PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) akhirnya memberikan pernyataan terkait isu keterlibatan Grup Sinarmas sebagai salah satu investor. Kabar ini sempat menjadi perbincangan di pasar saham, yang menyebut bahwa Grup Sinarmas sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih kepemilikan saham minoritas di BULL.
Sekretaris Perusahaan BULL, Krisnanto Tedjaprawira, menjelaskan bahwa hubungan antara BULL dan Grup Sinarmas sebenarnya sudah berlangsung sejak 2018 melalui Bank Sinarmas. Namun, hingga saat ini, manajemen belum dapat memastikan apakah akan ada aksi investasi lanjutan dalam waktu dekat seperti yang beredar di pasar.
“Tetapi tidak menutup kemungkinan kita akan berkolaborasi lebih lanjut di tahun-tahun ke depan,” ujar Krisnanto dalam paparan publik kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Senin (29/12).
Selain itu, BULL juga menyebut adanya entitas Fortune Street Limited yang disebut akan masuk sebagai investor. Menurut Krisnanto, Fortune Street Limited merupakan investor asal Hong Kong, namun perseroan tidak bisa mengungkapkan identitas grup di balik entitas tersebut. Investor ini disebut memiliki minat untuk berinvestasi di BULL.
Direktur BULL, Wong Kevin, menegaskan bahwa pihaknya belum bisa memberikan komentar lebih lanjut terkait isu investasi sebelum adanya kesepakatan final. Ia menekankan bahwa BULL tidak akan memberikan komentar apa pun sebelum ada kepastian resmi.
“Tentunya kalau mengenai itu kita mungkin tidak ada komentar apapun sebelum ada spesifik final atau apa, jadi itu kita totally no comment. Tapi, kalau kita lihat prospek usaha kami ke depan sangat material dan boleh dibilang transformational,” ujar Wong.
Menurut dia, BULL memiliki peluang untuk menempuh berbagai langkah strategis, baik melalui aksi korporasi, pendanaan baru, maupun menggandeng investor tertentu guna mengeksekusi rencana bisnis jangka panjang.
Berdasarkan profil perusahaan, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) merupakan perusahaan pelayaran tanker minyak dan gas yang didirikan pada 12 Mei 2005. Perseroan menyediakan layanan transportasi minyak dan gas domestik, termasuk pengangkutan minyak mentah, produk minyak serta gas seperti LPG. BULL tercatat sebagai perusahaan pelayaran domestik pertama yang memiliki dan mengoperasikan Very Large Gas Carrier (VLGC) di Indonesia.
BULL resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2011 dengan harga penawaran umum perdana (IPO) Rp 155 per saham. Hingga perdagangan hari ini, saham BULL telah naik 216,67% secara year to date ke level Rp 380, dari posisi Rp 124 pada 2 Januari lalu.
Sebelumnya, Grup Sinarmas juga melakukan aksi korporasi dengan mengakuisisi perusahaan jaringan telekomunikasi PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) atau Moratelindo pada 18 Desember 2025. Akuisisi tersebut dilakukan melalui anak usaha PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Berdasarkan keterbukaan informasi di BEI, transaksi akuisisi tersebut ditargetkan rampung pada semester pertama 2026. Setelah aksi tersebut selesai, MORA akan berganti nama menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk dan menerbitkan 24,12 miliar saham baru bagi pemegang saham Eka Mas Republik, setara dengan 50,50% dari total saham setelah merger.





