Arowana Merah Endemik Sungai Kapuas yang Dikenal Bawa Keberuntungan



Siluk merah atau arowana adalah ikan endemik dari Sungai Kapuas di Kalimantan Barat. Di kalangan masyarakat Tionghoa, ikan ini dikenal sebagai “ikan pembawa hoki”.

Dalam artikel yang pernah terbit di Majalah Intisari edisi Februari 2008 dengan judul “Arowana ‘Super Red’: Hoki & Hobi”, penulis Rudy Badil dan L.R. Supriyapto Yahya mengangkat kisah menarik tentang ikan yang memiliki makna khusus dalam budaya Tionghoa.



Saat itu, seorang pria sedang memandang ikan merah dalam akuarium besar miliknya. Ikan tersebut memiliki bentuk tubuh pipih dengan sisik berwarna kemerahan tembaga matang. Pria itu terkesan diam dan terus berkomentar tentang kehebatan ikan arowana peliharaannya.

Beberapa saat kemudian, ikan predator itu membuka mulut lebarnya dan menangkap seekor anak katak dengan cepat. “Nah gitu dong,” ujarnya sambil tertawa. Ia menjelaskan bahwa kelebihan dan keistimewaan ikan yang dipeliharanya membuatnya sangat puas.

Perilaku seperti ini hanya sebagian kecil dari ciri khas para pehobi dan pemelihara ikan siluk atau arowana super red. Konon, ikan Scleropages formosus yang endemik di aliran sungai Kapuas, Kalbar, dapat mengenali pemeliharanya dan memberikan gerak-gerik khusus sebagai isyarat.

Contohnya, suatu pagi seorang teman merasa aneh melihat gerak-gerik arowananya yang bergoyang-goyang gembira. Ternyata, siang harinya ia mendapatkan proyek besar.

Ikan langka yang dilindungi oleh organisasi konservasi dunia ini memiliki kisah tersendiri sebagai satwa liar yang dianggap membawa “rezeki”. Oleh karena itu, di kalangan pengusaha Tionghoa, ikan ini disebut sebagai “bawa hoki”.

Merahnya “Hoki”

Ikan dengan tampang gagah dan gigi tajam ini semakin dianggap hebat jika warna sisiknya semakin merah. Dalam konsep warna di kalangan warga Tionghoa, warna merah dianggap sebagai simbol keberuntungan. Terutama selama perayaan Tahun Baru Imlek, warna merah menjadi dominan.

Menurut Lillian Too dalam buku Lillian Too’s Feng Shui Good Fortune Symbols (1999), penggunaan warna merah mencerminkan praktik feng shui yang tidak terlihat. Warna merah dianggap sebagai simbolisasi dari kekuatan chi untuk membawa keberuntungan ke rumah.

Selain itu, ikan juga menjadi lambang kekayaan dan kesuksesan. Kata “yu” dalam kanji berarti kelimpahan. Jadi, jika ingin mengaktifkan simbol keberuntungan ikan di dalam air, maka peliharalah beberapa ikan populer seperti koi, ikan emas, dan arowana. Yang terpenting, ikan berwarna cerah atau merah, karena diyakini sebagai tanda keberuntungan.

Sembilan Naga

Dalam beberapa tahun terakhir, arowana Asia atau ikan naga telah menjadi salah satu simbol penggalak rezeki yang kuat. Ikan yang sangat cantik ini memiliki berbagai jenis, dengan bentuk dan warna yang berbeda-beda sesuai asalnya. Namun, hanya ragam yang menunjukkan warna merah, emas, atau perak yang dihargai termahal karena dianggap memiliki feng shui yang baik.

Menurut Lillian Too, jika sisik ikan tidak menunjukkan kemilau, maka ikan tersebut dianggap bukan rumpun keluarga arowana sejati. Maka dari itu, mereka yang ingin memelihara arowana harus cermat dan telaten dalam merawatnya.

Sebagai satwa hias, arowana sering menjadi penghuni akuarium besar. Lillian Too menyarankan agar wadah itu sesuai ukuran, tidak terlalu besar maupun kecil. “Keseimbangan itu vital,” tulisnya.

Jika ingin memelihara seekor arowana, sektor utara merupakan tempat yang membawa berkah. Jika ingin memelihara lebih banyak, angka 5 dianggap bagus karena membawa feng shui kekayaan. Arowana juga dianggap sebagai simbol perlindungan.

Satwa Pesona Rl

Di antara isu dan kenyataan, keberadaan siluk super red semakin menyebar di kota-kota besar. Seorang teman mengungkapkan bahwa ia memelihara ikan hias sejak lama dan memilih siluk super red karena keindahan dan kecantikannya. Selain itu, ia juga tahu bahwa ikan ini memiliki keturunan purba yang memelihara anakannya di mulut.

Meski pada tahun 1980-an, siluk masih dianggap sebagai ikan konsumsi, baru setelah dijual dengan harga Rp10.000 per ekor anakannya, arowana mulai diselundupkan oleh penangkar tradisional sebagai ikan hias langka.

Arowana pun melejit dan harga anakannya semakin mahal. Setelah paham teknik dan cara penangkarannya, arowana tahun 1990 menjadi dagangan yang ditangkar perusahaan-perusahaan besar. Salah satunya adalah Inti Kapuas Arowana di Jakarta, yang memiliki lima tambak besar dengan kapasitas 3.000 indukan produktif.

Untuk menambah nilai hoki, perusahaan ekspor arowana ini memberikan garansi “buy back”: jika bosan memelihara, bisa menjual kembali ikan yang badannya bermikrocip pencatat nomor registrasi dengan harga lebih.

Jelas sekali hoki atau berkah keberuntungan dari arowana sudah dirasakan banyak orang, khususnya pehobi yang berniat luhur memelihara sekaligus ikut merawat dan menjaga, atau ikut menangkarkan dan mengembangkan ikan arowana yang dilindungi dunia.

Siluk super red dinyatakan resmi sebagai satwa pesona melalui SK Presiden Nomor 4 tahun 1993 pada 5 November 1993 oleh Presiden RI Soeharto. Selamat berhobi sambil berhoki!

Pos terkait