Pemberdayaan Ekonomi Lokal Melalui Komunitas Driver Berbasis Adat di Nusa Dua
DENPASAR – Sebuah inisiatif inovatif dalam pengelolaan transportasi pariwisata mulai mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah Bali. Gubernur Bali, Wayan Koster, secara tegas menyatakan dukungannya terhadap keberadaan komunitas pengemudi yang berbasis pada krama desa adat di kawasan pariwisata Nusa Dua. Model pengelolaan transportasi yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat adat ini dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan di Pulau Dewata, khususnya di wilayah yang menjadi denyut nadi pariwisata.
Gubernur Koster menyampaikan apresiasinya saat menerima audiensi dari komunitas pengemudi taksi daring yang tergabung dalam Taruna Nusa Dua Citraloka (TNDC) di Jayasabha, Denpasar. Beliau menekankan bahwa pengelolaan layanan transportasi oleh desa adat dan krama desa secara langsung di wilayah mereka sendiri merupakan sebuah kemajuan yang patut didukung.
“Ini adalah langkah yang sangat positif. Jika desa adat dan warganya sendiri yang mengelola layanan di kawasan mereka, saya tentu memberikan dukungan penuh,” ujar Gubernur Koster.
Dukungan Penuh untuk Legalitas dan Peningkatan Kualitas Layanan
Lebih lanjut, Gubernur Koster juga memberikan instruksi kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Bali untuk segera memproses perizinan bagi para pengemudi TNDC yang belum melengkapi legalitas operasional mereka. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa seluruh operasional berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku, sekaligus memberikan kepastian hukum bagi para pengemudi.
Menurut pandangan Gubernur Koster, kehadiran TNDC tidak hanya membuka pintu peluang ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas layanan yang diberikan kepada para wisatawan. Keberadaan pengemudi yang memiliki kemampuan berbahasa asing, seperti Bahasa Inggris, menjadi nilai tambah yang sangat dihargai oleh wisatawan mancanegara.
“Ini adalah bentuk ekonomi kerakyatan yang nyata, memberdayakan masyarakat lokal di Nusa Dua. Terlebih lagi, banyak dari para pengemudi ini yang fasih berbahasa Inggris, yang merupakan aset berharga dalam melayani tamu internasional,” ungkapnya.
Mendorong Model Pemberdayaan ke Destinasi Lain
Tak berhenti di Nusa Dua, Gubernur Koster juga mendorong agar pola pemberdayaan ekonomi melalui komunitas driver berbasis adat ini dapat direplikasi di destinasi-destinasi wisata unggulan lainnya di Bali. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Jika pola ini bisa diadopsi di desa-desa lain yang juga merupakan tujuan wisata penting seperti Ubud dan Sanur, ini akan menjadi sebuah terobosan luar biasa untuk pemerataan ekonomi di Bali,” kata Gubernur Koster. Beliau meyakini bahwa dengan melibatkan masyarakat lokal secara langsung, dampak positif pariwisata akan lebih terasa hingga ke tingkat akar rumput.
Pesan Persatuan dan Etika Pelayanan
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Koster juga menyampaikan pesan penting kepada seluruh anggota TNDC. Beliau berpesan agar senantiasa menjaga persatuan dan kerukunan di antara sesama pengemudi. Selain itu, menjunjung tinggi etika dan sopan santun dalam setiap interaksi melayani wisatawan adalah sebuah keharusan.
“Saya ingatkan, selalu jaga persatuan dan kerukunan di antara sesama saudara pengemudi. Hindari perselisihan. Utamakan kesopanan dan etika yang baik dalam menjalankan tugas pelayanan,” imbuhnya, menekankan pentingnya profesionalisme dan sikap yang baik.
Profil Taruna Nusa Dua Citraloka (TNDC)
I Made Arta, selaku Ketua Taruna Nusa Dua Driver Online, menjelaskan lebih lanjut mengenai profil komunitasnya. TNDC merupakan sebuah wadah yang didirikan dengan semangat pemberdayaan masyarakat adat di kawasan Nusa Dua. Komunitas ini secara resmi telah menaungi sekitar 516 pengemudi yang telah aktif beroperasi sejak tahun 2019.
Menurut I Made Arta, pembentukan TNDC didasari oleh sinergi yang kuat dengan pemerintah daerah serta didukung oleh kelengkapan legalitas dan pengelolaan melalui wadah koperasi. Sistem operasional yang diterapkan oleh TNDC juga sangat mengedepankan kearifan lokal yang ada di Nusa Dua.
“Komunitas kami memang berbasis pada krama adat di Nusa Dua. Aturan kami adalah bahwa hanya krama adat setempat yang berhak mengambil penumpang di kawasan ini. Kami juga selalu berusaha menjaga hubungan baik dan tidak memiliki konflik dengan pengemudi konvensional,” jelas I Made Arta.
Ia menambahkan bahwa para pengemudi TNDC memiliki komitmen yang tinggi untuk menjalankan arahan dari pemerintah daerah. Hal ini dilakukan dengan tetap memegang teguh nilai-nilai budaya Bali serta mengaplikasikan prinsip Tri Hita Karana dalam setiap aktivitas sehari-hari.
“Kami selalu berusaha menjaga etika pelayanan. Mulai dari berpakaian rapi, hingga pada hari-hari tertentu kami juga bangga mengenakan pakaian adat Bali sebagai wujud penghormatan terhadap budaya kami,” tutur I Made Arta, menutup penjelasannya. Keberadaan TNDC menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata dapat dikelola secara berkelanjutan dengan memberdayakan masyarakat lokal dan tetap menjaga keharmonisan budaya.




