Sorotan Publik Terhadap Acara Buka Bersama Sekda Sidoarjo dan Laporan Kekayaannya
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Fenny Apridawati, baru-baru ini menjadi topik hangat perbincangan di berbagai platform media sosial. Fenomena ini dipicu oleh gelaran acara buka bersama yang diselenggarakan dengan nuansa mewah ala Bollywood di Mahabarata Palace Graha Unesa, Surabaya. Dekorasi megah dan busana khas India yang dikenakan Fenny dalam acara tersebut sontak menarik perhatian publik dan memicu beragam reaksi.
Acara yang berlangsung pada Jumat, 6 Maret 2026, ini menampilkan Fenny Apridawati dengan balutan sari kuning yang kaya akan detail hiasan ala India, seolah membawa suasana negeri Bollywood ke Surabaya. Nuansa India tidak hanya terasa dari busana yang dikenakan, tetapi juga meresap kuat pada seluruh elemen dekorasi tempat acara. Kemegahan dan keunikan acara ini dengan cepat menyebar luas di jagat maya, menjadikannya viral dalam waktu singkat.
Seiring dengan viralnya acara tersebut, perhatian publik pun turut mengarah pada kehidupan pribadi Fenny Apridawati, khususnya terkait dengan kekayaannya. Ketertarikan ini berakar pada statusnya sebagai pejabat publik yang diwajibkan melaporkan harta kekayaannya melalui Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Rincian Kekayaan Sekda Sidoarjo: Capai Rp6,5 Miliar
Berdasarkan data LHKPN yang dilaporkan kepada KPK per tanggal 31 Desember 2024, total kekayaan Fenny Apridawati tercatat mencapai angka fantastis, yaitu Rp6.516.163.038. Angka ini tentu memicu rasa penasaran publik mengenai sumber dan rincian aset yang dimilikinya.
Berikut adalah rincian lengkap dari harta kekayaan Fenny Apridawati:
- Tanah dan Bangunan:
- Total nilai aset tanah dan bangunan mencapai Rp4.885.000.000.
- Rinciannya meliputi:
- Tanah seluas 1.221 meter persegi di Kabupaten Sidoarjo, yang diperoleh dari hasil sendiri, senilai Rp185.000.000.
- Tanah seluas 950 meter persegi di Kabupaten Sidoarjo, juga hasil sendiri, dengan nilai Rp150.000.000.
- Tanah dan bangunan seluas 96 meter persegi di Kota Surabaya, hasil sendiri, senilai Rp950.000.000.
- Tanah dan bangunan seluas 207 meter persegi di Kota Surabaya, senilai Rp3.000.000.000.
- Tanah dan bangunan seluas 35 meter persegi di Kota Surabaya, hasil sendiri, senilai Rp600.000.000.
Alat Transportasi dan Mesin:
- Total nilai aset transportasi dan mesin adalah Rp581.000.000.
- Aset yang tercatat meliputi:
- Sepeda motor Honda Vario tahun 2014, hasil sendiri, senilai Rp11.000.000.
- Mobil Mitsubishi Pajero Sport Dakar tahun 2018, hasil sendiri, senilai Rp435.000.000.
- Mobil Suzuki Ignis Minibus tahun 2017, hasil sendiri, senilai Rp135.000.000.
Harta Bergerak Lainnya:
- Nilai harta bergerak lainnya tercatat sebesar Rp499.500.000.
Surat Berharga:
- Tidak tercatat adanya surat berharga dalam laporan tersebut.
Kas dan Setara Kas:
- Jumlah kas dan setara kas yang dimiliki adalah Rp550.663.038.
Harta Lainnya:
- Tidak tercatat adanya harta lainnya dalam laporan tersebut.
Sub Total Harta Kekayaan:
- Jumlah sub total dari seluruh aset yang dilaporkan adalah Rp6.516.163.038.
Utang:
- Tidak tercatat adanya utang dalam laporan tersebut.
Total Harta Kekayaan Bersih:
- Dengan demikian, total harta kekayaan bersih Fenny Apridawati adalah Rp6.516.163.038.
Penegasan dan Permohonan Maaf
Menanggapi sorotan publik dan polemik yang timbul, Fenny Apridawati memberikan klarifikasi penting. Ia menegaskan bahwa seluruh biaya yang dikeluarkan untuk acara buka bersama mewah tersebut tidak bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Meskipun demikian, ia tidak merinci secara spesifik dari mana sumber pendanaan acara tersebut berasal, yang dihadiri oleh sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.
“Perlu saya sampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak menggunakan anggaran APBD,” ujar Fenny, menekankan bahwa acara tersebut bukan menggunakan dana publik.
Lebih lanjut, Fenny menjelaskan bahwa acara buka bersama tersebut tidak hanya sekadar ajang silaturahmi. Kegiatan ini juga diisi dengan agenda koordinasi dan pembahasan program-program strategis pemerintah daerah. Beberapa topik yang diangkat meliputi:
- Pembahasan mengenai Pagu Indikatif Wilayah Kecamatan/Kapanewon (PIWK).
- Diskusi mengenai distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
- Upaya-upaya perbaikan infrastruktur jalan di wilayah Sidoarjo.
Di sisi lain, Fenny Apridawati menyadari bahwa gelaran acara buka bersama dengan konsep mewah tersebut telah menimbulkan polemik dan beragam tanggapan negatif di kalangan masyarakat. Ia mengakui bahwa sebagai seorang pejabat publik, ia seharusnya lebih berhati-hati dan peka dalam setiap tindakan, terutama dalam mendokumentasikan aktivitas, terlebih lagi di tengah kondisi yang dirasakan oleh warga.
“Kami menyadari bahwa sebagai pelayan publik, kami seharusnya lebih peka dan sensitif dalam mendokumentasikan aktivitas, terutama di tengah situasi yang dirasakan warga,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Fenny Apridawati menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh masyarakat Sidoarjo. Ia menyatakan bahwa masukan dan kritik yang diterima akan menjadi pelajaran berharga, mengingat kepercayaan masyarakat merupakan elemen krusial dalam keberlangsungan roda pemerintahan.
“Saya menyampaikan permohonan maaf yang setulus-tulusnya kepada seluruh masyarakat Sidoarjo,” tandasnya, menunjukkan kesadaran akan dampak sosial dari tindakannya.





