Mengetikkan kata “saya” di layar seringkali terasa seperti mengenakan sepatu pesta untuk acara resmi, padahal kaki jauh lebih nyaman melangkah dengan sepatu boots kesayangan. Sepatu yang lebih formal mungkin tepat bagi sebagian orang, tetapi bagi saya, langkah terasa berat dan tidak alami. Layar putih di hadapan saya berubah menjadi dinding kaca yang dingin, memisahkan perasaan yang sesungguhnya dengan kata-kata yang terucap. Kelincahan jemari yang biasanya menari saat mengetik “aku”—kata sederhana yang terasa seperti mengobrol ringan dengan sahabat lama sambil menyeruput teh hangat—hilang seketika.
Semua ini bermula dari keinginan untuk bisa menembus kanal Kata Netizen di Kompas.com. Sebagai penulis yang ingin berkembang, saya kerap bertanya kepada rekan-rekan sesama penulis mengenai kriteria tulisan yang bisa lolos kurasi di sana. Jawaban yang saya terima hampir selalu seragam: gunakan kata “saya” alih-alih “aku” agar terdengar lebih profesional dan sopan. Pernyataan itu membuat saya terhenyak. “Betulkah itu sebabnya tulisan saya belum pernah terpilih?” pikir saya dalam hati.
Akhirnya, saya memutuskan untuk mencoba “mengganti sepatu”. Dalam dua artikel terakhir saya, satu tentang peringatan Hari Introvert Sedunia dan satu lagi tentang fenomena Wolfmoon, saya membuang kata “aku” dan menggantinya dengan “saya”. Ironisnya, kedua topik tersebut sangat dekat dengan jiwa saya. Hari Introvert berbicara tentang ruang personal yang dalam, sementara Wolfmoon mengisahkan kekaguman pada keagungan semesta.
Namun, sebuah keganjilan terjadi. Biasanya, saat menulis, saya merasa seperti sedang menari di atas tuts kibor. Kali ini, setiap kali kata “saya” muncul, saya merasa sedang mengisi formulir administrasi di kantor kelurahan—kaku, dingin, dan berjarak. Hasilnya pun bisa ditebak. Kata demi kata dalam kedua artikel tersebut justru terasa seolah-olah terperangkap di balik tembok yang tinggi dan kaku. Saya merasa pesan di balik tulisan saya tidak sampai ke hati para pembaca.
Saya baru menyadari bahwa ada semacam “beban formalitas” yang luar biasa saat beralih dari kata “aku” ke “saya”. Kata “saya” seringkali terasa seperti mengenakan blazer rapi di ruang rapat yang penuh AC, sementara “aku” terasa seperti kaus oblong favorit saat sedang santai nongkrong di kafe. Ada paradoks di sini: saya mengejar standar profesionalisme demi pengakuan media besar, tetapi di saat yang sama, tulisan saya justru kehilangan ruh atau resonansinya.
Ketidaknyamanan ini ternyata nyata dan berdampak pada kualitas karya. Bukankah tulisan yang mengalir dan jujur biasanya lahir dari kenyamanan penulisnya sendiri? Jika penulisnya saja merasa asing dengan suara yang ia tuliskan, bagaimana mungkin pembaca bisa merasa dekat dan terhubung?
Pengalaman ini kembali mengingatkan saya pada tujuan utama saya menulis: berbagi ide dan pengalaman. Menulis adalah tentang kejujuran rasa. Terlebih, genre tulisan saya lebih banyak bermain di ranah refleksi diri, berbagi pengalaman hidup, atau terkadang imajinasi fiksi. Di ranah ini, kedekatan emosional adalah segalanya. Bagi saya, menggantinya dengan bahasa yang formal justru menciptakan jurang antara diri saya dan pembaca.
Fleksibilitas Penggunaan Kata Ganti Diri
Sebenarnya, jika berkaca pada interaksi di dunia nyata, saya pun melakukan hal yang sama dalam berkomunikasi. Kata “aku” hanya keluar untuk mereka yang sudah benar-benar akrab dan dekat. Sebaliknya, pada acara-acara resmi atau dalam grup percakapan yang isinya beragam karakter dan profesi, saya selalu menggunakan kata “saya” untuk menjaga kesantunan dan menunjukkan rasa hormat. Ternyata, saya sempat lupa membawa prinsip “tahu tempat” ini ke dalam draf tulisan saya, hingga memaksakan “seragam resmi” pada saat saya sebenarnya ingin bercengkerama santai dengan pembaca.
Namun, bukan berarti saya akan menyerah begitu saja pada kata “saya”. Saya akan tetap mencoba melatihnya, tetapi dengan strategi yang lebih bijak dengan memilah tulisan saya menjadi dua arah yang berbeda:
Penggunaan Kata “Saya” untuk Konteks Formal:
Saya akan menggunakan kata “saya” untuk tulisan-tulisan yang bersifat edukasi, opini formal, atau pembahasan seputar dunia pendidikan yang memang membutuhkan wibawa dan bobot bahasa yang lebih serius. Dalam konteks ini, formalitas membantu membangun kredibilitas dan otoritas penulis.Penggunaan Kata “Aku” untuk Konteks Personal dan Reflektif:
Sementara itu, kata “aku” akan tetap menjadi rumah bagi ruang berbagi rasa, cerita personal, dan refleksi hati. Di sinilah keintiman emosional dengan pembaca dibangun, memungkinkan transfer pengalaman dan perasaan yang lebih mendalam.
Momen ini mengajarkan saya sebuah pelajaran berharga: mengikuti standar media memang penting. Namun, jangan sampai standar tersebut justru menutup karakter asli kita atau mematikan suara otentik yang ingin kita sampaikan. Di balik setiap paragraf yang memikat, selalu ada detak jantung penulis yang jujur, yang berani melangkah dengan “sepatunya” sendiri, menemukan keseimbangan antara profesionalisme dan keaslian diri.






