3 Nelayan Pangkep Ditemukan Selamat di Perairan Selayar

Kapal Nelayan Hilang Kontak di Perairan Pangkep Ditemukan Selamat di Selayar

Maros, Sulawesi Selatan – Sebuah kapal nelayan jenis jolloro yang dilaporkan hilang kontak sejak beberapa hari lalu akhirnya berhasil ditemukan. Kapal bernama Sansel United JB 2023, yang membawa tiga awak, ditemukan dalam kondisi terdampar di perairan Kepulauan Selayar, tepatnya di sekitar Kecamatan Pasilambana. Seluruh penumpang dilaporkan selamat dalam insiden ini.

Kapal jolloro tersebut berangkat dari Pulau Sanane, Desa Sabalana, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Rabu (7 Januari 2026) sekitar pukul 11.00 Wita. Rencananya, ketiga nelayan tersebut, yakni Jumadi (32) dan Rudi (23) yang merupakan warga Pulau Sanane, serta Mursalim (37) yang berasal dari Pulau Sabalan, hendak mencari ikan di laut. Namun, kapal tersebut tidak kunjung kembali ke daratan hingga menimbulkan kekhawatiran bagi keluarga dan pihak berwenang.

Upaya Pencarian Intensif Membuahkan Hasil

Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengonfirmasi penemuan kapal tersebut pada Minggu (11 Januari 2026). Menurutnya, kapal jolloro itu ditemukan terdampar setelah terbawa arus hingga ke wilayah perairan Kepulauan Selayar.

“Proses pencarian membuahkan hasil. Kapal jolloro Sansel United JB 2023 ditemukan pada koordinat 7°10’36.13″S 121° 1’4.37″E di wilayah pulau Taka Bonerate, Kepulauan Selayar. Seluruh penumpang yang berjumlah 3 orang dilaporkan selamat,” ujar Arif Anwar pada Senin (12 Januari 2026).

Lokasi penemuan kapal ini memang menjadi fokus pencarian, mengingat prediksi area hanyut berdasarkan data SAR Map yang digunakan oleh Basarnas. Kapal KN SAR Kamajaya 104 yang dikerahkan telah berada di sekitar perairan Selayar sejak pagi dan melakukan penyisiran area menggunakan perahu karet (RIB) tambahan.

Informasi mengenai hilangnya kapal nelayan asal Liukang Tangaya, Pangkep, ini juga telah disebarkan ke pulau-pulau sekitar Selayar melalui Sistem Radio Operasi Pelabuhan (SROP) Makassar. Selain itu, informasi maklumat pelayaran juga disampaikan kepada kapal-kapal yang melintas di sekitar area pencarian melalui VTS (Vessel Traffic Service) Lembar di Mataram.

“Alhamdulillah, seluruh penumpang kapal dalam kondisi selamat dan sudah berkomunikasi dengan keluarganya. Saat ini mereka berada di Pulau Bonerate untuk mendapatkan penanganan dan menunggu pemulangan,” tambah Arif Anwar. Dengan ditemukannya kapal beserta seluruh awaknya (POB – Person On Board), operasi SAR dinyatakan resmi dihentikan. Basarnas pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh Tim SAR Gabungan yang telah berdedikasi selama tiga hari operasi pencarian.

Kekhawatiran Keluarga dan Persiapan yang Minim

Kekhawatiran keluarga terhadap keselamatan ketiga nelayan tersebut cukup beralasan. Berdasarkan keterangan dari salah satu anggota keluarga korban, Hasrian, kapal jolloro tersebut berangkat melaut tanpa persiapan bekal yang memadai.

“Kami keluarga besar Pulau Sanane sangat khawatir karena mereka tidak punya bekal sama sekali,” ujar Hasrian melalui media sosialnya. Kondisi ini tentu saja menambah kecemasan keluarga, terutama setelah kapal tidak kembali sesuai perkiraan waktu.

Mengetahui kapal belum kembali, keluarga dan warga setempat segera melakukan upaya pencarian mandiri. Mereka menyisir sejumlah perairan di sekitar lokasi terakhir kapal terlihat. Namun, setelah lebih dari 12 jam pencarian, belum ada tanda-tanda keberadaan kapal jolloro tersebut. Perkiraan awal dari keluarga adalah kapal tersebut terdampar atau hanyut ke wilayah Pulau Jampea, Bonerate, atau pulau-pulau lain di sekitarnya.

Laporan Awal dan Dugaan Penyebab Hilangnya Kapal

Kepala Bidang Darurat dan Logistik BPBD Pangkep, Herianti Tualle, membenarkan adanya laporan mengenai hilangnya nelayan tersebut. Informasi awal diterima BPBD dari Babinsa Kecamatan Liukang Tangaya pada Kamis malam (8 Januari 2026) sekitar pukul 18.00 Wita.

Peristiwa ini dilaporkan terjadi pada Rabu (7 Januari 2026) sekitar pukul 11.00 Wita. Ketiga nelayan tersebut diketahui melaut di perairan sekitar Pulau Lilikang, Desa Sabalana, menggunakan perahu jenis jolloro. Namun, hingga malam hari mereka tidak kunjung kembali ke Pulau Sanane. Pihak keluarga kemudian berinisiatif melakukan pencarian mandiri pada pukul 21.00 Wita di hari yang sama, namun belum membuahkan hasil.

BPBD Pangkep menduga ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab hilangnya kapal jolloro tersebut. Faktor-faktor umum yang sering terjadi dalam kasus serupa meliputi:

  • Cuaca Buruk: Perubahan cuaca mendadak di laut, seperti angin kencang dan gelombang tinggi, dapat membahayakan kapal kecil.
  • Kerusakan Mesin: Kemungkinan kerusakan mesin di tengah laut bisa menyebabkan kapal tidak dapat bergerak dan hanyut terbawa arus.
  • Kondisi Cuaca Tidak Menentu: Arus laut yang kuat dan perubahan arah angin akibat cuaca yang tidak menentu dapat dengan mudah menghanyutkan perahu jauh dari lokasi awal.

Herianti Tualle menambahkan, tidak menutup kemungkinan perahu tersebut terbawa arus ke arah timur, yang mencakup wilayah Kepulauan Selayar. Penemuan kapal di wilayah tersebut menguatkan dugaan tersebut.

Pos terkait