Ekonom Peringatkan Dampak Tarif Trump pada Ekspor Indonesia



JAKARTA — Center of Reform on Economics (Core) Indonesia mencatat adanya tren pelemahan kinerja ekspor Indonesia sejak Agustus 2025. Hal ini terjadi karena adanya tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal, menyebutkan bahwa penurunan ekspor terlihat konsisten baik secara tahunan maupun bulanan.

“Polanya itu kan setelah bulan Agustus ya, terutama setelah berlakunya tarif resiprokal Donald Trump. Ini kita bisa lihat bahwa ekspornya itu sedikit demi sedikit turun, sejak Agustus, dari ke September, Oktober,” kata Faisal kepada Bisnis, Senin (1/12/2025).

Jika melihat data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2025, nilai ekspor Indonesia mencapai US$24,96 miliar. Angka tersebut kemudian turun menjadi US$24,67 miliar pada September 2025 dan berlanjut turun menjadi US$24,24 miliar pada Oktober 2025. Secara tahunan (year-on-year/yoy), BPS juga mencatat penurunan ekspor sebesar 2,31% dibanding Oktober 2024 yang mencapai US$24,81 miliar.

Faisal menilai penurunan ekspor ini mencerminkan tekanan struktural, bukan sekadar fluktuasi sesaat. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan kenaikan impor. Menurutnya, kondisi ini logis lantaran beban tarif membuat ekspor Indonesia ke AS terhambat, sedangkan pada saat yang sama, Indonesia diwajibkan untuk menyerap lebih banyak produk dari negara Paman Sam.

“Impor Indonesia itu bukan hanya dari Amerika yang meningkat, tetapi juga limpahan dari negara lain seperti dari China,” ujarnya.

Sebelum Agustus, Faisal menjelaskan, kinerja ekspor relatif kuat karena fenomena front loading, di mana eksportir mempercepat pengiriman untuk menghindari tarif Trump. Dampaknya, ekspor kumulatif Januari—Oktober 2025 tetap lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai US$234,04 miliar atau naik 6,96% dari US$218,82 miliar pada 2024.

“Para eksportir dan importir dari negara tujuan berlomba-lomba untuk melakukan aktivitas [pengiriman] ekspor ke Amerika sebelum tarif [Trump] itu berlaku, sehingga ekspor juga jadi naik sebelum Agustus,” terangnya.

Namun, Faisal menuturkan tren berbalik setelah Agustus, sehingga performa ekspor hingga akhir tahun diproyeksi tetap turun. Faisal bahkan mewanti-wanti bahwa tekanan ini kemungkinan akan berlanjut sepanjang 2026.

Meski ekspor melemah, Faisal menyebut surplus neraca perdagangan Indonesia tetap terjaga dan mencapai US$35,88 miliar sepanjang Januari—Oktober 2025. Nilainya naik US$10,98 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini membuat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus selama 66 bulan berturut-turut.

Kendati demikian, Faisal memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia sulit mencapai US$40 miliar pada akhir tahun ini. Lebih lanjut, dia mengingatkan bahwa tekanan ke depan jauh lebih besar. Untuk itu, Faisal menilai pemerintah perlu menegosiasikan ulang kesepakatan tarif dengan AS yang selama ini bersifat tidak tertulis.

Menurut Faisal, kebijakan Trump pada tahap implementasi kerap berubah, sehingga masih ada ruang untuk menekan ulang besaran tarif yang dikenakan pada komoditas tertentu. Beberapa tarif, sambungnya, termasuk produk pangan, bahkan dibatalkan untuk mencegah inflasi domestik AS.

Pos terkait