JAKARTA — Kebiasaan yang sering muncul di masyarakat adalah menganggap masa depan atlet tidak menjanjikan. Namun, hal tersebut dibantah oleh Ni Nengah Widiasih, atlet para-powerlifting asal Bali yang menjadi kebanggaan Indonesia. Baginya, menjadi atlet justru membuka peluang untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Widi mengungkapkan bahwa perhatian pemerintah terhadap atlet kini semakin meningkat. Bonus yang diberikan bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga menjadi modal untuk berkembang di luar dunia olahraga. Ia membuktikannya dengan merintis usaha kuliner sebagai langkah nyata untuk mempersiapkan masa depan sekaligus menciptakan lapangan kerja.
Pada Selasa, 17 Februari 2026, Widi resmi membuka rumah makan Babi Guling Balah Men Bingin di kawasan Kesiman, Denpasar. Usaha ini lahir dari latar belakang keluarganya yang memiliki keahlian memasak, khususnya sang ayah yang dikenal piawai dalam mengolah masakan khas Bali seperti babi guling.
Selain sebagai pengembangan bakat keluarga, usaha ini juga menjadi cara untuk bangkit dari duka setelah ibunya wafat. “Keluarga saya memang ahli memasak, terutama bapak. Jadi, mengapa tidak kita kembangkan? Sebagai bentuk kesibukan bagi bapak setelah ibu saya meninggal,” ujar Widi.
Rencana membuka usaha sudah lama ia idamkan. Namun, pencarian lokasi baru dilakukan secara serius sejak akhir 2024. Setelah beberapa kali gagal menemukan tempat yang cocok, lokasi yang diharapkan justru ditemukan pada akhir 2025, saat ia mulai pasrah dan berhenti mencari.
“Saya sempat bilang tidak usah cari lagi. Kalau rezeki pasti datang. Ternyata di akhir 2025 dapat informasi tentang tempat ini dan langsung cocok,” kata Widi.
Usaha ini menjadi bisnis pertamanya bersama kakaknya. Widi mengakui bahwa dunia kuliner sangat berbeda dengan dunia olahraga atau investasi properti yang sebelumnya lebih ia kenal. Ia baru menyadari kompleksitas pengelolaan rumah makan setelah terjun langsung.
“Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Di balik satu hidangan ada banyak proses dan orang yang terlibat,” katanya.
Sebagai atlet yang telah meraih prestasi internasional, seperti medali perunggu di Paralimpiade Rio 2016, perak di Paralimpiade Tokyo 2020, serta finis kelima di Paralimpiade Paris 2024, Widi menyadari bahwa karier atlet memiliki batas waktu. Karena itu, usaha kuliner ini menjadi persiapan jangka panjang.
“Atlet tidak bisa selamanya. Ini salah satu persiapan masa pensiun saya. Setidaknya sudah punya usaha dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Lebih jauh, Widi menekankan bahwa tujuan utamanya bukan hanya keuntungan, melainkan kebermanfaatan. Ia ingin kesuksesan yang diraih juga dirasakan oleh orang lain.
“Saya tidak mau sukses sendirian. Jika kita diberi rezeki lebih, jangan disimpan sendiri. Punya satu atau dua karyawan saja itu sudah sangat berarti,” ujarnya.
Nama Men Bingin yang disematkan pada rumah makannya diambil dari nama belakang almarhum ibunya sebagai bentuk penghormatan. Seluruh masakan diracik langsung oleh sang ayah, yang menurutnya memasak dengan penuh cinta, layaknya untuk keluarga sendiri.
“Semoga yang datang bisa merasakan cinta di setiap masakan itu,” kata Widi berharap.






