Proyeksi Sektor Perbankan 2026: Tantangan dan Peluang di Tengah Pemulihan Ekonomi
Tahun 2025 menjadi periode yang menantang bagi sektor perbankan, terutama akibat lesunya daya beli yang berimbas pada penyaluran kredit. Memasuki tahun 2026, lanskap perbankan diprediksi akan dipengaruhi oleh berbagai kebijakan makroekonomi. David Kurniawan, seorang analis ekuitas dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), memproyeksikan kinerja perbankan di awal tahun 2026 akan menunjukkan stabilitas relatif dengan kecenderungan membaik.
Proyeksi positif ini ditopang oleh beberapa faktor kunci:
- Pertumbuhan Kredit yang Tetap Positif: Meskipun menghadapi tantangan, sektor perbankan diperkirakan masih mampu membukukan pertumbuhan penyaluran kredit.
- Likuiditas yang Terjaga: Ketersediaan dana yang memadai di perbankan menjadi fondasi penting bagi operasional dan ekspansi.
- Potensi Penurunan Suku Bunga: Jika suku bunga acuan Bank Indonesia terus menunjukkan tren penurunan, hal ini akan sangat mendukung permintaan kredit dari masyarakat dan korporasi.
Namun, David juga menggarisbawahi adanya tantangan signifikan yang perlu diantisipasi oleh para pelaku industri perbankan:
- Tekanan Margin Keuntungan (Net Interest Margin/NIM): Penyesuaian suku bunga, baik naik maupun turun, dapat memengaruhi selisih antara pendapatan bunga dan biaya bunga, yang berujung pada tekanan terhadap NIM.
- Potensi Kenaikan Biaya Dana: Perubahan kondisi pasar dan kebijakan moneter dapat mendorong kenaikan biaya yang harus dikeluarkan bank untuk menghimpun dana dari masyarakat.
- Kualitas Aset yang Perlu Dijaga: Pemulihan ekonomi yang belum merata sepenuhnya dapat menimbulkan risiko peningkatan kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL). Oleh karena itu, manajemen risiko dan kualitas aset menjadi krusial.
“Sentimen kunci yang akan memengaruhi pergerakan sektor perbankan di tahun 2026 meliputi arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, stabilitas nilai tukar Rupiah, laju pertumbuhan kredit, serta tren Non-Performing Loan (NPL) dan Cost of Credit (CoC). Selain itu, aliran dana asing juga menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan saham-saham bank besar,” jelas David.
Perkiraan Kinerja Laba dan Pemulihan Bertahap
Para analis dari RHB Sekuritas, Andrey Wijaya dan David Chong, turut sepakat dengan pandangan mengenai prospek perbankan di tahun 2026. Setelah mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan sepanjang tahun 2025, mereka memperkirakan laba perbankan akan kembali tumbuh positif di akhir tahun 2026.
Proyeksi pemulihan laba ini didorong oleh:
- Penurunan Biaya Dana: Efisiensi dalam menghimpun dana akan berkontribusi pada peningkatan margin keuntungan.
- Ekspansi NIM yang Bertahap: Peningkatan marjin bunga bersih akan terjadi secara perlahan seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi dan kebijakan yang mendukung.
Dari sisi kinerja operasional, pemulihan bertahap mulai terlihat dari data November 2025. Pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (Pre-Provision Operating Profit/PPOP) serta laba bersih ditopang oleh kinerja bank-bank yang menunjukkan tren pemulihan (turnaround) dan saham-saham dengan pertumbuhan yang selektif.
“PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menjadi salah satu bank yang mencatat pemulihan menonjol,” ungkap Andrey dan David.
BBTN: Momentum Positif dan Pergerakan Saham
Menjelang libur panjang pekan lalu, harga saham BBTN ditutup pada level Rp 1.220. Pada Kamis (15/1), harga saham ini tercatat naik 1,67% dibandingkan sehari sebelumnya dan melonjak 5,17% dalam sepekan. Kinerja ini menandai sebuah breakout dari pola konsolidasi yang telah berlangsung selama satu bulan, menempatkan saham BBTN pada posisi tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Aktivitas transaksi saham BBTN pada pekan ini menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan pekan sebelumnya di seluruh indikator. Rata-rata volume perdagangan dan nilai transaksi bahkan meningkat di atas 100% dibandingkan dengan pekan sebelumnya.
Investor asing juga mencatat net buy sebesar Rp 27,8 miliar sepanjang pekan lalu, melanjutkan tren positif sejak awal tahun 2026. Secara akumulasi, total aliran modal investor asing atas saham BBTN mencapai Rp 51,26 miliar.
Pergerakan saham BBTN pekan ini beriringan dengan sejumlah momentum positif, antara lain:
- Rebranding e-Batarapos menjadi BTN Pos: Langkah ini bertujuan untuk memperluas basis dana murah (CASA) dengan target mencapai Rp 5 triliun dalam setahun. Strategi ini mengandalkan distribusi melalui hampir 3.000 kantor pos dan transaksi digital berbasis aplikasi Bale by BTN, yang menyasar segmen Gen Z dan wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal).
- Kepastian Subsidi Uang Muka Skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Sejahtera FLPP: Adanya kepastian subsidi dari pemerintah menjadi katalis positif bagi segmen KPR subsidi yang menjadi salah satu fokus utama BTN.
- Rekomendasi ‘Buy’ dari Sejumlah Sekuritas: Analis dari berbagai lembaga sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham BBTN, mencerminkan optimisme terhadap prospek kinerja bank ini.
Katalis positif lainnya bersumber dari penyerapan belanja perseroan. Bank yang memiliki spesialisasi di sektor properti ini berhasil menghimpun dana sebesar Rp 2,3 triliun melalui penerbitan dua obligasi pada Desember 2025. Dana bersih sebesar Rp 2,28 triliun telah terserap sepenuhnya per 31 Desember 2025.
- Alokasi Dana Obligasi:
- Rp 294,8 miliar dialokasikan untuk proyek sosial dan perumahan terjangkau.
- Rp 1,99 triliun digunakan untuk memperkuat permodalan dan mendukung ekspansi kredit perusahaan.
Analisis Teknikal: Sinyal Optimisme dari Pergerakan Harga
Selain aspek fundamental, pelaku pasar juga menyoroti sisi teknikal pergerakan harga saham BBTN. Dalam riset yang dipublikasikan pekan lalu, Galeri Saham mencermati bahwa BBTN tengah berkonsolidasi dan terus menguji level resisten terkuatnya di Rp 1.175.
- Potensi Kenaikan Harga: Jika level resisten Rp 1.175 berhasil ditembus dan bertahan di atasnya, ada potensi bagi BBTN untuk menuju target Rp 1.395, dengan target minor di Rp 1.270.
- Dominasi Pembeli: Support yang terus menunjukkan tren kenaikan mengindikasikan adanya dominasi pembeli pada saham ini.
- Sinyal Reversal: Indikator Trend Optimizer yang berubah dari merah panjang menjadi putih memberikan sinyal bahwa saham ini berada dalam fase pembalikan arah dari tren penurunan ke tren kenaikan (bottom reversal).
Dengan kombinasi faktor fundamental yang membaik dan sinyal teknikal yang positif, saham BBTN berpotensi menjadi salah satu saham perbankan yang menarik perhatian investor di tahun 2026.





