3 Fakta Terkini Perdamaian Iran-Amerika, Selat Hormuz Jadi Sorotan

Iran dan AS Berupaya Mencapai Kesepakatan Damai

Iran sedang menyusun kerangka kerja berisi 14 poin sebagai dasar kesepakatan damai dengan Amerika Serikat. Tujuan dari kerangka kerja ini adalah untuk mencapai kesepakatan dalam jangka waktu 30 hingga 60 hari. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, yang menegaskan bahwa rancangan ini merupakan nota kesepahaman awal yang diharapkan selesai dalam waktu singkat.

Meskipun terdapat beberapa kesamaan pandangan antara kedua belah pihak, Baqaei menekankan bahwa masih ada perbedaan penting yang harus diselesaikan. Ia menilai tren hubungan dengan Washington menunjukkan pendekatan yang lebih baik, namun belum menjamin tercapainya kesepakatan final.

“Niat kami pertama-tama adalah untuk menyusun nota kesepahaman, semacam perjanjian kerangka kerja yang terdiri dari 14 pasal,” ujarnya, dikutip AFP, Sabtu (23/5/2026). Pernyataan ini muncul setelah kunjungan Kepala Militer Pakistan, Asim Munir, ke Teheran. Pakistan disebut berperan sebagai mediator dalam upaya mengakhiri konflik.

Selat Hormuz Jadi Poin Penting

Salah satu poin penting dalam rancangan adalah pengaturan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia yang saat ini dikendalikan Iran. Menurutnya, pengaturan terkait Selat Hormuz yang strategis merupakan bagian dari rancangan kerangka kerja, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran global yang vital, telah berada di bawah kendali Iran sejak pecahnya perang. Iran bersikeras agar kapal-kapal memperoleh izin dari angkatan bersenjatanya sebelum melintasi jalur air tersebut.

“Selat Hormuz tidak ada hubungannya dengan AS. Mekanisme untuk selat tersebut harus ditetapkan antara Iran dan Oman sebagai negara pesisir,” ujarnya.

Tidak Mencakup Program Nuklir

Baqaei menuturkan, kerangka kerja tersebut tidak mencakup rincian tentang program nuklir Iran, poin yang selama ini menjadi kendala bagi Washington. Menurutnya, masalah tersebut akan “menjadi subjek diskusi terpisah pada tahap selanjutnya.”

Baqaei menambahkan, tuntutan Iran yang sudah lama untuk pencabutan sanksi telah dimasukkan dalam teks kerangka kerja. Namun, hal tersebut juga belum dibahas secara rinci karena masalah nuklir saat ini tidak sedang dibahas secara mendetail.

“Ini juga merupakan salah satu poin yang perlu kita teliti secara detail dalam waktu dekat,” katanya.

Respons AS

Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa Iran dan AS telah sebagian besar menegosiasikan kesepakatan damai. Hal ini mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, tetapi draf tersebut masih perlu difinalisasi.

“Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, dan masih menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lain,” tulis Trump di Truth Social, merujuk pada beberapa negara Timur Tengah.

“Selain banyak elemen lain dari kesepakatan tersebut, Selat Hormuz akan dibuka,” lanjutnya.

Peran Negara Ketiga

Pembicaraan antara Iran dan AS tidak hanya terbatas pada dua negara tersebut. Beberapa negara ketiga seperti Pakistan dan Oman dilibatkan dalam proses diplomasi ini. Negara-negara ini dianggap memiliki peran penting dalam membantu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi negosiasi.

Negara-negara seperti Oman, yang memiliki hubungan baik dengan Iran dan AS, dipandang sebagai mediator yang dapat membantu menjembatani perbedaan pandangan antara kedua belah pihak. Sementara itu, Pakistan, yang memiliki hubungan diplomatik dengan keduanya, juga turut berperan dalam upaya mempercepat proses negosiasi.


Pos terkait