Kekejaman Terungkap: ART di Kendari Aniaya Bayi 10 Bulan, Ibu Sadar Berkat CCTV
Peristiwa mengerikan terjadi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, di mana seorang asisten rumah tangga (ART) berinisial NWS (44) dilaporkan melakukan kekerasan fisik terhadap bayi berusia 10 bulan yang diasuhnya. Aksi keji ini terbongkar berkat kecurigaan sang ibu, E, yang memutuskan untuk memantau rekaman kamera pengawas (CCTV) di rumahnya. Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan orang tua terhadap pengasuh anak.
Peristiwa ini terjadi di sebuah perumahan di Kelurahan Kambu, Kecamatan Kambu, Kota Kendari. NWS diduga telah melakukan tindakan kasar sejak hari pertama ia mulai bekerja pada akhir Februari 2026. Namun, kecurigaan sang ibu, E, muncul pada Rabu, 4 Maret 2026, ketika ia memantau rekaman CCTV dari kantornya melalui ponsel.
Melihat ada gelagat yang tidak wajar dari NWS, E segera mengambil tindakan lebih lanjut. Ia memutuskan untuk menelusuri seluruh arsip rekaman CCTV sejak awal NWS bekerja. Hasil penelusuran tersebut sungguh mengejutkan dan memilukan. Rekaman menunjukkan bahwa bayi mungilnya telah menjadi sasaran kemarahan pelaku selama lima hari berturut-turut, terhitung sejak 28 Februari 2026 hingga hari terbongkarnya aksi tersebut.
Detik-detik Kekejaman Terekam CCTV
Rekaman CCTV yang terekam dengan jelas memperlihatkan serangkaian tindakan fisik yang melampaui batas kewajaran seorang pengasuh. NWS terlihat melakukan hal-hal berikut terhadap bayi malang tersebut:
- Memukul Tubuh Bayi: Berulang kali, NWS terekam memukul tubuh bayi yang belum bisa berbuat apa-apa.
- Mendorong Kepala Korban: Tindakan kasar lainnya adalah mendorong kepala bayi hingga terjerembap, sebuah perlakuan yang sangat berbahaya bagi perkembangan dan keselamatan anak.
- Menarik Lengan dengan Kasar: Lengan mungil bayi tersebut ditarik dengan sangat kasar, menimbulkan rasa sakit dan trauma.
- Membanting dan Mengguncang Tubuh: Puncak dari kekejaman yang terekam adalah NWS yang tidak segan membanting tubuh korban ke lantai. Ia juga mengguncang badan bayi tersebut dengan tenaga yang kuat, sebuah tindakan yang dapat menyebabkan cedera serius.
Dampak Fisik dan Psikologis yang Mengkhawatirkan
Akibat dari perlakuan kasar yang dialaminya, sang bayi dilaporkan mengalami kondisi kesehatan yang memprihatinkan. Ibu bayi, yang diidentifikasi sebagai Eva, mengungkapkan kekhawatirannya pada Kamis, 12 Maret 2026.
“Sekarang anak saya mengalami batuk-batuk. Kami menduga ini dampak dari tubuhnya yang sering dibanting dan diangkat secara kasar,” ujar Eva.
Kondisi batuk-batuk yang dialami bayi tersebut diduga kuat merupakan dampak langsung dari benturan dan guncangan yang diterimanya. Selain dampak fisik, kekerasan seperti ini juga berpotensi menimbulkan trauma psikologis jangka panjang pada anak.
Tindakan Tegas dan Peringatan
Ibu bayi, E, menegaskan bahwa ia tidak akan mentoleransi tindakan kejam yang dilakukan oleh NWS. Peristiwa ini menjadi pukulan telak bagi E dan keluarganya, sekaligus menjadi peringatan keras bagi orang tua lainnya.
Kasus ini menyoroti pentingnya pengawasan yang ketat terhadap pengasuh anak, meskipun mereka terlihat baik di permukaan. Pemasangan CCTV di rumah, terutama di area di mana anak beraktivitas, dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk mendeteksi dini potensi kekerasan atau perlakuan buruk.
Selain itu, proses seleksi pengasuh anak harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Melakukan pemeriksaan latar belakang yang mendalam dan meminta referensi yang terpercaya dapat membantu meminimalkan risiko.
Kejadian di Kendari ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan anak dari segala bentuk kekerasan, baik yang dilakukan oleh orang terdekat maupun oleh orang yang dipercayakan untuk merawat mereka. Tindakan tegas terhadap pelaku kekerasan anak harus terus ditegakkan untuk memberikan efek jera dan menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang generasi penerus bangsa.





