Penanganan Banjir di Kota Semarang: Kajian Akademisi dan Solusi yang Dicetuskan
Kompleksitas penanganan banjir di Kota Semarang menjadi topik yang mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk akademisi. Salah satu tokoh yang memberikan penjelasan terkait hal ini adalah Prof. Dr. Ir. Sriyana, MS., seorang pakar hidrologi dari Universitas Diponegoro (Undip) sekaligus Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Jawa Tengah.
Menurut Sriyana, karakteristik alam dan tantangan tata ruang Kota Semarang memerlukan pendekatan yang terintegrasi untuk mengatasi masalah banjir. Ia menjelaskan bahwa banjir yang pernah melanda kawasan Ngaliyan beberapa waktu lalu disebabkan oleh kombinasi faktor cuaca ekstrem dan keunikan geografis lokal.
Berdasarkan data dari BMKG pada 14–15 Mei 2026, curah hujan di wilayah tersebut mencapai intensitas 50 hingga 100 milimeter per hari. Hal ini langsung membebani Sub-Sistem Drainase Kali Silandak. Menurut Sriyana, bentuk Daerah Aliran Sungai (DAS) di Ngaliyan cenderung bulat, seperti sebuah mangkuk raksasa. Secara alamiah, ketika hujan lebat turun, air dari segala penjuru perbukitan akan meluncur dan berkumpul ke satu titik dalam waktu yang bersamaan. Akibatnya, muncul puncak aliran air yang sangat tajam sehingga risiko banjir menjadi tinggi dalam waktu singkat. Ini berbeda dengan wilayah yang bentuk DAS-nya memanjang, sehingga hidrograf yang dihasilkan lebih landai dan risiko banjir membutuhkan waktu lebih lama.
Kondisi alamiah tersebut diperparah oleh fenomena di kawasan hulu, mulai dari alih fungsi lahan, pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali, hingga semakin berkurangnya lahan resapan air. Ketika hujan lebat menerjang, perubahan tata ruang ini memicu erosi hebat yang tidak dapat dihindarkan. Tanah yang tergerus dari kawasan hulu inilah yang kemudian berubah menjadi sedimentasi lumpur pekat di hilir, lalu menyumbat selokan lingkungan dan memicu luapan air ke pemukiman warga di kawasan Purwoyoso.
Sriyana menilai infrastruktur makro yang dibangun Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang saat ini sebenarnya sudah dalam kondisi baik. Namun, kinerja sistem drainase kurang optimal akibat sumbatan sampah serta banyaknya bangunan liar yang mempersempit bantaran sungai. Di sisi lain, Pemkot Semarang juga dihadapkan pada tantangan besar terkait keterbatasan anggaran operasi dan pemeliharaan pompa drainase yang jumlahnya terus bertambah.
“Penanganan sistem tata air modern tidak bisa lagi memakai pola lama atau dibebankan kepada satu instansi saja. Kita harus melihat bentang alam dari unit terkecil, yaitu tingkat kelurahan. Ada delapan unsur yang harus bergerak bersama dalam pendekatan Octa Helix, mulai dari Pemerintah Pusat melalui BBWS untuk sungai besar, DPU untuk drainase sekunder, Disperkim untuk saluran lingkungan, hingga keterlibatan akademisi, TNI dan Polri, masyarakat, politik, serta media. Kita butuh aksi nyata, konsistensi, dan keberanian untuk berpikir global, bertindak lokal, demi Kota Semarang tercinta,” lanjutnya.
Langkah yang Diusulkan untuk Mengatasi Banjir
Sriyana mendorong adanya penguatan kapasitas kelembagaan di tingkat RT dan RW untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. Langkah yang diusulkan yakni mengintegrasikan anggaran Rp25 juta per tahun di tingkat RT dialokasikan khusus untuk mendukung gerakan pengelolaan sampah mandiri (Zero Waste). Melalui gerakan ini, sampah diharapkan dapat habis dipilah sejak dari rumah tangga agar tidak berakhir menyumbat sistem drainase kota.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyambut baik sumbang saran tersebut dan menyatakan bahwa edukasi publik akan menjadi pilar utama dalam program penataan lingkungan Pemkot ke depan. Agustina menekankan bahwa koordinasi intensif dengan BBWS Pemali Juana untuk pengerukan sungai utama terus berjalan secara paralel dengan pembersihan selokan oleh dinas teknis kota.
“Kami sangat berterima kasih atas analisis dari Prof. Sriyana. Pandangan dari beliau ini memperjelas peta masalah bahwa urusan banjir saling mengunci dari hulu sampai ke hilir, bahkan sampai ke kebiasaan kita di rumah masing-masing. Pemkot Semarang berkomitmen untuk terus berkolaborasi lintas sektor, tetapi kami juga mengajak warga untuk ikut merawat saluran, tidak menutup lubang kontrol drainase, dan mulai memilah sampah dari rumah,” tutur Agustina.





