Derita Daring: Seni Tersiksa di Genggaman

“Hobi kok nyiksa diri! Berhenti bandingin hidupmu sama filter hape orang lain. Ingat, setiap orang punya jalur lari dan zona waktu masing-masing.”

Pernahkah Anda merasakan momen ketika sedang asyik menjelajahi media sosial sebelum tidur, bermaksud mencari hiburan, namun malah berakhir dengan perasaan tidak nyaman? Dimulai dari menonton video-video ringan, tiba-tiba algoritma menyajikan konten tentang teman SMA yang sudah membeli rumah baru atau selebritas yang rutin berlibur ke luar negeri. Seketika, kenyamanan kamar tidur terasa berubah menjadi sesak. Ketenangan yang tadinya ada lenyap, digantikan oleh perasaan minder yang datang lebih cepat daripada tagihan bulanan.

Kita seringkali terjebak dalam siklus ini. Membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain telah menjadi semacam kebiasaan kolektif di era modern, seringkali tanpa disadari. Masalahnya, kebiasaan ini bukannya membuat kita menjadi lebih baik, justru membuat kita semakin ahli dalam menyakiti diri sendiri secara mental. Padahal, jika dipikirkan lebih dalam, apa gunanya membandingkan hidangan sederhana kita dengan hidangan mewah orang lain jika pada akhirnya hanya akan menimbulkan rasa iri yang membuat perut mual?

Akar Perbandingan yang Mengakar di Era Digital

Sebenarnya, kecenderungan untuk membandingkan diri bukanlah semata-mata karena kurangnya spiritualitas atau waktu luang. Para ahli menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan alami untuk mengevaluasi diri mereka.

Dalam ilmu psikologi, terdapat teori yang dikenal sebagai Teori Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory), yang pertama kali dikemukakan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Teori ini menyatakan bahwa manusia membutuhkan orang lain sebagai cermin untuk mengukur seberapa baik kemampuan atau kualitas diri mereka dalam konteks sosial.

Di masa lalu, ‘cermin’ kita mungkin hanya sebatas tetangga sebelah atau beberapa rekan kerja. Informasi yang masuk ke otak masih relatif mudah diproses. Namun kini, dengan kemajuan teknologi, kita membandingkan diri dengan miliaran orang dari seluruh dunia yang bahkan tidak kita kenal. Kita melihat standar kesuksesan dari orang-orang yang mungkin sudah memulai jauh di depan, sementara kita masih berjuang untuk memenuhi kewajiban finansial sehari-hari.

Fenomena ini semakin diperparah oleh kenyataan bahwa apa yang kita lihat di layar ponsel seringkali adalah versi kehidupan orang lain yang telah dipoles sedemikian rupa. Kita sering tidak menyadari bahwa kita sedang melakukan perbandingan yang tidak adil. Kita membandingkan kekacauan batin dan kehidupan pribadi kita yang berantakan dengan apa yang mungkin merupakan hasil editan foto dari belasan filter yang dicoba oleh orang lain. Ini sama saja dengan mencari masalah yang sebenarnya tidak perlu ada.

Jebakan Perbandingan ke Atas dan Hilangnya Kebahagiaan Sederhana

Dalam psikologi, dikenal istilah “perbandingan ke atas” (upward comparison), di mana kita melihat orang-orang yang lebih sukses, lebih kaya, atau tampak lebih sempurna dengan harapan untuk termotivasi. Namun, ironisnya, bukannya terinspirasi, kita justru seringkali terjebur dalam jurang rasa rendah diri.

Kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus tanpa batasan dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan diri. Kita lupa bahwa setiap orang memiliki beban dan perjuangan yang tidak pernah dipublikasikan di linimasa media sosial mereka.

Kita cenderung melihat kesuksesan orang lain sebagai bukti kegagalan kita sendiri. Padahal, kehidupan bukanlah sebuah perlombaan lari dengan garis start dan finish yang sama untuk semua orang. Ada orang yang menempuh jalannya melalui kemudahan karena privilege, sementara yang lain harus berjuang melalui jalan terjal karena keadaan yang berbeda.

Membandingkan kecepatan seseorang yang melaju di jalan tol dengan kita yang sedang mendaki gunung hanya dengan alas kaki seadanya adalah sebuah kekonyolan yang luar biasa.

Dampak dari kebiasaan membanding-bandingkan ini tidak hanya memicu rasa panas di hati, tetapi juga mengancam kesehatan mental kita. Seringkali membandingkan diri dapat memicu stres berkepanjangan dan menurunkan harga diri hingga ke titik terendah. Kita menjadi sulit untuk merasa cukup. Berapapun pencapaian yang telah kita raih, semuanya akan terasa hambar ketika kita melihat ada orang lain yang selangkah lebih maju.

Mengapa Kita Cenderung Menjadi Hakim yang Kejam bagi Diri Sendiri?

Anehnya, kita seringkali menjadi hakim yang paling keras bagi diri sendiri, namun menjadi pembela yang paling gigih bagi orang lain. Ketika melihat teman sukses, kita akan memuji kerja kerasnya. Namun, ketika kita sendiri yang meraih kesuksesan, kita cenderung menganggapnya hanya sebagai faktor keberuntungan. Sebaliknya, saat kita gagal, kita seringkali menghakimi diri sendiri seolah-olah kita adalah makhluk paling tidak berguna di alam semesta ini. Mengapa kita tidak bisa sedikit lebih lunak terhadap diri sendiri?

Mungkin karena standar kesuksesan di masyarakat kita telah menjadi terlalu kaku. Sukses seringkali diidentikkan dengan memiliki mobil mewah, jabatan tinggi, atau rumah idaman sebelum usia tertentu. Padahal, kesuksesan bisa sesederhana bangun pagi tanpa rasa cemas berlebihan atau berhasil menyelesaikan pekerjaan tepat waktu tanpa perlu lembur hingga kelelahan. Kita membutuhkan standar internal yang lebih realistis daripada terus-menerus menengok standar eksternal yang justru membuat napas semakin sesak.

Belajar Menutup Mata dari Kilau Kehidupan Orang Lain

Lalu, bagaimana cara agar kita tidak menjadi gila karena urusan membanding-bandingkan ini? Salah satu cara paling efektif yang disarankan oleh para ahli adalah dengan mempraktikkan belas kasih pada diri sendiri (self-compassion). Kita perlu membiasakan diri untuk berbicara positif kepada diri sendiri secara internal. Tidak perlu muluk-muluk, cukup akui bahwa kita telah berusaha keras dan setiap orang memang memiliki ‘zona waktu’ masing-masing yang tidak bisa dipaksakan untuk disamakan.

Selain itu, membatasi waktu penggunaan media sosial juga sangat membantu. Jika ada akun tertentu yang memicu perasaan iri dan dengki, lebih baik untuk meredamnya (mute) atau bahkan berhenti mengikutinya (unfollow). Jangan merasa tidak enak hati. Kesehatan mental kita jauh lebih penting daripada perasaan sungkan karena berhenti mengikuti kehidupan seseorang yang justru membuat kita merasa kecil. Kita membutuhkan ketenangan untuk fokus pada apa yang ada di depan mata kita sendiri.

Fokus untuk mengembangkan kelebihan yang kita miliki bisa menjadi penawar yang ampuh. Alih-alih sibuk melihat apa yang tidak kita miliki, lebih baik kita mengasah apa yang sudah ada di tangan. Dengan begitu, waktu kita untuk mengurusi urusan orang lain akan berkurang dengan sendirinya. Fokuslah untuk menjadi versi terbaik dari diri kita hari ini, bukan menjadi tiruan dari kehidupan orang lain yang mungkin aslinya tidak sebahagia kelihatannya.

Berdamai dengan Nasib dan Mensyukuri Hal-hal Kecil

Berdamai dengan kenyataan bahwa kita mungkin tidak akan pernah sekaya tokoh-tokoh ternama atau secantik bintang film terkenal adalah langkah awal menuju kebahagiaan sejati. Tidak apa-apa jika hidup kita biasa-biasa saja. Tidak apa-apa jika pencapaian kita hari ini hanyalah berhasil memasak nasi goreng yang enak atau berhasil berolahraga selama sepuluh menit. Hal-hal sederhana seperti itu layak dirayakan, daripada terus meratapi nasib yang tak kunjung berubah menjadi bergelimang harta dalam semalam.

Pada akhirnya, kehidupan adalah sebuah perjalanan personal, bukan ajang pameran atau perlombaan estafet. Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun melalui unggahan di media sosial. Cukup buktikan pada diri sendiri bahwa hari ini kita bisa lebih tenang dan lebih bersyukur daripada kemarin. Berhenti menyiksa diri dengan layar ponsel, matikan koneksi internet, dan mulailah melihat ke dalam diri. Di sana terdapat banyak potensi yang selama ini terabaikan hanya karena kita terlalu sibuk melihat keluar jendela rumah orang lain.

Menggeser fokus dari penilaian eksternal ke internal adalah kunci untuk menjaga kesehatan mental. Jadi, jika nanti malam jari Anda mulai gatal ingin menjelajahi media sosial dan hati mulai merasa minder, ingatlah bahwa setiap orang memiliki jalur larinya masing-masing. Tidak perlu menengok ke kanan dan ke kiri hingga leher pegal. Cukup berlari perlahan di jalur Anda sendiri, yang terpenting adalah sampai tujuan dengan perasaan yang tetap utuh dan bahagia tanpa harus mengorbankan ketenangan batin.

Pos terkait