Wah! Guru MTs di Depok Diduga Penyebar HIV Sejak 2014



jabar.

DEPOK – Seorang guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kecamatan Saawangan, Kota Depok dengan inisial IK (35) viral setelah dugaan menawarkan layanan seksual berupa jasa kulum. Tidak hanya itu, diketahui bahwa pelaku juga mengidap HIV.

Aksi yang dilakukan oleh oknum guru tersebut dilakukan dengan menyebarkan brosur tarif layanan yang ia tawarkan di wilayah Pamulang, Tangerang Selatan, pada malam hari tanggal 26 Maret.

Menurut perwakilan yayasan, Jarkasih, hingga saat ini belum ada laporan dari siswa yang menjadi korban aksi tersebut.

“Sampai detik ini tidak ada. Alhamdulillah,” ujarnya.

Jarkasih menjelaskan bahwa pihak yayasan telah melakukan interogasi langsung terhadap pelaku.

“Saat saya konfirmasi ulang kepada beliau apakah betul beliau sebagai pelakunya atau memang sesuai dengan beritanya. Beliau menjawab, beliau jujur dengan kami semuanya, beliau kooperatif yang luar biasa bahwa betul dia tahun 2014 sudah melakukan hal seperti itu,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa pelaku mengakui bahwa dirinya sudah mengidap penyakit HIV sejak tahun 2014.

“Betul dia 2014 sudah mengidap penyakit HIV gitu,” tambahnya.

Selain itu, Jarkasih juga menjelaskan bahwa pelaku mengakui bahwa ia tidak pernah memberikan layanan tersebut kepada para siswa di sekolah.

“Dia bilang, ‘Demi Allah demi Rasul Pak saya tidak berani untuk melakukan hal itu kepada siswa-siswi, toh saya juga kan ngajar di sini, mana mungkin,’ gitu,” tegasnya.

Beberapa poin penting terkait kasus ini adalah:

  • Aksi Terlarang: Oknum guru MTs diduga menawarkan layanan seksual melalui brosur yang disebar di wilayah tertentu.
  • Status Kesehatan: Pelaku diketahui mengidap HIV sejak tahun 2014.
  • Tidak Ada Korban Siswa: Hingga saat ini, tidak ada siswa yang dilaporkan menjadi korban dari aksi tersebut.
  • Kooperatif dan Jujur: Pelaku mengakui kebenaran perbuatannya dan bersikap kooperatif selama proses investigasi.
  • Pernyataan Pelaku: Pelaku menyatakan bahwa ia tidak pernah melakukan aksi tersebut kepada siswanya.

Peristiwa ini menimbulkan banyak pertanyaan tentang bagaimana seorang guru bisa melakukan tindakan yang sangat tidak etis dan merugikan citra pendidikan. Selain itu, adanya indikasi bahwa pelaku mengidap HIV memicu kekhawatiran terkait kesehatan dan keselamatan publik.

Meski demikian, pihak yayasan tetap optimis bahwa situasi dapat dikelola dengan baik. Dengan adanya penjelasan dari pelaku dan hasil investigasi yang dilakukan, diharapkan tidak ada dampak negatif yang lebih besar terhadap lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.

Pos terkait