WHO: Kematian Ebola Bundibugyo Capai 50 Persen, Wabah Masih Mengerikan

Tingkat Kematian Ebola Galur Bundibugyo Mengkhawatirkan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa tingkat kematian akibat virus Ebola galur Bundibugyo yang saat ini mewabah bisa mencapai 50 persen. Artinya, lima dari setiap 10 pasien yang terinfeksi berpotensi meninggal dunia. Angka ini menunjukkan tingkat keparahan wabah yang sangat mengkhawatirkan.

Pejabat teknis Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Anais Legand, menjelaskan bahwa berdasarkan pengalaman wabah sebelumnya, tingkat fatalitas kasus terkonfirmasi berada di kisaran 30 hingga 50 persen. “Angka ini sangat tinggi. Artinya, hingga lima dari setiap 10 orang kemungkinan akan meninggal,” ujar Legand dalam pengarahan di Jenewa, Jumat (29/5).

Upaya Penanganan Wabah dan Pengembangan Vaksin

WHO juga mengumumkan perkembangan terbaru terkait upaya penanganan wabah. Pada Kamis (28/5), badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut menerbitkan rekomendasi perawatan suportif bagi pasien Ebola serta memaparkan perkembangan kandidat vaksin yang tengah dikembangkan.

Salah satu kandidat vaksin yang dinilai paling menjanjikan adalah vaksin rekombinan dosis tunggal rVSV Bundibugyo yang dikembangkan oleh International AIDS Vaccine Initiative (IAVI). Menurut WHO, vaksin tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga sembilan bulan sebelum dapat digunakan secara lebih luas.

Selain itu, kandidat vaksin lain bernama ChAdOx1 Bundibugyo juga tengah dikembangkan oleh Universitas Oxford bersama Serum Institute of India. WHO memperkirakan vaksin ini dapat tersedia dalam waktu dua hingga tiga bulan untuk dievaluasi efektivitasnya melalui uji klinis.

Situasi Wabah di Republik Demokratik Kongo

Meski demikian, WHO menilai masih terlalu dini untuk memastikan apakah wabah Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo (RDK) telah melewati puncak penyebarannya. “Hingga 28 Mei tercatat 125 kasus terkonfirmasi, termasuk 17 kematian, yang tersebar di 13 zona kesehatan,” kata Legand.

WHO memperkirakan jumlah kasus baru masih berpotensi meningkat seiring dengan perluasan pengujian terhadap masyarakat di wilayah terdampak. Meski status wabah telah ditetapkan sebagai keadaan darurat yang berisiko menyebar ke negara lain, WHO belum merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan dengan Republik Demokratik Kongo dan Uganda.

Namun demikian, kedua negara tetap diwajibkan melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap seluruh pelaku perjalanan yang akan berangkat guna mencegah penyebaran lintas negara.

Peringatan Global dan Tindakan Antisipatif

Di tengah kekhawatiran global, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni meminta Uni Eropa meningkatkan koordinasi pengawasan perbatasan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi penyebaran Ebola dari Afrika.

Data WHO menunjukkan hingga saat ini terdapat 906 kasus suspek Ebola dengan total 223 kematian. Wabah Ebola sebelumnya di Republik Demokratik Kongo diketahui baru berakhir pada Oktober 2025.

Langkah-Langkah WHO dalam Menghadapi Wabah

WHO terus memantau perkembangan situasi dan mempercepat upaya penelitian vaksin guna menekan angka kematian serta mencegah penyebaran wabah yang lebih luas. Dengan adanya berbagai kandidat vaksin yang sedang dikembangkan, harapan besar ditempatkan pada pengembangan vaksin yang efektif dan aman.

Pengembangan vaksin tidak hanya menjadi prioritas utama, tetapi juga penting untuk membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh dan siap menghadapi ancaman wabah seperti Ebola. Selain itu, komunikasi yang transparan dan kolaborasi antar negara menjadi kunci dalam mengatasi wabah yang menyebar secara global.

Dengan terus memantau situasi dan mempercepat inovasi medis, WHO berharap dapat mengurangi dampak wabah dan melindungi kesehatan masyarakat di seluruh dunia.

Pos terkait