Akhmad Efendi: Menjaga Morowali Tetap Subur, Religius, dan Sejahtera

Perjalanan Seorang Legislator yang Berakar dari Bumi Pertanian

Akhmad Efendi, Ketua Fraksi Demokrat DPRD Morowali, memiliki kisah perjalanan hidup yang menginspirasi. Dari seorang petani di Desa Lantula Jaya, Kecamatan Witaponda, ia kini menjadi legislator senior yang telah duduk tiga periode di parlemen. Jalannya tidak mudah, namun semangat dan dedikasinya membawanya ke puncak kesuksesan.

Awal kariernya dimulai sebagai pengurus BPD, Sekretaris Desa, hingga akhirnya terpilih sebagai Kepala Desa. Semua langkah ini dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap masyarakat. Motivasinya bermula dari keinginan untuk memperbaiki pendidikan dan kesehatan warga. Ia percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan akses layanan dasar yang baik.

Efendi menekankan pentingnya silaturahmi dan hadir langsung bagi warga sebagai kunci kepercayaan pemilihnya. Bagi dia, kepercayaan rakyat adalah amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Ia sering kali mengunjungi warga yang sedang dalam kesulitan atau sedang melahirkan, bahkan sampai mengantar mereka ke rumah sakit sendiri.

Perjalanan hidup Akhmad Efendi seperti air yang mengalir, selalu mengikuti alur yang sudah ditentukan. Siapa sangka, seorang pemuda yang dulunya terombang-ambing akibat badai kerusuhan di Poso, kini menjadi tokoh penting di Kabupaten Morowali. Ia awalnya adalah seorang petani tulen, mencangkul dan memeras keringat di tanah transmigrasi Desa Lantula Jaya.

Di sanalah garis hidupnya mulai berubah. Karakter dan dedikasinya memikat hati warga, membuatnya didorong menjadi pengurus BPD, Sekretaris Desa, hingga akhirnya terpilih sebagai Kepala Desa. Ia mengingat masa lalunya dengan senyum, karena itu adalah awal dari segalanya.

Titik balik hidupnya terjadi di sebuah sore, selepas salat Asar di masjid kampung. Anwar Hafid, yang kala itu menjabat sebagai Bupati Morowali, datang berkunjung. Obrolan santai penuh motivasi dari sang bupati membakar semangat Efendi. Mereka bertemu pada satu visi yang sama: kegelisahan warga transmigran tentang masa depan pendidikan anak-anak mereka dan jaminan kesehatan.

“Terjun ke politik itu tidak tersirat di otak saya. Pertama, saya termotivasi dengan Pak Anwar Hafid yang sama-sama orang desa tapi punya semangat pulang kampung membangun daerahnya. Saya melihat visi yang sama, khususnya Partai Demokrat, adalah masalah pendidikan dan kesehatan gratis. Itu yang terpanggil di hati saya untuk dikawal melalui DPRD,” ungkapnya.

Sejak saat itu, langkah politiknya tak terbendung. Lompat ke arena legislatif, Akhmad Efendi langsung mendapat tempat di hati rakyat. Tiga periode berturut-turut ia duduk di kursi parlemen dengan perolehan suara yang stabil, hanya selisih 10 sampai 20 suara di setiap pemilu.

Bagi Efendi, rahasia di balik kesetiaan ribuan pemilihnya adalah konsistensi silaturahmi. Ia adalah tipe legislator yang jika mendengar ada warga kesusahan atau hendak melahirkan, akan langsung menyetir mobilnya sendiri untuk mengantar ke rumah sakit.

Namun, di balik pembawaannya yang tenang, tersimpan kegelisahan besar dalam benak legislator senior ini ketika melihat Morowali hari ini. Sebagai orang yang besar dari sektor pertanian, Efendi menatap cemas riuh rendah industri pertambangan yang mulai mengintip wilayahnya di Witaponda.

Bagi Efendi, Witaponda adalah harga mati sebagai lumbung pangan Morowali yang harus dijaga dari kerukan alat berat. Ia tidak menampik bahwa tambang membawa PAD yang melimpah dan lapangan kerja yang luas di wilayah seperti Bahodopi. Namun, ia mengingatkan sebuah kebenaran mutlak: tambang suatu saat akan habis dan meninggalkan liang galian, sementara perut manusia tidak bisa berhenti mengonsumsi beras.

Konflik lahan dan berubahnya sumber air yang mulai dirasakan warga adalah alarm keras yang harus didengar pemerintah.

“Saya berharap di Witaponda dapil saya itu tidak ada pertambangan. Cukup karena permasalahan di sana sebagai lumbung pangan. Nanti kalau ini ada banyak pertambangan, bisa-bisa lumbung pangan Morowali habis. Persoalan pertambangan ini ada jangka waktunya, tapi kalau soal pertanian ini panjang masa depannya untuk anak cucu kita. Orang Bahodopi juga butuh padi untuk makan, jangan sampai kita ambil dari luar,” tegas Efendi dengan nada serius.

Efendi memimpikan sebuah keseimbangan. Ketika industri nikel di daerah lain menghasilkan uang melimpah, Morowali harus menyiapkan sekoci penyelamat ekonomi masa depan lewat sektor pariwisata dan pelestarian alam, seperti keindahan Sombori yang tak kalah dari Raja Ampat.

Belajar dari daerah perkembangannya di Jawa Timur seperti Banyuwangi dan Malang, ia yakin keindahan alam yang dirawat tidak akan pernah habis menghasilkan kesejahteraan.

“Tambang itu bisa habis, semua itu ada batasnya. Tapi dengan membangun alam, alam itu tidak ada habisnya. Ini yang harus dipahami oleh pemerintah hari ini supaya PAD kita berkesinambungan. Mari kita bangun juga daerah wisata religi atau wisata alam agar seimbang antara bekerja, ibadah, dan rekreasi,” tambahnya.

Perjalanan 15 tahun mengabdi tentu bukan waktu yang singkat. Sadar bahwa suatu saat masanya di parlemen akan usai, Akhmad Efendi hanya berharap para pemimpin Morowali ke depan tidak silau oleh gemerlapnya industri hingga melupakan kelestarian alam. Ia ingin anak cucu kelak masih bisa menikmati bumi Morowali yang subur, religius, dan sejahtera seutuhnya.

“Pesan saya kepada pemimpin yang ada, jalankan visi misi dengan baik. Kita tidak selamanya akan menjadi DPR atau penguasa, kita juga akan punah. Maka dari itu, jaga alam lingkungan agar tidak punah, supaya Morowali tetap jaya, maju, lestari, dan menjadi surgawinya dunia,” tutup Efendi.

Pos terkait