Imbauan Dinas Pertanian Jawa Tengah untuk Penyembelihan Kurban yang Aman dan Sehat
Dalam menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah memberikan sejumlah imbauan penting terkait proses penyembelihan hewan kurban. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat memperoleh daging yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH), serta menghindari risiko kontaminasi bakteri yang bisa merusak kualitas daging.
Prinsip ASUH dalam Penyembelihan Hewan Kurban
Salah satu prinsip utama yang ditekankan oleh Distanak Jateng adalah penerapan prinsip ASUH. Hal ini mencakup berbagai aspek mulai dari pengambilan hewan hingga distribusi daging kepada masyarakat. Salah satu poin pentingnya adalah bahwa hewan kurban harus diperlakukan dengan baik agar tidak mengalami stres. Stres pada hewan dapat berdampak negatif terhadap kualitas daging, seperti perubahan warna dan tekstur yang tidak optimal.
Penyembelihan Ideal di Rumah Potong Hewan
Menurut Pokja Kesehatan Masyarakat Veteriner Distanak Jawa Tengah, Diana Dwi Ariantie, penyembelihan ideal dilakukan di Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R). Namun, dalam kondisi tertentu, seperti di masjid atau balai desa, penyembelihan tetap diperbolehkan selama memenuhi standar kesehatan masyarakat veteriner dan kesejahteraan hewan.
Ia menekankan bahwa perlakuan terhadap hewan sebelum disembelih sangat berpengaruh terhadap kualitas daging. Oleh karena itu, proses penyembelihan harus dilakukan dengan memperhatikan kesejahteraan hewan dan menjaga kebersihan secara ketat.
Kebersihan Saat Pengulitan dan Pemotongan
Diana juga mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan saat melakukan pengulitan dan pemotongan hewan. Ia menyarankan agar daging tidak langsung bersentuhan dengan tanah, karena berisiko terkontaminasi bakteri. Setelah disembelih, hewan sebaiknya diangkat menggunakan balok atau pengait agar daging tetap terjaga kebersihannya.
Selain itu, penanganan jeroan juga harus dilakukan secara terpisah. Jeroan merah seperti hati, paru, limpa, dan ginjal harus dipisahkan dari jeroan hijau seperti usus dan lambung. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko pencemaran silang akibat bakteri yang lebih rentan terdapat pada jeroan hijau.
Distribusi Daging Maksimal Empat Jam
Proses distribusi daging kurban juga menjadi perhatian khusus Distanak Jateng. Diana menegaskan bahwa daging sebaiknya segera dibagikan kepada masyarakat dalam waktu empat hingga lima jam setelah penyembelihan. Hal ini dilakukan karena bakteri berkembang sangat cepat, sehingga jika terlalu lama, kualitas daging bisa menurun dan mudah busuk.
Untuk pengemasan, masyarakat dianjurkan menggunakan wadah food grade seperti plastik bening atau besek bambu. Selain itu, daging sapi dan kambing tidak disarankan dicampur dalam satu kemasan agar tidak terjadi penyebaran kontaminasi.
Penyimpanan Daging yang Benar
Dalam penyimpanan daging kurban, masyarakat diminta untuk tidak langsung mencuci daging sebelum memasukkan ke lemari pendingin. Diana menjelaskan bahwa daging cukup dilap hingga kering sebelum disimpan atau dibekukan. Jika ingin daging dimasak esok hari, sebaiknya daging beku dipindahkan ke bagian bawah kulkas semalaman agar proses pencairannya lebih aman.
Penanganan Penyakit Hewan
Diana juga menyebutkan tentang penyakit hewan seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) maupun Lumpy Skin Disease (LSD). Meskipun kedua penyakit tersebut bukan termasuk zoonosis, bagian tertentu seperti kepala, kaki, dan buntut tetap harus direbus terlebih dahulu menggunakan air mendidih selama 30 menit sebelum diolah lebih lanjut.
Batas ideal dari penyembelihan sampai diterima masyarakat sekitar empat jam. Hal ini dilakukan untuk mencegah perkembangan bakteri agar daging tetap layak konsumsi.





