Pembawa acara Grammy Awards 2026, Trevor Noah, mendapatkan kritik tajam dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pemimpin negara itu mengancam akan menuntut Noah karena menyampaikan lelucon yang dianggapnya tidak benar selama acara tersebut berlangsung. Lelucon tersebut terjadi tepat setelah Billie Eilish dan Finneas O’Connell memenangkan penghargaan Song of the Year. Noah mengkritik Trump dengan menyentuh topik Jeffrey Epstein, seorang pebisnis yang meninggal dalam penjara pada 2019.
Noah menyatakan bahwa penghargaan Song of the Year sangat diinginkan oleh para seniman, dan hal ini hampir sama pentingnya dengan keinginan Trump untuk memiliki pulau baru. “Ini masuk akal karena pulau Epstein telah hilang. Dia (Trump) membutuhkan pulau baru untuk nongkrong dengan Bill Clinton,” ujarnya. Penyataan ini kemudian menjadi bahan perdebatan dan membuat Trump merasa dikhianati.
Tanggapan Trump
Presiden Trump merespons dengan mengunggah pernyataannya di platform Truth Social. Ia mengecam acara Grammy sebagai “upacara musik sampah” dan “hampir tidak bisa ditonton”. Ia juga menyangkal pernyataan Noah yang menyebut bahwa dirinya pernah bersama Bill Clinton di Pulau Epstein. “SALAH! Noah secara salah mengatakan bahwa saya dan Bill Clinton pernah menghabiskan waktu di Pulau Epstein,” tulis Trump. Ia menegaskan bahwa ia tidak pernah dituduh melakukan apa pun terkait pulau Epstein dan menantang Noah untuk memperbaiki fakta-faktanya.
Trump juga mengancam akan mengirim pengacaranya untuk menuntut Noah. Ia menyebut pembawa acara tersebut sebagai “malang, menyedihkan, tidak berbakat, dan bodoh”. Selain itu, Trump juga menyentuh isu sebelumnya tentang kasus pencemaran nama baik bernilai jutaan dolar yang melibatkan CBS News. “Bersiaplah Noah, aku akan bersenang-senang denganmu!” tulisnya.
Panggung Politik Itu Bernama Grammy Awards
The New York Times mencatat bahwa Grammy sering kali menyelenggarakan segmen politik atau sosial dalam acaranya. Contohnya adalah ketika Hillary Clinton membacakan kutipan dari buku Fire and Fury yang mengandung informasi tentang Trump pada 2018. Tahun ini, beberapa seniman seperti Billie Eilish, Olivia Dean, dan Bad Bunny menyampaikan pesan anti-imigran yang dianggap mengkritik pemerintahan Trump.
Selain itu, Grammy juga pernah menjadi tempat untuk menikahkan 34 pasangan sesama jenis pada 2014, sebelum Mahkamah Agung AS mewajibkan semua negara bagian mengakui pernikahan tersebut. Dalam acara tahun ini, para seniman turut menyampaikan pesan-pesan politik melalui pidato mereka. Hal ini menarik perhatian Larry Miller, Direktur Eksekutif Sony Audio Institute for Music Business and Technology New York University. Ia menyatakan bahwa penyelenggara Grammy tidak sepenuhnya bersalah karena memberi ruang bagi seniman untuk berekspresi.
Menurut Miller, seniman-seniman tersebut hanya fokus pada satu isu utama, yaitu imigrasi. Ia menjelaskan bahwa respons dari pemerintah terhadap isu tersebut menjadi dasar dari pendapat mereka. Oleh karena itu, Recording Academy sebagai penyelenggara Grammy tidak bertanggung jawab atas pendapat yang disampaikan oleh para seniman.




