Perjuangan Sang Ibu: Di Balik Gemerlap Timnas, Saparti Tetap Jualan Es Kelapa
Kehidupan sederhana di tepi jalan desa di Dukuh Tegalrejo, Desa Gumukrejo, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, menyimpan kisah inspiratif tentang cinta seorang ibu dan ketekunan yang tak lekang oleh waktu. Di rumah inilah tinggal Saparti (56), sosok ibu kandung dari pemain sepak bola tim nasional (Timnas) Indonesia, Donny Tri Pamungkas. Meskipun putranya kini bersinar di kancah internasional, Saparti tetap setia pada profesi yang telah menopang hidupnya dan memperjuangkan masa depan anak-anaknya: berjualan es kelapa.
Saparti tak bisa menyembunyikan rasa bangga yang membuncah di hatinya saat menyaksikan putranya, Donny Tri Pamungkas, mengenakan seragam Garuda dan berlaga membela Timnas Indonesia dalam FIFA Series 2024 melawan Saint Kitts and Nevis pada Jumat, 27 Maret 2026. Momen bersejarah itu ia saksikan dari layar televisi di rumah sederhananya, ditemani harapan dan doa terbaik untuk sang anak.
“Ya, perasaannya sebagai orang tua benar-benar sangat bangga sekali,” ujar Saparti dengan mata berbinar saat ditemui pada Sabtu, 28 Maret 2026. Ia mengaku tak menyangka bahwa Donny akan mampu menembus timnas senior. “Karena saya enggak menyangka sebenarnya, kalau Donny itu sudah bisa main di timnas senior ini. Alhamdulillah sekali,” tambahnya, mengucap syukur atas pencapaian luar biasa putranya.
Malam pertandingan itu menjadi saksi bisu kebahagiaan Saparti. Ia merasa puas menyaksikan permainan Donny yang telah mengerahkan kemampuan terbaiknya. “Puas dengan permainan anak saya, ya dengan Donny Pamungkas sudah memberikan yang terbaik lah,” ucapnya penuh kelegaan.
Kesederhanaan yang Terjaga: Es Kelapa, Pengingat Perjuangan
Terlepas dari kesuksesan yang kini diraih putranya, Saparti memilih untuk tetap menjalani hidup dalam kesederhanaan. Ia tidak lantas meninggalkan profesinya sebagai penjual es kelapa muda atau es degan. Baginya, usaha ini bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan sebuah pengingat akan perjuangan keras yang telah dilaluinya demi membesarkan ketiga buah hatinya.
“Ya itu (aktivitas) selalu melanjutkan jualan es kelapa yang saya buat itu, karena hasil dari itu juga dulu yang untuk memperjuangkan anak-anak itu juga,” jelas Saparti, sambil meracik minuman segar di kedainya yang sederhana. Ia bertekad untuk terus menekuni usaha ini selama masih diberi kesehatan. “Sampai sekarang tetap saya pertahankan sampai kapanpun. Selagi Ibu masih diberi kesehatan, tetap jualan es kelapa,” tegasnya.
Saparti memaparkan bahwa meskipun kini kehidupannya sudah ditopang oleh ketiga anaknya, ia tidak pernah melupakan akar perjuangannya. “Tapi saya tetap harus mengingat perjuangan saya, itu dari jualan itu (es kelapa). Bapaknya (dulu) tambal ban, ibu itu (asalnya) enggak punya,” kenangnya, merujuk pada mendiang suaminya, Slameto, yang telah berpulang pada tahun 2022.
Jejak Sepak Bola dalam Keluarga
Kecintaan pada sepak bola seolah mengalir dalam darah keluarga Saparti. Dari ketiga putranya, dua di antaranya telah memilih jalur profesional sebagai pesepak bola. Donny Tri Pamungkas, sang bintang muda Timnas, adalah anak bungsunya. Sementara itu, anak sulungnya, Joko Sasongko, juga merupakan pemain sepak bola yang tak kalah berbakat.
Saparti mengungkapkan bahwa ia selalu memberikan dukungan penuh, baik moril maupun materiil, kepada anak-anaknya yang memiliki bakat di dunia sepak bola. Dengan modal nekat dan keyakinan pada potensi yang dimiliki anak-anaknya, ia berjuang keras untuk memastikan mereka mendapatkan kesempatan yang terbaik.
- Donny Tri Pamungkas: Pemain muda yang kini membela Timnas Indonesia, menjadi kebanggaan keluarga dan bangsa.
- Joko Sasongko: Anak sulung Saparti, yang juga telah menorehkan jejak di dunia sepak bola.
Kisah Saparti adalah bukti nyata bahwa kesuksesan tidak harus mengubah jati diri. Ia mengajarkan bahwa kesederhanaan, kerja keras, dan kasih sayang seorang ibu adalah fondasi terkuat dalam meraih impian, baik bagi diri sendiri maupun bagi generasi penerus. Di balik gemerlap podium Timnas, ada sosok ibu yang tak pernah lelah berjualan es kelapa, menjadi pengingat bahwa setiap pencapaian besar berawal dari perjuangan yang tak terlihat.




