Trump: Pemimpin Iran Baru Takkan Bertahan Tanpa Restu AS

Pengganti Pemimpin Tertinggi Iran: Ancaman Trump dan Peringatan Israel

Kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dilaporkan akibat serangan udara pekan lalu, telah memicu spekulasi dan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Badan ulama Iran yang bertugas memilih penggantinya dilaporkan telah melakukan pemungutan suara dan diperkirakan akan segera mengumumkan nama pemimpin baru. Situasi ini semakin memanas dengan pernyataan tegas dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan ancaman dari militer Israel.

Trump: Pengganti Khamenei Harus Dapat Restu AS

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara blak-blakan menyatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya tidak akan memiliki masa jabatan yang panjang jika Teheran tidak terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa badan ulama Iran telah melakukan pemungutan suara untuk memilih penerus Ali Khamenei.

“Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” tegas Trump dalam sebuah wawancara. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Amerika Serikat akan memainkan peran penting dalam menentukan arah politik Iran pasca-Khamenei, bahkan mungkin dengan memaksakan kehendak mereka terhadap proses pemilihan internal Iran.

Israel Ancam Targetkan Siapapun yang Terlibat

Sementara itu, Israel tidak tinggal diam. Militer Israel mengeluarkan peringatan keras melalui unggahan media sosial berbahasa Persia di platform X, mengancam akan menargetkan siapa pun yang terlibat dalam proses penunjukan pengganti Ali Khamenei. Peringatan ini disampaikan ketika badan ulama yang memilih pemimpin baru Iran dilaporkan telah mencapai keputusan pada hari Minggu.

“Kami memperingatkan semua pihak yang berniat berpartisipasi dalam pertemuan pemilihan pengganti bahwa kami tidak akan ragu untuk menargetkan Anda. Ini adalah peringatan!” tulis Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dalam unggahan tersebut. Ancaman ini menunjukkan kesiapan Israel untuk mengambil tindakan militer guna mencegah atau mengganggu penunjukan pemimpin baru Iran, terutama jika sosok tersebut dianggap sebagai ancaman bagi keamanan Israel.

Laporan: Putra Khamenei Terpilih?

Berdasarkan laporan terbaru per Maret 2026, Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, disebut-sebut telah terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Jika laporan ini benar, maka transisi kekuasaan di Iran akan tetap berada dalam lingkar keluarga Khamenei, sebuah skenario yang mungkin telah dipersiapkan sejak lama. Namun, pengumuman resmi dari Majelis Pakar Iran masih dinantikan.

Khamenei Tewas dalam Serangan Udara: Kronologi dan Dampak

Kematian Ali Khamenei dilaporkan terjadi pekan lalu setelah Amerika Serikat dan Israel menargetkan kompleks kediamannya di Teheran dalam serangan bom. Kejadian ini mengakhiri kekuasaan Khamenei yang telah berlangsung selama hampir 37 tahun sebagai pemimpin tertinggi Iran, sebuah posisi yang memberinya otoritas spiritual dan politik tertinggi di negara tersebut.

Israel membenarkan serangan tersebut sebagai langkah pencegahan untuk melindungi diri dari ancaman yang dianggapnya terus menerus datang dari Iran. Sementara itu, Donald Trump menyatakan bahwa tujuan utama dari operasi militer ini adalah untuk memaksa para pemimpin Republik Islam Iran melakukan “penyerahan tanpa syarat”. Pernyataan ini menggarisbawahi tingkat permusuhan yang tinggi antara Amerika Serikat dan Iran.

Meskipun berada di tengah ketegangan dan konflik, Iran menunjukkan ketahanan dengan tetap melanjutkan proses penunjukan pengganti Khamenei. Kantor berita Mehr melaporkan bahwa Majelis Pakar Iran—lembaga ulama yang berwenang memilih pemimpin tertinggi—telah mencapai keputusan, meskipun nama pemimpin baru belum diumumkan secara resmi.

“Pemungutan suara untuk menunjuk ketua telah berlangsung dan ketua telah terpilih,” kata anggota Majelis Pakar, Ahmad Alamolhoda, seperti dikutip Mehr. Ia menambahkan bahwa sekretariat majelis akan segera mengumumkan nama tersebut. Pengumuman itu dijadwalkan disampaikan oleh Hashem Hosseini Bushehri selaku kepala sekretariat Majelis Pakar.

Eskalasi Perang di Kawasan Teluk Persia

Pemungutan suara untuk memilih pemimpin baru Iran ini berlangsung di tengah eskalasi perang yang semakin meluas ke kawasan Teluk Persia. Iran dilaporkan telah melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal terhadap pangkalan militer AS dan Israel di berbagai wilayah Timur Tengah.

Pada hari Minggu, Iran juga dilaporkan menyerang tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait serta merusak fasilitas desalinasi di Bahrain. Tindakan ini secara langsung berdampak pada negara-negara tetangga di kawasan tersebut.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sebelumnya sempat menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan yang dilakukan di wilayah yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Namun, beberapa jam kemudian, pejabat tinggi peradilan Iran menegaskan bahwa serangan terhadap negara-negara Teluk yang dianggap berada di bawah pengaruh musuh akan terus berlanjut.

Wilayah-wilayah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait dilaporkan menjadi target serangan tersebut, menunjukkan perluasan konflik yang signifikan.

Di sisi lain, serangan udara intensif dari Amerika Serikat dan Israel juga dilaporkan menghantam sejumlah depot minyak di Iran. Hal ini menunjukkan adanya siklus serangan balasan yang terus berlanjut antara pihak-pihak yang bertikai.

Militer Israel juga memperingatkan warga di Lebanon selatan untuk mengungsi ke wilayah utara karena operasi militer yang sedang dilakukan terhadap kelompok Hizbullah. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya pertempuran darat yang akan segera terjadi di perbatasan utara Israel.

Melalui platform Truth Social, Donald Trump mengklaim bahwa permintaan maaf Presiden Iran merupakan hasil tekanan Amerika Serikat dan menegaskan bahwa “Iran akan dihantam sangat keras.” Pernyataan ini kemudian dibalas oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

“Jika Tuan Trump menginginkan eskalasi, justru itulah yang telah lama dipersiapkan oleh angkatan bersenjata kami yang kuat, dan itulah yang akan dia dapatkan,” ujar Araghchi dalam pernyataan yang diunggah di X. Pernyataan ini menunjukkan kesiapan Iran untuk menghadapi eskalasi lebih lanjut dan kemungkinan perang terbuka jika diperlukan.

Pos terkait