Kebakaran Rumah Kebun di Banggai Renggut Nyawa Lansia, Kerugian Capai Jutaan Rupiah
Banggai, Sulawesi Tengah – Sebuah tragedi kebakaran menggemparkan Desa Lonas, Kecamatan Mantoh, Kabupaten Banggai, pada Sabtu malam, 7 Maret 2026. Si jago merah melahap habis rumah kebun milik seorang lansia bernama Herina Marela (69), yang juga merenggut nyawanya. Peristiwa nahas ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga kerugian material yang diperkirakan mencapai Rp10 juta.
Desa Lonas, lokasi kejadian, terletak sekitar 100 kilometer dari pusat kota Luwuk dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 2,5 jam perjalanan darat. Jarak yang cukup jauh ini turut menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanganan awal saat kebakaran terjadi.
Menurut keterangan dari pihak kepolisian, insiden kebakaran ini pertama kali diketahui oleh warga sekitar pada pukul 22.00 Waktu Indonesia Tengah. Saat kejadian, korban Herina Marela dilaporkan tengah beristirahat di kamarnya bersama dengan saksi lainnya. Tiba-tiba, api dengan cepat membesar dan menjalar, menciptakan kepanikan di antara penghuni rumah dan warga sekitar.
Meskipun warga segera berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya yang tersedia di lingkungan sekitar, kecepatan menjalar api membuat upaya pemadaman menjadi sangat sulit. Api yang terus membesar mengancam untuk melahap seluruh bangunan rumah kebun tersebut.
Upaya Pemadaman dan Evakuasi Korban
Setelah api berhasil dikendalikan oleh warga dengan bantuan petugas pemadam kebakaran yang tiba di lokasi, korban Herina Marela segera dievakuasi. Lansia tersebut kemudian dibawa ke kediaman kerabat terdekat untuk mendapatkan pertolongan dan perlindungan lebih lanjut. Namun, sayangnya, upaya penyelamatan tersebut tidak mampu menyelamatkan nyawa korban yang sudah terlalu parah terdampak oleh kobaran api.
Pihak kepolisian dari Polsek Lamala, di bawah pimpinan IPDA Muh Syandy Al Amin, langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk menyelidiki penyebab pasti kebakaran. Berdasarkan temuan awal di lapangan, polisi menduga kuat bahwa sumber api berasal dari tungku yang digunakan untuk memasak.
Dugaan Penyebab Kebakaran
Indikasi awal menunjukkan bahwa tungku tersebut, yang kemungkinan besar terbuat dari bahan mudah terbakar seperti kayu atau bambu, tidak sepenuhnya padam setelah digunakan. Sisa bara api yang masih menyala kemudian diduga membakar material kayu di sekitarnya. Api yang terus membesar ini kemudian menjalar dengan cepat ke bagian lain dari rumah kebun yang sebagian besar juga terbuat dari material kayu.
Dugaan ini diperkuat oleh keterangan para saksi yang melihat api pertama kali berasal dari area dapur atau tempat tungku berada. Kelalaian dalam memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan tungku dianggap sebagai faktor utama yang memicu tragedi ini.
Dampak dan Kerugian Material
Selain merenggut nyawa, kebakaran ini juga menimbulkan kerugian material yang signifikan bagi keluarga korban. Seluruh bangunan rumah kebun, beserta isinya, ludes terbakar. Kerugian diperkirakan mencapai Rp10 juta, yang mencakup nilai bangunan, perabotan rumah tangga, dan barang-barang berharga lainnya yang tidak sempat diselamatkan.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat, terutama yang menggunakan tungku tradisional untuk memasak, untuk selalu berhati-hati dan memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan area memasak. Keselamatan diri dan harta benda harus selalu menjadi prioritas utama untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Pihak berwenang terus mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi bahaya kebakaran, terutama di musim kemarau atau saat menggunakan sumber api terbuka.




