Sunaryo Beruntung: Tiket Bus Gratis Pulang ke Pondok Gede

Program Balik Rantau Gratis 2026: Jembatan Harapan bagi Pekerja Informal dan Kelompok Rentan

Boyolali, Jawa Tengah – Suasana haru bercampur bahagia menyelimuti Asrama Haji Donohudan, Boyolali, pada Sabtu (28/3/2026). Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, secara resmi melepas keberangkatan ribuan peserta program Balik Rantau Gratis 2026 yang difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Program ini tidak hanya menyasar pekerja informal, tetapi juga memberikan perhatian khusus bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan lansia, menunjukkan kehadiran negara yang nyata bagi masyarakat.

Salah satu peserta yang merasakan langsung manfaat program ini adalah Lendra Febri Arino (37), seorang penyandang disabilitas asal Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Lendra berencana kembali ke Jakarta untuk melanjutkan profesinya sebagai pengemudi ojek daring (ojol).

“Alhamdulillah, sangat membantu. Fasilitasnya bagus, nyaman, ada snack juga. Kalau bayar sendiri mahal, bisa hemat jutaan rupiah,” ungkap Lendra dengan penuh syukur saat berada di titik pemberangkatan. Ia menambahkan bahwa harga tiket bus menjelang Lebaran bisa mencapai Rp 500 ribu per orang. Dengan empat anggota keluarga yang ikut bersamanya, program ini mampu menghemat pengeluaran hingga lebih dari Rp 3 juta untuk perjalanan mudik-balik.

Kisah serupa juga datang dari Sunaryo (49), seorang pedagang kaki lima (PKL) asal Kabupaten Sragen yang juga seorang penyandang disabilitas. Bersama keluarganya, Sunaryo memanfaatkan program ini untuk kembali ke perantauan di Pondok Gede, Jakarta.

“Alhamdulillah banget, sangat membantu. Tiket mahal, bisa sampai Rp 650 ribu per orang. Ini uangnya bisa dipakai buat Lebaran dan kebutuhan keluarga di kampung,” ujar Sunaryo, didampingi sang istri, Saryati.

Jangkauan Luas dan Tiga Titik Pemberangkatan

Pelepasan Program Balik Rantau Gratis 2026 ini tidak hanya terpusat di satu lokasi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memfasilitasi keberangkatan dari tiga titik strategis, yaitu:

  • Asrama Haji Donohudan, Boyolali
  • Terminal Mangkang, Kota Semarang
  • Terminal Bulupitu, Kabupaten Banyumas

Acara pembukaan serentak dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, di Asrama Haji Donohudan. Sementara itu, peserta di Terminal Bulupitu dan Terminal Mangkang mengikuti acara secara daring, memastikan seluruh peserta merasakan semangat kebersamaan dalam program ini.

Bukan Hanya Peserta, Tapi Juga Pendukung

Kebahagiaan program ini tidak hanya dirasakan oleh para peserta yang kembali ke perantauan, tetapi juga oleh mereka yang mengantar. Di Terminal Mangkang, Tyas, warga Simongan, Semarang Barat, terlihat sama bahagianya. Ia datang untuk mengantarkan anaknya, Aurelia, yang akan kembali merantau ke Jakarta melalui program Balik Rantau Gratis.

Tyas menceritakan bahwa anaknya sempat kesulitan mendapatkan tiket kereta api. Beruntung, ia mendapatkan informasi mengenai program mudik dan balik gratis yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Melalui program ini, anaknya dan keluarga dapat kembali ke perantauan setelah bersilaturahmi di kampung halaman saat Lebaran.

Komitmen Pemerintah: Keselamatan dan Kenyamanan Jadi Prioritas

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Tengah, Arief Djatmiko, menjelaskan bahwa total sebanyak 84 bus diberangkatkan dalam program Balik Rantau Gratis kali ini. Bus-bus tersebut melayani rute menuju Jakarta dan Bandung, membawa sekitar 4.181 warga.

“Keselamatan dan kenyamanan jadi prioritas. Difabel dan lansia kita fasilitasi khusus, bahkan ada penjemputan dari rumah,” tegas Arief Djatmiko. Fasilitas khusus ini menunjukkan komitmen Pemprov Jateng untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat terlayani dengan baik dan aman.

Program Balik Rantau Gratis: Bentuk Kehadiran Negara

Dalam sambutannya saat pelepasan di Asrama Haji Donohudan, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa program mudik dan balik gratis ini merupakan manifestasi kehadiran negara bagi masyarakat, terutama bagi kelompok pekerja informal.

“Mudik (Balik) gratis ini menjadi role model, menjadi tradisi para pekerja informal di perantauan, dengan negara hadir memberikan sumbangan meskipun kecil tapi berharga bagi mereka,” ujar Luthfi. Ia menekankan bahwa program ini bukan sekadar bantuan transportasi, melainkan bentuk perhatian dan dukungan moral dari pemerintah kepada warganya yang berjuang di tanah perantauan.

Program Balik Rantau Gratis 2026 ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi tradisi yang bermanfaat, meringankan beban biaya transportasi bagi banyak keluarga, serta mempererat tali silaturahmi antarwarga Jawa Tengah yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Pos terkait