Musuh Bebuyutan yang Pantas Dilunasi: Daftar Penjahat yang Seharusnya Dihabisi Monkey D. Luffy
Monkey D. Luffy, kapten Bajak Laut Topi Jerami yang ikonik, memiliki sebuah prinsip yang sangat menonjol: ia jarang sekali menghabisi nyawa musuh-musuhnya. Alih-alih mengakhiri hidup mereka, Luffy lebih memilih untuk menghancurkan ambisi para penjahat tersebut, meninggalkan mereka hidup dengan rasa kekalahan yang mendalam. Namun, prinsip ini terkadang menimbulkan pertanyaan di benak para penggemar. Adakah penjahat dalam dunia One Piece yang tingkat kekejamannya begitu melampaui batas sehingga mereka pantas mendapatkan akhir yang lebih permanen?
Dunia One Piece dipenuhi dengan berbagai macam karakter, mulai dari sekutu yang setia hingga musuh yang keji. Beberapa di antara musuh ini telah melakukan tindakan yang begitu mengerikan, sehingga banyak penggemar merasa geregetan dan berharap Luffy mengambil tindakan yang lebih tegas. Mari kita telusuri daftar karakter super menyebalkan yang seharusnya dilenyapkan saja oleh sang calon Raja Bajak Laut demi kedamaian dunia.
1. Arlong: Sang Tiran Desa Cocoyasi
Arlong adalah manusia ikan yang menindas Desa Cocoyasi di East Blue selama bertahun-tahun. Masa kecil Nami dipenuhi dengan penderitaan akibat penjajahan brutalnya. Mengingat kekejaman dan sifat tiraninya yang tanpa ampun, membiarkan manusia ikan ini hidup terasa seperti sebuah kemewahan yang tidak pantas ia dapatkan. Meskipun Luffy berhasil menghancurkan markasnya dan membebaskan Nami serta penduduk desa, Arlong sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan atas pemerasan dan teror yang telah ia lakukan. Kebebasannya setelah kekalahan tersebut tentu saja menimbulkan rasa frustrasi bagi banyak penonton.
2. Captain Kuro: Pelayan Licik yang Berbahaya

Captain Kuro adalah contoh klasik dari penjahat yang bersembunyi di balik kedok. Ia rela memalsukan kematiannya sendiri dan menyamar sebagai pelayan setia selama bertahun-tahun demi merencanakan perampasan harta milik Kaya. Rencana jahatnya tidak berhenti di situ; ia juga menyusun strategi keji untuk membantai seluruh kru bajak lautnya sendiri tanpa ampun demi menutupi jejaknya. Membiarkan Kuro pergi begitu saja setelah semua kelicikan dan manipulasi berbahayanya terasa kurang sepadan dengan ancaman yang ia timbulkan bagi siapa pun yang berada di sekitarnya. Sifatnya yang manipulatif adalah racun yang bisa merusak kehidupan banyak orang.
3. Wapol: Raja Egois dari Drum Kingdom

Wapol adalah mantan penguasa Drum Kingdom yang memiliki tingkat egoisme yang luar biasa. Ia sangat mementingkan keselamatan dirinya sendiri hingga rela mengorbankan rakyatnya sendiri tanpa ragu. Lebih buruk lagi, Wapol adalah dalang di balik kematian tragis Dokter Hiriluk, seorang tabib yang memiliki jasa besar bagi pengembangan Chopper menjadi dokter. Meskipun pukulan telak dari Luffy memang memberikan kepuasan tersendiri, membiarkan Wapol hidup berarti memberi celah bagi penguasa korup ini untuk kembali berbuat jahat di masa depan, atau bahkan mencari cara untuk merebut kembali kekuasaannya.
4. Enel: Sang “Dewa” yang Kejam

Enel adalah tiran kejam yang mendiami pulau langit Skypiea. Niat jahatnya adalah menghancurkan seluruh penduduk Skypiea tanpa sisa, sebuah rencana yang mengerikan. Beruntung bagi penduduk pulau tersebut, tubuh karet Monkey D. Luffy ternyata kebal terhadap serangan petir mematikan miliknya. Namun, nasib buruknya adalah Enel berhasil melarikan diri ke bulan. Keberadaannya di bulan menjadikannya ancaman potensial di masa depan jika ia memutuskan untuk kembali ke bumi dengan kekuatan yang lebih besar atau niat yang lebih jahat. Ia adalah contoh penjahat yang lolos dari hukuman yang setimpal.
5. Don Krieg: Bajak Laut Tak Tahu Terima Kasih

Don Krieg adalah perwujudan dari keserakahan dan kekejaman dalam dunia bajak laut. Bajak laut kejam ini tanpa ragu menyerang restoran Baratie, tempat Sanji bekerja, meskipun Sanji telah menunjukkan kebaikan hati dengan memberinya makan saat ia kelaparan. Sifatnya yang rakus akan kekuasaan dan harta membuat Don Krieg menghalalkan segala cara untuk meraih tujuannya, termasuk pengkhianatan dan kekerasan. Mengingat sifat liciknya yang tidak tertolong dan kekejamannya yang tanpa batas, lenyapnya Don Krieg pasti akan membuat lautan menjadi tempat yang jauh lebih aman dan damai.
6. Bellamy: Si Arogan yang Meremehkan Mimpi

Bellamy pada awalnya digambarkan sebagai sosok yang sangat sombong dan kasar. Ia tidak ragu menyerang Luffy secara fisik hanya karena menganggap mimpi menemukan harta karun One Piece adalah hal yang konyol. Meskipun Eiichiro Oda, sang kreator, kemudian memberikan perkembangan karakter yang lebih kompleks bagi Bellamy di masa depan, banyak penggemar mungkin merasa bahwa perubahan tersebut kurang masuk akal atau tidak cukup untuk menebus kekejaman awal yang ia tunjukkan. Pukulan keras dari Luffy di Jaya sepertinya lebih pantas menjadi akhir mutlak bagi sosok arogan yang meremehkan impian orang lain seperti dirinya.
7. Saint Charlos: Simbol Kebusukan Bangsawan Dunia

Saint Charlos adalah salah satu karakter yang paling membangkitkan emosi negatif di kalangan penggemar. Ia adalah simbol nyata dari kebusukan dan korupsi yang merajalela di kalangan Bangsawan Dunia. Charlos gemar menembak dan memperbudak warga sipil sesuka hatinya tanpa ada rasa empati sedikit pun. Pukulan keras yang dilayangkan Luffy kepadanya di Sabaody Archipelago memang menjadi salah satu momen paling melegakan dalam serial ini. Namun, membiarkan bangsawan sewenang-wenang ini tetap bernapas dan melanjutkan kejahatannya terasa sangat tidak adil bagi penderitaan para korban tak berdosa yang telah ia ciptakan.
Prinsip kuat yang ditanamkan oleh Eiichiro Oda memang unik dan sering kali menyoroti aspek moralitas dalam cerita. Namun, deretan karakter kejam yang seharusnya dilenyapkan oleh Luffy di atas sering kali membuat para pembaca ikut merasakan emosi kekesalan dan harapan agar para tiran tersebut mendapatkan hukuman yang setimpal. Wajar saja jika banyak yang berharap para penguasa zalim tersebut dilenyapkan secara permanen demi keamanan lautan. Akan tetapi, dunia One Piece rupanya lebih menekankan pada kehancuran impian musuh sebagai hukuman terberat, alih-alih jalan pintas melalui kekerasan fisik yang berujung pada kematian.





