Waspada Lebaran: DPRD Kutim Ingatkan Risiko Buaya dan Sampah Plastik di Wisata

Antisipasi Ancaman Satwa Liar dan Peningkatan Kesadaran Lingkungan di Destinasi Wisata Kutai Timur Pasca-Lebaran

SANGATTA – Momen libur Hari Raya Idulfitri tahun ini telah menyaksikan lonjakan pengunjung yang signifikan di berbagai objek wisata yang tersebar di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Peningkatan aktivitas pariwisata ini, meskipun membawa angin segar bagi perekonomian lokal, juga menimbulkan perhatian khusus dari berbagai pihak, termasuk Ketua DPRD Kutim, Jimmi. Ia secara khusus menyoroti pentingnya menjaga keamanan dan kenyamanan para wisatawan yang memadati destinasi-destinasi tersebut.

Salah satu fokus utama yang diangkat oleh Jimmi adalah potensi risiko keselamatan yang mungkin timbul akibat antusiasme masyarakat, terutama terkait dengan keberadaan satwa liar yang mendiami ekosistem air di beberapa area wisata primadona Kutai Timur. Mengingat kondisi geografis Kutai Timur yang kaya akan sumber daya air dan keberagaman hayati, munculnya predator seperti buaya menjadi salah satu kekhawatiran terbesar yang perlu diantisipasi.

Jimmi menyayangkan bahwa hingga saat ini, belum ada sistem pengawasan resmi yang terstruktur dari pemerintah daerah yang secara spesifik difokuskan untuk mitigasi ancaman binatang buas di lokasi-lokasi wisata. Penjagaan yang ada saat ini sebagian besar masih mengandalkan upaya dari pihak keamanan setempat yang beroperasi di masing-masing posko.

“Kami sangat berharap tidak terjadi musibah yang melibatkan satwa liar seperti buaya. Kekhawatiran ini muncul karena pengawasan terhadap satwa tersebut cukup kompleks, sementara dari sisi pemerintah, belum ada langkah pengawasan khusus yang dikelola secara resmi di wilayah-wilayah wisata tersebut,” ujar Jimmi pada hari Senin (23/3/2026).

Ia menambahkan, meskipun personel dari Angkatan Laut telah ditempatkan dan bersiaga di beberapa titik posko penjagaan, fungsi utama mereka bukanlah sebagai pengawas satwa liar. Peran mereka lebih terfokus pada pengamanan wilayah secara umum dan memastikan ketertiban di kawasan wisata.

Oleh karena itu, Jimmi secara tegas mengimbau seluruh masyarakat, baik pengunjung maupun pengelola posko wisata, untuk secara mandiri meningkatkan tingkat kewaspadaan. Ia menekankan agar para pengunjung tidak melakukan tindakan-tindakan berisiko yang dapat membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain, termasuk aktivitas yang dilakukan semata-mata demi konten media sosial atau hiburan sesaat.

“Hal ini harus menjadi perhatian dan penghargaan kita bersama. Jangan sampai kita mempersulit tugas para petugas dengan tindakan yang justru membahayakan keselamatan kita sendiri,” tegasnya.

Ancaman Sampah Plastik: Tantangan Lingkungan Pasca-Liburan

Selain isu keamanan yang berkaitan dengan satwa liar, Jimmi juga mengangkat persoalan lingkungan yang selalu menjadi momok setiap kali musim liburan tiba, yaitu peningkatan volume sampah plastik. Sisa-sisa bungkus makanan, botol minuman, dan berbagai jenis sampah plastik lainnya seringkali berserakan di kawasan wisata, tidak hanya merusak keindahan alam tetapi juga mengurangi kenyamanan para pengunjung lainnya.

Sebagai politisi yang mewakili Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Jimmi mendorong agar gerakan pengelolaan sampah plastik yang lebih masif dan terarah dapat diimplementasikan. Gerakan ini diharapkan tidak hanya berfokus pada pembersihan, tetapi juga pada upaya pengelolaan sampah plastik agar memiliki nilai ekonomis.

Ia bahkan menyinggung potensi pemanfaatan limbah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM), sebuah konsep yang belakangan ini banyak diperbincangkan dan menarik perhatian di berbagai platform media sosial.

“Kami berharap dengan adanya informasi mengenai potensi pemanfaatan plastik menjadi bahan bakar, hal ini dapat segera diwujudkan. Jika upaya ini dilakukan secara masif dan terorganisir, saya yakin persoalan sampah plastik di kawasan wisata kita bisa berkurang secara signifikan,” pungkasnya.

Lonjakan kunjungan wisatawan saat momentum libur Lebaran merupakan sebuah kesempatan emas bagi daerah untuk melakukan evaluasi dan peningkatan kualitas pengelolaan destinasi wisata. Namun, di balik potensi ekonomi yang besar yang ditawarkan oleh sektor pariwisata, faktor keselamatan pengunjung dan kebersihan lingkungan harus tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh terabaikan.

DPRD Kutai Timur berharap agar seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, para pengelola objek wisata, hingga masyarakat luas, dapat berperan aktif dan sinergis dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga aman, nyaman, dan berkelanjutan. Dengan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi risiko satwa liar dan kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian lingkungan, diharapkan setiap momen liburan di Kutai Timur dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus aman bagi seluruh pengunjung.

Pos terkait