Keluhan Pemudik dan Penjelasan Rekayasa Lalu Lintas Arus Balik Lebaran
Perjalanan arus balik Lebaran di Tol Trans Jawa dilaporkan mengalami kemacetan parah oleh sejumlah pemudik. Salah satu keluhan datang dari Huda, seorang pemudik asal Demak yang menuju Ciputat, Tangerang Selatan. Ia mengungkapkan bahwa perjalanan yang seharusnya memakan waktu sekitar 7 jam membengkak drastis hingga 16 jam.
Huda menceritakan pengalamannya memulai perjalanan dari Demak pada sore hari. Ia memasuki Tol Jatingaleh, Semarang, sekitar pukul 16.30 WIB dan baru tiba di Gerbang Tol Kalikangkung pada pukul 17.00 WIB. Namun, sejak titik tersebut, lalu lintas mulai tersendat parah.
“Masuk Kalikangkung sudah mulai macet, dan macetnya itu terus terjadi sampai Cipali,” ujar Huda. Menurutnya, kemacetan kali ini merupakan yang terparah yang pernah ia alami selama rutin mudik menggunakan Tol Trans Jawa. Ia baru tiba di Cikampek Utama pada keesokan harinya, sekitar pukul 08.00 WIB, yang berarti total waktu tempuh dari Kalikangkung adalah 16 jam.
“Ini paling lama selama saya mudik lewat Trans Jawa. Biasanya enggak sampai selama ini,” keluhnya.
Selain kepadatan kendaraan, kondisi tempat istirahat (rest area) yang penuh juga memperburuk situasi. Banyak pemudik yang tidak dapat masuk ke rest area sehingga terpaksa berhenti di bahu jalan karena kelelahan.
“Rest area penuh, banyak yang ditutup. Akhirnya orang istirahat di bahu jalan karena kelelahan,” tambahnya.
Huda juga menyoroti penghentian rekayasa lalu lintas, seperti sistem satu arah (one way), yang dinilainya terlalu cepat dihentikan. Ia berpendapat bahwa arus balik belum sepenuhnya terurai ketika rekayasa tersebut diakhiri. Ia berharap pemerintah dan kepolisian dapat melakukan perhitungan yang lebih matang dalam mengelola arus mudik dan balik di masa mendatang.
“Harus diantisipasi dengan baik, jangan buru-buru menghentikan rekayasa lalu lintas kalau kondisi belum benar-benar aman,” pungkasnya.
Upaya Pengendalian Arus Balik oleh Korlantas Polri
Menanggapi keluhan tersebut, Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho menyatakan bahwa arus balik Lebaran di ruas Tol Trans Jawa hingga Jumat (27/3/2026) dilaporkan terkendali setelah penerapan rekayasa lalu lintas berupa one way presisi tahap pertama dan kedua. Kebijakan ini ditempuh guna menjaga kelancaran arus kendaraan menuju Jakarta.
Agus menjelaskan bahwa rekayasa lalu lintas dimulai sejak pagi atas arahan Kapolri bersama para pemangku kepentingan. Tahap pertama diberlakukan melalui one way lokal presisi dari KM 132 hingga KM 70. Skema ini kemudian dilanjutkan dengan one way tahap kedua dari KM 263 hingga KM 70, menyusul adanya peningkatan volume kendaraan dari Tol Trans Jawa.
“Yang tahap kedua, setelah kita analisa dengan Pak Dirut Jasa Marga, ada bangkitan arus dari Trans Jawa, kemudian kita lakukan one way tahap kedua presisi dari kilometer 263 sampai 70,” jelas Agus.
Menurut Agus, penerapan dua tahap one way tersebut memungkinkan arus kendaraan tetap dapat dikelola meskipun kepadatan tetap terasa saat memasuki kawasan Cikampek. Kondisi lalu lintas hingga siang hari masih berada dalam kendali petugas di lapangan.
Pemanfaatan Tol Fungsional Japek II Selatan
Dalam rangka memecah arus balik dari Jawa Barat menuju Jakarta, Kakorlantas Polri juga meninjau langsung pemanfaatan ruas tol fungsional Japek II Selatan bersama Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Rivan Achmad Purwantono. Jalur ini khususnya dimanfaatkan oleh kendaraan pribadi nonbus yang melintas dari Sadang hingga Setu.
“Jadi untuk kendaraan pribadi nonbus itu melalui Sadang sampai Setu,” ujar jenderal bintang dua tersebut.
Agus menambahkan bahwa titik pertemuan arus dari tol fungsional dan jalan arteri di kawasan Setu hingga kini masih terkendali. Kondisi ini dianggap penting karena Japek II Selatan menjadi salah satu jalur penyangga untuk mengurangi tekanan arus kendaraan menuju Cikampek dan Jakarta.
Kelancaran di Ruas Cipali dan Antisipasi Lonjakan
Agus juga menyampaikan bahwa kondisi lalu lintas di ruas Tol Cipali kini jauh lebih lancar dibandingkan sebelumnya. Ia menilai skema one way sepenggal presisi pada tahap pertama dan kedua sangat membantu menjaga arus balik tetap mengalir.
“Oke, update ya berkaitan dengan kondisi lalin di Cipali saat ini sudah lancar sekali, karena kita buka one way sepenggal presisi tahap pertama dan tahap kedua,” jelasnya.
Lebih lanjut, Agus menyatakan bahwa pemantauan melalui CCTV bersama Jasa Marga menunjukkan arus balik pada hari itu masih cukup terkendali. Aparat kepolisian akan kembali mengevaluasi situasi pada Sabtu (28/3/2026), termasuk kemungkinan memperpanjang skema one way hingga KM 414, bergantung pada hasil penghitungan volume kendaraan (traffic counting).
Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan pada sore hingga malam hari, Korlantas juga memberlakukan contraflow dari KM 70 hingga KM 55. Skema ini disiapkan untuk merespons peningkatan volume kendaraan dari Trans Jawa yang diperkirakan terjadi pada sore hingga dini hari.
“Contraflow dari kilometer 70 sampai ke 55 sudah kita berlakukan, karena bangkitan arus dari pagi hingga siang dan sebagai antisipasi nanti sore,” kata Agus.
Jika volume kendaraan di sekitar KM 70 terus meningkat, Korlantas bersama Jasa Marga akan mengevaluasi kemungkinan penambahan contraflow di lajur kedua. Langkah ini diambil agar arus balik ke arah Jakarta tidak tertahan di titik rawan kepadatan.
Kontribusi Tol Fungsional Japek II Selatan
Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero), Rivan Achmad Purwantono, mengemukakan bahwa keberadaan Japek II Selatan memberikan kontribusi penting dalam mengurai beban arus balik menuju KM 66. Berdasarkan catatan Jasa Marga, jalur fungsional ini telah digunakan oleh hampir 49.000 kendaraan selama periode arus balik.
“Alhamdulillah dalam penggunaannya sudah mencapai hampir 49.000,” ujar Rivan.
Ia merinci bahwa rata-rata kendaraan yang melintas berada di kisaran 6.000 unit per hari. Pada H+3 Lebaran, volumenya sempat melonjak hingga sekitar 16.000 kendaraan, menandakan bahwa jalur tersebut mulai menjadi pilihan utama pemudik menuju Jabodetabek.
Rivan menjelaskan bahwa akses keluar Japek II Selatan dirancang untuk mempercepat distribusi kendaraan. Dari ujung ramp, pengendara dapat langsung menuju gerbang tol yang terhubung ke JORR 2 dan memilih arah perjalanan ke Cimanggis maupun Bekasi.
Ia juga menyoroti fenomena kendaraan yang sempat berhenti di bahu jalan pada malam sebelumnya. Menurutnya, kepadatan tersebut dipicu oleh keterbatasan daya tampung sejumlah rest area, terutama di KM 164 dan KM 130 yang berstatus tipe B.
“Rest area terutama di KM 164 dan KM 130 adalah tipe B, sehingga daya tampungnya terbatas,” jelas Rivan.
Ia menambahkan bahwa koordinasi dengan operator jalan tol terus dilakukan untuk mengurai hambatan di sekitar rest area. Rekayasa lalu lintas seperti contraflow di KM 169 hingga KM 162 serta penambahan skema one way dinilai mempercepat pemulihan arus kendaraan.
Secara umum, kombinasi rekayasa one way, contraflow, dan pemanfaatan Tol Fungsional Japek II Selatan membuat arus balik hingga Jumat petang masih dapat dikelola. Korlantas Polri dan Jasa Marga akan terus memantau volume kendaraan untuk menentukan langkah lanjutan dalam menghadapi puncak arus balik berikutnya.




