Kegagalan Taktik Israel di Jalur Gaza
Sebuah analisis dari seorang ahli militer Israel mengungkapkan bahwa taktik yang digunakan oleh pemerintah negara tersebut untuk memperkuat pengaruhnya di Jalur Gaza melalui bantuan geng kriminal telah gagal. Hal ini menunjukkan adanya kegagalan strategis dalam merancang rencana pasca-perang yang efektif.
Geng-geng yang awalnya diharapkan menjadi proksi Israel justru menjadi beban tambahan bagi militer negara tersebut. Di sisi lain, gerakan Hamas terus memperkuat posisinya dan mempertahankan kendali penuh atas wilayah tersebut. Menurut Avi Issacharoff, seorang analis militer dan mantan kepala subkomite Komite Luar Negeri dan Keamanan Knesset, pemerintah Israel gagal merancang strategi yang layak setelah konflik.
Ide Fragmatis yang Tidak Praktis
Issacharoff menyatakan bahwa otoritas Israel tidak mempertimbangkan alternatif realistis untuk mengatur Gaza setelah perang, dan justru memilih ide-ide yang tidak praktis dan berumur pendek. Salah satu contohnya adalah upaya menggunakan geng kriminal seperti “Abu Shabab” sebagai kekuatan proksi Israel untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan dan membangun kendali lokal. Namun, upaya ini secara cepat mengalami kegagalan.
Menurutnya, pendekatan ini mencerminkan kurangnya pemikiran strategis dan memberikan tekanan tambahan pada tentara serta badan keamanan Israel. Alih-alih menstabilkan situasi, hal itu justru meninggalkan Gaza dalam kekosongan administratif dan keamanan setelah operasi militer skala besar mereda.
Pengabaian Alternatif Realistis
Selain itu, alternatif yang layak—seperti melibatkan Otoritas Palestina dalam mengelola Gaza baik di tingkat administratif maupun keamanan—tidak pernah dipertimbangkan secara serius. Menurut Issacharoff, pertimbangan politik mencegah para pembuat keputusan Israel untuk mengejar pilihan tersebut, sehingga Hamas tetap menjadi kekuatan dominan di lapangan.
Ia memperingatkan bahwa terus mengabaikan kerangka kerja pasca-perang yang realistis hanya akan memperkuat Hamas dan membuat Israel menghadapi tantangan politik dan keamanan yang semakin besar.
Hamas dan Gerakan Perlawanan Bangun Kembali Kekuatan Tempur
Issacharoff juga menyoroti bahwa lintasan saat ini mengulangi kegagalan masa lalu dan meningkatkan kemungkinan eskalasi di masa depan akan jauh lebih berbahaya. “Peluang-peluang tersebut disia-siakan selama situasi tetap tidak berubah,” tulisnya.
Dia menekankan bahwa perencanaan strategis pasca-perang yang serius bukanlah pilihan tetapi mendesak, dan menundanya lebih lanjut hanya akan memperdalam ketidakstabilan di Gaza dan di seluruh wilayah.
Saluran televisi Israel Channel 12 menggemakan penilaian ini, melaporkan bahwa fase kedua rencana Gaza mencakup pelucutan senjata Hamas dan Gerakan Jihad Islam (PIJ). Namun, saluran tersebut mencatat bahwa realita di lapangan membuat tujuan ini semakin tidak realistis.
Menurut laporan tersebut, baik Hamas maupun Jihad Islam sebagian besar telah membangun kembali kemampuan tempur mereka meskipun menderita kerugian besar selama perang. Hamas, menurut laporan itu, telah memulihkan sebagian besar struktur komando dan kendalinya dan terus mengatur ulang persenjataan roketnya, meskipun sebagian besar senjatanya hancur selama konflik.
Meskipun Hamas mungkin belum kembali ke kekuatan sebelum perang, laporan tersebut menyimpulkan bahwa mereka tetap sepenuhnya mampu beroperasi dan memberikan pengaruh di seluruh Jalur Gaza—sekali lagi menggarisbawahi kegagalan strategi Israel pasca-perang.





