Pencarian Siswa Tenggelam di Tiwu Pai Ditutup, Korban Dinyatakan Hilang
Ruteng, NTT – Upaya pencarian intensif terhadap Armendo W. Jeferson, seorang pelajar kelas II SMP yang dilaporkan tenggelam di objek wisata Tiwu Pai, Desa Wontong, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur, telah resmi dihentikan. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere, Fathur Rahman, mengumumkan penutupan operasi pencarian pada Sabtu, 17 Januari 2026, pukul 13.00 Wita. Hingga batas waktu yang ditentukan, jasad korban belum berhasil ditemukan, sehingga Armendo dinyatakan hilang.
Armendo W. Jeferson, yang merupakan warga Orong Lembor, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat, dilaporkan tenggelam saat berada di Sungai Tiwu Pai pada Minggu, 11 Januari 2026, siang. Kejadian ini sontak mengejutkan keluarga dan masyarakat setempat, memicu respons cepat dari tim SAR gabungan.
Kronologi Kejadian dan Upaya Pencarian
Menurut laporan, insiden tragis ini terjadi pada awal Januari 2026. Armendo, seorang siswa yang masih belia, diduga tergelincir atau terseret arus saat beraktivitas di area sungai yang juga merupakan destinasi wisata populer tersebut. Hilangnya korban secara tiba-tiba memicu kekhawatiran mendalam, dan keluarga segera melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim SAR Gabungan segera dibentuk dan dikerahkan ke lokasi kejadian. Operasi pencarian dimulai dengan fokus pada penyisiran area sungai, baik di tepian maupun di dalam aliran air. Selama tujuh hari berturut-turut, tim gabungan yang terdiri dari berbagai unsur seperti Basarnas, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta masyarakat setempat, melakukan upaya maksimal untuk menemukan korban.
Penyisiran dilakukan secara sistematis, mencakup area yang diduga menjadi titik terakhir korban terlihat. Tim SAR menggunakan berbagai peralatan dan teknik pencarian, termasuk penyelaman di titik-titik yang dianggap berpotensi menyimpan jejak korban. Namun, hingga akhir operasi, segala upaya belum membuahkan hasil.
Keterlibatan Pejabat dan Evaluasi Operasi
Menariknya, pada hari terakhir operasi pencarian, Sabtu, 17 Januari 2026, lokasi kejadian turut dikunjungi dan dipantau langsung oleh Bupati Manggarai, Heribertus G.L. Nabit, S.E., M.A. Kehadiran bupati menunjukkan perhatian serius pemerintah daerah terhadap musibah yang menimpa warganya. Beliau berdialog dengan tim SAR dan keluarga korban, memberikan dukungan moril, serta mengapresiasi kerja keras seluruh pihak yang terlibat.
Setelah tujuh hari operasi SAR dilaksanakan tanpa menemukan tanda-tanda keberadaan korban, tim SAR gabungan bersama dengan keluarga korban dan unsur terkait lainnya menggelar evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, disepakati bahwa operasi pencarian yang telah dilakukan akan ditutup sementara. Keputusan ini diambil mengingat belum ditemukannya korban (kondisi nihil) meskipun upaya telah maksimal dilakukan.
“Sehubungan dengan telah dilaksanakan Ops SAR (H.1-H.7) dengan tidak ditemukannya tanda-tanda penemuan korban (nihil) maka berdasarkan hasil evaluasi tim SAR Gabungan bersama dengan keluarga korban serta Unsur SAR yang terlibat dalam Ops SAR disepakati agar pelaksanaan Operasi SAR yang telah dilakukan dan diusulkan untuk ditutup akan dilanjutkan dengan pemantauan,” jelas Fathur Rahman.
Meskipun operasi pencarian formal dihentikan, pihak SAR menegaskan bahwa mereka akan terus melakukan pemantauan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu ada informasi baru atau tanda-tanda yang mengarah pada penemuan korban.
Penutup Operasi dan Harapan Keluarga
Dengan ditutupnya operasi pencarian, seluruh unsur SAR yang terlibat dikembalikan ke kesatuan masing-masing. Fathur Rahman menyampaikan ucapan terima kasih atas dedikasi dan kerja keras mereka dalam misi kemanusiaan ini.
“Seluruh unsur SAR yang terlibat dalam pelaksanaan Ops SAR dikembalikan ke kesatuanya masing-masing disertai dengan ucapan terimakasih,” ujar Fathur.
Namun, Fathur juga memberikan penegasan penting. “Meski demikian, Fathur menegaskan, operasi SAR akan dibuka kembali apabila ditemukan adanya tanda-tanda korban.” Pernyataan ini memberikan sedikit harapan bagi keluarga korban bahwa pencarian belum sepenuhnya berakhir dan dapat diaktifkan kembali jika ada perkembangan signifikan.
Dinyatakannya Armendo W. Jeferson sebagai korban hilang menjadi pukulan berat bagi keluarga. Mereka kini harus menghadapi kenyataan pahit sambil terus berharap akan keajaiban. Insiden ini juga menjadi pengingat pentingnya meningkatkan kesadaran akan keselamatan di sekitar area perairan, terutama bagi anak-anak, agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.





