, buku ini membuat kita banyak belajar karena isinya menceritakan pengalaman Sugioto di berbagai bidang, mulai dari dunia usaha hingga organisasi sosial dan yayasan.
Dr. Hermansyah SH, M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, menilai buku ini sebagai tatanan moral dari Sugioto. Ia menyebut bahwa satu kata dengan satu perbuatan terlihat jelas dalam karya ini. Kadang apa yang kita tulis tidak sama dengan perbuatan, tetapi tidak dengan Sugioto. Buku ini menjadi perjalanan moral beliau yang dituangkan dalam karyanya.

Yang Xiaoqiang Direktur Confusius Institute Untan mengungkapkan kekagumannya terhadap pikiran tajam dan wawasan luas Sugioto. Menurutnya, Sugioto adalah pengusaha sukses yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga sangat memperdulikan masyarakat. Hal ini memberi kesan mendalam bagi dirinya.
Rektor UPB Pontianak Dr. Purwanto, S.H., M.Hum., FCB.Arb., FIIArb., CIM, juga menyampaikan apresiasinya. Ia mengaku bangga dengan referensi dan daftar pustaka yang digunakan dalam buku ini. Ia menilai Sugioto sebagai sosok luar biasa yang banyak mengutip tokoh-tokoh besar dalam karyanya.
Rektor Universitas Widya Dharma Pontianak, Dr.M. Hadi Santoso, S.E., M.M, menambahkan bahwa buku ini berlaku untuk semua orang. Menurutnya, judul Kita Belum Dewasa memiliki makna yang dalam, yaitu bahwa meskipun kita sudah tua, kita masih perlu mempertanyakan arti kedewasaan yang sebenarnya.




