Penemuan Jenazah Korban Banjir Bandang di Agam, Upaya Pencarian Terus Berlanjut
Agam, Sumatera Barat – Upaya pencarian korban banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, membuahkan hasil yang menyedihkan. Pada Sabtu, 3 Januari 2026, tim gabungan yang tengah melakukan pembersihan sungai di kawasan Ampangan, Toboh Tangah, Nagari Malalak Timur, menemukan satu jenazah korban. Penemuan ini menambah daftar korban yang terdampak oleh bencana alam dahsyat yang melanda wilayah tersebut.
Camat Malalak, Ulya Satar, mengonfirmasi identitas jenazah yang ditemukan. Korban diketahui bernama Aqila, seorang anak perempuan berusia 6 tahun, yang merupakan warga Jorong Toboh Tangah, Kecamatan Malalak. Penemuan jenazah Aqila terjadi saat alat berat dikerahkan untuk membersihkan saluran air di sungai yang berada di kawasan Ampang.
“Jenazah korban, Adek Aqila, ditemukan saat alat berat sedang membersihkan saluran air di sungai kawasan Ampang, Nagari Malalak Timur,” ujar Ulya Satar.
Meskipun kondisi jenazah sudah mengalami pembusukan, wajah korban masih dapat dikenali. Hal ini mempermudah proses identifikasi yang dilakukan oleh tim SAR gabungan dan pihak berwenang. Identifikasi yang cepat juga didukung oleh laporan sebelumnya mengenai tiga warga Jorong Toboh yang dilaporkan hilang akibat banjir bandang.
Sebelum penemuan jenazah Aqila, tercatat ada tiga warga Jorong Toboh yang dinyatakan hilang. Mereka adalah Aqila, adiknya yang berusia sekitar satu tahun, dan seorang perempuan paruh baya. “Dari ciri-ciri yang ditemukan pada jenazah, korban tersebut mengarah kuat kepada Aqila,” tegas Camat Malalak.
Penemuan jenazah Aqila memberikan sedikit titik terang dalam upaya pencarian, namun juga menambah duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat. Setelah berhasil diidentifikasi, jenazah Aqila segera disemayamkan di pemakaman umum Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, untuk dimakamkan sesuai dengan adat dan tradisi setempat.
Proses Pencarian dan Evakuasi yang Menantang
Banjir bandang yang melanda Kabupaten Agam meninggalkan jejak kehancuran yang luas. Arus air yang deras dan material lumpur yang dibawa menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur dan pemukiman warga. Tim SAR gabungan, yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan relawan, telah bekerja tanpa lelah sejak bencana terjadi untuk mencari korban yang masih hilang serta melakukan evakuasi dan pembersihan.
Kondisi medan yang sulit, akibat longsor dan timbunan lumpur, menjadi tantangan tersendiri dalam operasi pencarian. Alat berat seperti ekskavator dikerahkan untuk membersihkan puing-puing dan material yang menutupi sungai serta akses jalan. Pembersihan sungai menjadi prioritas utama untuk mencegah potensi banjir susulan dan memudahkan pencarian jenazah korban.
Dampak Banjir Bandang dan Upaya Pemulihan
Banjir bandang di Agam tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerugian materiil yang signifikan. Ribuan rumah dilaporkan rusak, baik ringan maupun berat, serta infrastruktur publik seperti jembatan, jalan, dan fasilitas umum lainnya ikut terdampak. Pemerintah daerah bersama berbagai pihak terkait terus berupaya melakukan pendataan kerusakan dan merencanakan langkah-langkah pemulihan jangka panjang.
Bantuan logistik, seperti makanan, obat-obatan, pakaian, dan tenda pengungsian, terus disalurkan kepada para korban yang terdampak. Posko-posko bantuan didirikan untuk mempermudah penyaluran kebutuhan dasar bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Para relawan dan masyarakat juga turut berperan aktif dalam membantu proses pembersihan dan pemulihan pasca-bencana. Semangat gotong royong terlihat jelas dalam upaya membersihkan rumah-rumah warga yang terdampak lumpur dan memperbaiki fasilitas yang rusak.
Pemerintah juga terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, mengingat kondisi cuaca yang masih belum menentu. Pemantauan terus dilakukan di daerah-daerah yang rawan terdampak banjir dan longsor.
Penemuan jenazah Aqila, meskipun tragis, memberikan penutupan bagi salah satu keluarga yang mencari anggota keluarganya yang hilang. Namun, upaya pencarian dan pemulihan bagi korban lainnya masih terus dilanjutkan. Koordinasi antarlembaga dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi dan bangkit dari bencana alam ini. Harapannya, seluruh korban yang hilang dapat segera ditemukan dan proses pemulihan dapat berjalan lancar, sehingga kehidupan masyarakat di Kabupaten Agam dapat kembali normal.






