Bertahun-tahun Tinggal di Gubuk Rejot, Asa Janda Empat Anak di Aceh Singkil Dibangunkan Rumah

Kehidupan Mawarni, Ibu Tunggal yang Berjuang Menghidupi Empat Anak Yatim

Mawarni, seorang janda berusia 30 tahun, kini menjadi satu-satunya orang tua bagi empat anaknya yang masih kecil. Setelah suaminya meninggal dunia dua tahun lalu, ia harus menghadapi tantangan hidup yang sangat berat. Keempat anaknya tinggal di gubuk reyot dengan ukuran hanya 4×4 meter di Desa Tanah Bara, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil.

Gubuk tersebut tidak hanya menjadi tempat tidur, tetapi juga ruang keluarga dan dapur sekaligus. Dengan kondisi yang sangat sempit, Mawarni terpaksa membagi waktu untuk menjaga anak-anaknya sambil mencari nafkah. Ia bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan dasar anak-anaknya, seperti makanan dan pakaian.

Kondisi hidup Mawarni menarik perhatian banyak dermawan. Salah satunya adalah Gerakan Relawan Rumah Dhuafa (Garda) Indonesia. Garda Indonesia menyatakan komitmennya untuk membangun rumah layak huni bagi Mawarni dan empat anak yatimnya.

Surat Hibah Tanah dari Keluarga Mendiang Suami

Sebelum pembangunan rumah dimulai, pihak Garda Indonesia memastikan bahwa ada surat hibah tanah dari pihak keluarga mendiang suami Mawarni. Surat hibah tersebut diserahkan oleh Tianna (70), ibu dari mendiang suami Mawarni.

“Kami berharap Garda Indonesia bersedia membangun rumah layak huni untuk Mawarni dan anak-anaknya. Kami sudah siapkan surat hibah sebidang tanah untuk keperluan tersebut,” ujar Tianna kepada relawan Garda Indonesia saat peninjauan lokasi.

Prioritas Utama Garda Indonesia

Menurut Darwis, ST, Penggerak Utama Garda Indonesia Kabupaten Aceh Singkil, pembangunan rumah Mawarni telah ditetapkan sebagai prioritas utama.

“Pembangunan rumah Mawarni sudah ditetapkan menjadi prioritas Garda Indonesia,” ujarnya pada Kamis (25/12/2025).

Sementara itu, Inisiator Garda Indonesia, Aduwina Pakeh, menyambut baik usulan dari tim lapangan. Ia mengaku tersentuh melihat bagaimana empat anak harus tumbuh dalam kondisi hunian yang sangat jauh dari standar kelayakan.

“Sangat sedih melihat kondisi Ibu Mawarni dan empat anaknya,” kata Aduwina.

Program Donasi Rp 10.000 Per Bulan

Untuk membiayai pembangunan rumah tersebut, pihak Garda Indonesia menetapkan program donasi sebesar Rp 10.000 per bulan.

“Kami menetapkan rumah tersebut sebagai #R007 atau rumah ketujuh yang dibangun oleh komunitas ini,” ujar Aduwina Pakeh.

Pembangunan rumah #R007 ini akan didanai oleh kekuatan kolektif gerakan berbagi. Aduwina Pakeh mengajak penggerak dan donatur tetap, khususnya di wilayah Aceh Singkil dan Kota Subulussalam, untuk kembali aktif mensosialisasikan program ini agar lebih banyak masyarakat yang terlibat.

“Semakin banyak yang bergabung, semakin banyak duafa dan anak yatim yang bisa kita bantu memiliki hunian layak,” demikian ujarnya.


Pos terkait