Cindy Rizap Buka Suara Soal Isu Liburan ke Jepang Bareng Suami Maissy

Bantahan Keras: Kreator Konten Cindy Rizap Sanggah Isu Jadi Orang Ketiga dalam Rumah Tangga Maissy Pramaisshela

Nama kreator konten Cindy Rizap belakangan ini menjadi pusat perhatian publik, menyusul tudingan miring yang menyebutkan dirinya sebagai orang ketiga dalam biduk rumah tangga mantan penyanyi cilik, Maissy Pramaisshela, dengan suaminya, Riky Febriansyah. Isu yang beredar bahkan mengklaim bahwa Cindy Rizap dan Riky Febriansyah kedapatan melakukan liburan bersama ke Jepang. Namun, pihak Cindy Rizap dengan tegas membantah seluruh tudingan tersebut.

Penjelasan Kuasa Hukum: Perjalanan ke Jepang Bersama Keluarga

Menanggapi isu yang semakin memanas, kuasa hukum Cindy Rizap, Machi Ahmad, memberikan klarifikasi mendalam. Ia menegaskan bahwa kliennya memang melakukan perjalanan ke Jepang, namun bukan bersama Riky Febriansyah seperti yang dituduhkan. “Ini bersama ibunda saat Cindy ke Jepang. Di saat sedang berkoas,” ujar Machi Ahmad saat ditemui di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada Kamis (19/3). Pernyataan ini secara langsung menyanggah narasi yang dibangun oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Cindy Rizap sendiri menjelaskan bahwa foto dan video yang beredar luas itu memang diambil saat dirinya sedang menjalani masa libur semester. Ia memiliki waktu libur selama 10 hari, yang dimanfaatkannya untuk berlibur bersama sang ibunda. “Waktu itu koas saya memang libur 10 hari, bukan saya cuti atau apa pun itu, memang libur semester 10 hari,” ungkap Cindy, menjelaskan konteks liburannya. Ia juga membagikan momen-momen keseruannya selama berlibur bersama ibundanya, menunjukkan bahwa perjalanannya murni bersifat keluarga.

Lebih lanjut, Cindy Rizap merinci bahwa ia telah melakukan perjalanan ke Jepang sebanyak dua kali. Kunjungan pertama dilakukan saat ia mengambil cuti selama satu bulan pada Desember 2025. Sementara itu, kunjungan kedua adalah saat ia mendapatkan libur semester selama 10 hari pada periode Januari hingga Februari 2026. “Saya itu ke Jepang dua kali. Jadi memang waktu itu saya cuti satu bulan itu bulan Desember. Yang kedua itu yang dapat libur 10 hari, Januari-Februari,” jelas Cindy Rizap. Rincian ini semakin memperkuat bantahannya terhadap isu yang mengaitkannya dengan Riky Febriansyah.

Machi Ahmad menambahkan bahwa pihaknya memiliki bukti-bukti kuat yang mendukung pernyataan Cindy Rizap. Bukti tersebut menunjukkan bahwa kliennya memang ditemani oleh sang ibunda selama kunjungannya ke Jepang. “Ya cuma memang Cindy ini bersama ibu, tidak memposting kebersamaannya, tetapi kami sudah siapkan bukti-bukti memang keluarganya Cindy juga ikut kok ke Jepang,” tegas Machi Ahmad. Hal ini menunjukkan keseriusan tim kuasa hukum dalam membantah tudingan palsu yang merusak reputasi kliennya.

Hubungan dengan Riky Febriansyah: Sekadar Rekan Profesional

Terkait dengan tudingan hubungan personal dengan Riky Febriansyah, Cindy Rizap memberikan penegasan yang sangat jelas. Ia menyatakan bahwa tidak ada hubungan khusus secara personal antara dirinya dengan Riky. “Kalau untuk hubungan secara personal saya tidak ada sama sekali. Itu hubungan antar, ya Dokter Riky itu kan memang dokter gitu, sedangkan saya anak koas yang masih menempuh pendidikan,” tutur Cindy Rizap. Ia menekankan bahwa interaksinya dengan Riky Febriansyah murni sebatas hubungan profesional dalam lingkungan medis.

Cindy Rizap menjelaskan lebih lanjut bahwa dalam lingkungan pendidikan koas, berbagi informasi dengan dokter-dokter lain adalah hal yang lumrah dan merupakan bagian dari proses pembelajaran. “Dan memang di perkoasan itu kami suka berbagi informasi kepada dokter-dokter yang lain juga. Jadi bukan Dokter Riky saja,” sambungnya. Penjelasannya ini mengindikasikan bahwa interaksi yang terjadi adalah standar dalam dunia kedokteran dan tidak memiliki konotasi personal yang menyimpang.

Dengan adanya bantahan tegas dari Cindy Rizap dan kuasa hukumnya, serta penjelasan rinci mengenai aktivitasnya, diharapkan publik dapat memahami duduk perkara yang sebenarnya dan tidak mudah termakan isu yang belum terverifikasi. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya menyaring informasi dan menghindari penyebaran berita bohong yang dapat merugikan banyak pihak.

Pos terkait