Tangis keluarga hiasi evakuasi korban kecelakaan kereta di Bekasi Timur

Kecelakaan Kereta Api di Bekasi Timur

Kecelakaan yang melibatkan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan Commuter Line terjadi di kawasan Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Insiden ini menimbulkan korban jiwa dan luka-luka yang memerlukan penanganan medis segera.

Hingga pagi ini, sebanyak 7 orang dinyatakan meninggal dunia sementara puluhan lainnya mengalami luka dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Proses evakuasi masih berlangsung sementara 13 perjalanan kereta jarak jauh dibatalkan untuk memastikan keamanan dan kelancaran operasional.

Keluarga korban tampak hadir di Posko Pengaduan di Stasiun Bekasi Timur. Mereka datang untuk mencari informasi lebih lanjut tentang keadaan anggota keluarga mereka yang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut. Tangisan dan kesedihan terlihat dari beberapa keluarga yang hadir. Dua perempuan dan dua laki-laki terlihat menangis sambil mendapatkan pendampingan dari petugas Polwan yang berjaga.

Tim Basarnas masih melakukan proses evakuasi. Namun, mereka menghadapi kendala karena sejumlah korban terjepit di dalam gerbong kereta. Untuk mengatasi hal ini, tim Basarnas melakukan pemotongan badan kereta agar para korban dapat segera dievakuasi.

Kecelakaan ini melibatkan kereta PLB 5568A (Commuter Line relasi Cikarang) dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi di KM 28+920 wilayah Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat. Peristiwa bermula dari commuter line yang tertabrak oleh taksi listrik, kemudian ditabrak oleh rangkaian kereta jarak jauh di gerbong paling akhir.

Hingga pagi ini, sebanyak 7 orang meninggal dan 81 korban luka yang dirawat di sejumlah rumah sakit di Bekasi. Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, mengatakan hingga saat ini masih ada tiga korban yang terjepit material kereta dan menunggu proses ekstrikasi.

“Kami mengucapkan duka cita. Kondisi kecelakaan ini membutuhkan penanganan khusus karena terjadi impact yang menyebabkan lokomotif menyatu dengan satu gerbong wanita,” kata Syafii dalam konferensi pers di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026) pagi.

Ia menjelaskan proses evakuasi melibatkan personel dengan kemampuan khusus. Ekstrikasi merupakan teknik penyelamatan dengan metode cutting (pemotongan) dan lifting (pengangkatan material) untuk memisahkan tubuh korban dari jepitan logam.

Adapun seluruh korban terjepit dalam gerbong KRL adalah perempuan. “Korban dalam penanganan medis, ketika mereka merasakan sakit yang berlebihan diberikan penanganan medis, karena kaki terjepit,” imbuhnya.

Pos terkait