Basri: Lapangan Kerja Jadi Sorotan Pertemuan dengan Prabowo

Menciptakan Lapangan Kerja Berkualitas: Tantangan dan Solusi di Era Modern

Pertanyaan krusial mengenai penciptaan lapangan kerja berkualitas diajukan oleh ekonom terkemuka, Chatib Basri, kepada Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah diskusi yang berlangsung di Hambalang pada Kamis, 19 Maret 2026. Mantan Menteri Keuangan ini menyoroti sebuah fenomena global yang juga relevan di Indonesia: meningkatnya aksi unjuk rasa yang, menurut penelitiannya, berkaitan erat dengan menyusutnya kelas menengah.

Chatib Basri mengemukakan bahwa meskipun angka pengangguran secara umum di Indonesia menunjukkan tren penurunan, ironisnya, tingkat pengangguran tertinggi justru berasal dari kelompok terdidik. “Ini adalah masalah baru yang tidak hanya unik di Indonesia, tetapi juga melanda seluruh dunia, Bapak Presiden. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi saat ini cenderung menciptakan lapangan kerja, namun sebagian besar bersifat informal,” ujar Chatib Basri, sebagaimana terekam dalam potongan video yang diunggah melalui akun Instagram @chatibbasri.

Lebih lanjut, dosen Ekonomi Universitas Indonesia ini memaparkan temuan penting. Data menunjukkan bahwa sekitar 80 persen dari lapangan kerja yang berhasil diciptakan dalam kurun waktu 2019 hingga 2024 didominasi oleh pekerjaan informal dengan imbalan upah yang cenderung rendah. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang keberlanjutan kesejahteraan masyarakat dan potensi ketidaksetaraan yang semakin melebar.

Menyikapi tantangan ini, Chatib Basri secara langsung bertanya kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai strategi konkret yang akan ditempuh untuk menciptakan lapangan kerja yang benar-benar berkualitas. Pertanyaan ini menjadi inti dari diskusi, menggugah pemikiran tentang arah pembangunan ekonomi ke depan.

Industrialisasi sebagai Kunci Utama Solusi

Presiden Prabowo Subianto memberikan jawaban yang tegas dan lugas mengenai solusi fundamental untuk mengatasi masalah penciptaan lapangan kerja berkualitas. Ia menekankan bahwa kunci utamanya terletak pada industrialisasi.

“Kita tidak boleh lagi hanya mengekspor bahan mentah. Kita harus bertransformasi dengan mengolah bahan mentah tersebut menjadi berbagai produk turunan industri yang memiliki nilai tambah tinggi,” tegas Presiden Prabowo.

Pandangannya ini didasarkan pada pengamatan mendalam terhadap potensi ekonomi Indonesia yang belum tergarap optimal. Ia memberikan contoh konkret, seperti bagaimana Indonesia masih menjadi pasar bagi produk otomotif dari negara lain, padahal negara ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, termasuk yang dapat diolah menjadi komponen kendaraan bermotor.

Lebih jauh, Presiden Prabowo menyoroti potensi luar biasa dari kelapa, yang ia sebut sebagai miracle crop atau tanaman ajaib. Ia menggarisbawahi bahwa di berbagai negara maju, minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO) telah diakui memiliki khasiat luar biasa, bahkan sebagai agen antikanker. Hal ini menunjukkan bahwa produk turunan dari sumber daya alam Indonesia memiliki potensi pasar global yang sangat besar jika diolah dengan benar.

Rencana Konkret Menuju Industrialisasi

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa realisasi industrialisasi bukan sekadar wacana, melainkan telah disusun dalam sebuah rencana yang matang. “Industrialisasi dapat diwujudkan dengan membangun pabrik-pabrik yang memadai. Dan kami telah melakukan pemetaan yang komprehensif. Kami sudah memiliki rencana strategis, sebuah ‘pohon industri’ untuk seluruh komoditas penting yang kita miliki,” jelasnya.

Rencana ini mencakup identifikasi sektor-sektor unggulan, analisis rantai nilai, serta strategi pengembangan industri hilir yang terintegrasi. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan nilai tambah dari setiap komoditas yang dimiliki Indonesia, mulai dari pengolahan bahan mentah hingga produksi barang jadi yang siap bersaing di pasar domestik maupun internasional.

Dengan memfokuskan pada industrialisasi, pemerintah berharap dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih stabil, memberikan upah yang layak, serta meningkatkan daya saing ekonomi nasional secara keseluruhan. Langkah ini diharapkan tidak hanya mampu menyerap tenaga kerja terdidik yang saat ini kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Strategi ini juga mencakup upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan vokasi dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, Indonesia dapat bertransformasi dari negara pengekspor bahan mentah menjadi pusat produksi dan inovasi yang bernilai tinggi di kancah global.

Pos terkait