Energi 2025: Akuisisi Bumi, Medco, Arsari Menggebrak

Aktivitas akuisisi di sektor energi Indonesia sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren yang signifikan, mencakup berbagai aset mulai dari blok minyak dan gas bumi (migas) hingga tambang. Sejumlah perusahaan energi terkemuka bersikap agresif dalam memperluas portofolio bisnis mereka, mengukuhkan posisi di pasar domestik maupun internasional.

PT Bumi Resources Tbk. (BUMI): Ekspansi ke Negeri Kanguru dan Industri Bauksit

PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), salah satu emiten energi terkemuka yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan Grup Salim, secara aktif memperluas jangkauan asetnya. Sepanjang tahun 2025, BUMI telah merampungkan dua aksi akuisisi signifikan di Australia.

Pada 7 November 2025, BUMI resmi menyelesaikan akuisisi 100% saham Wolfram Limited (WFL), sebuah perusahaan tambang tembaga dan emas asal Australia. Nilai transaksi untuk akuisisi ini mencapai 63,5 juta dolar Australia, atau setara dengan Rp698,98 miliar. Akuisisi WFL membuka akses bagi BUMI terhadap sumber daya tembaga yang substansial dan memperkuat kehadirannya di koridor tembaga-emas Australia yang memiliki rekam jejak teruji.

Tidak lama berselang, pada 18 Desember 2025, BUMI kembali mengumumkan penyelesaian akuisisi Jubilee Metals Limited (JML). Transaksi ini bernilai Rp346,93 miliar atau setara dengan 31,47 juta dolar Australia. Melalui transaksi ini, BUMI mengambil bagian atas 3.312.632 saham baru yang diterbitkan JML, sehingga meningkatkan kepemilikan totalnya menjadi 5.734.770 saham, atau setara dengan 64,98%. JML sendiri merupakan perusahaan tambang emas yang telah memasuki tahap produksi. Langkah strategis ini sejalan dengan rencana transformasi BUMI dan merupakan bagian dari program diversifikasi usaha di luar sektor batu bara. Akuisisi JML dilakukan secara bertahap melalui konversi utang menjadi penyertaan modal dan penyelesaian transaksi jual beli saham.

Di pasar domestik, BUMI juga menjalin kesepakatan strategis dengan PT Supreme Global Investment (SGI) untuk mengakuisisi 45% saham PT Laman Mining, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan bauksit di Indonesia. Kesepakatan ini tertuang dalam term sheet yang ditandatangani pada 25 September 2025. Nilai pembelian saham ini ditetapkan sebesar US$59,1 juta, yang akan dibayarkan dalam dua tahap. Dengan asumsi kurs Rp16.732 per dolar AS pada 13 November 2025, nilai akuisisi ini setara dengan Rp988,86 miliar.

PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC): Penguatan Portofolio Migas

PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) menunjukkan pergerakan agresif dalam memperkuat portofolio bisnisnya di sektor minyak dan gas bumi. Pada Juli 2025, Medco berhasil menyelesaikan akuisisi Fortuna International (Barbados) Inc. dari Repsol E&P, S.à.r.l. Akuisisi ini memberikan Medco kontrol tidak langsung atas 24% hak kepemilikan di Blok Corridor.

Pasca-akuisisi, hak partisipasi Medco di Blok Corridor meningkat dari 46% menjadi 70%, dengan sisa kepemilikan dipegang oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Nilai transaksi akuisisi ini dilaporkan mencapai US$425 juta, atau setara dengan Rp6,92 triliun dengan kurs rupiah Rp16.300 per dolar AS.

Komitmen Medco dalam memperluas aset migas tidak berhenti di situ. Pada September 2025, perusahaan mengumumkan kesepakatan untuk mengambil alih 45% hak partisipasi sekaligus peran operator pada PSC Sakakemang, serta 80% hak partisipasi dan peran operator pada PSC South Sakakemang. Sebelumnya, kedua blok ini dioperatori oleh Repsol.

Selain itu, MedcoEnergi juga memperkuat kepemilikan sahamnya di PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) melalui serangkaian transaksi terpisah. Dengan tambahan kepemilikan ini, porsi efektif MedcoEnergi di TGI meningkat menjadi 40%. TGI memiliki peran krusial dalam mengelola jaringan pipa gas dari Blok Corridor dan pemasok lainnya di Sumatra Selatan–Jambi, yang vital untuk memasok kebutuhan energi di Riau, Batam, dan Singapura.

PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU): Transformasi Menjadi Operator Hulu Migas

PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU), emiten yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro, mengambil langkah strategis dengan mengakuisisi 100% saham SMS Development Limited. Akuisisi ini bertujuan untuk memperkuat portofolio usaha RATU di segmen migas. Melalui anak usahanya, PT Raharja Energi Madura (PT REM), RATU menandatangani perjanjian jual beli saham dengan SMS Offshore Overseas Limited pada 25 Desember 2025.

SMS Development Limited memegang kepemilikan 20% saham di Husky-CNOOC Madura Limited (HCML), yang merupakan kontraktor kegiatan usaha hulu migas di Wilayah Kerja Selat Madura berdasarkan Production Sharing Contract (PSC) dengan SKK Migas. Direktur Utama RATU, Sumantri, menjelaskan bahwa perseroan sedang bertransformasi menjadi operator hulu migas. Dalam fase awal, RATU akan memprioritaskan ekspansi melalui investasi non-operasional dengan mengakuisisi participating interest (PI) pada PSC berskala besar. Saat ini, RATU memiliki PI sebesar 2,24% di Blok Cepu dan 8% di Blok Jabung.

Selain lapangan produksi di Madura, RATU juga dilaporkan sedang menjajaki akuisisi PI pada beberapa blok migas lain di Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, dan Blok Kasuri di Papua Barat. Proses penjajakan ini dilakukan melalui negosiasi langsung dengan pemilik aset maupun melalui skema tender terbuka.

Aksi Akuisisi Arsari Group: Ekspansi Global dan Domestik

Arsari Group, yang dimiliki oleh pengusaha Hashim Djojohadikusumo, menunjukkan geliat ekspansi bisnis yang pesat, mencakup sektor pertambangan dan migas. Melalui anak usahanya, PT Nations Natuna Barat, Arsari Group akan mengakuisisi 75% hak partisipasi (PI) non-operator di Blok Duyung, yang berlokasi di Laut Natuna. Blok ini dioperatori oleh West Natuna Exploration Limited (WNEL), anak usaha Conrad Asia Energy Ltd.

Perjanjian definitif untuk rencana akuisisi ini telah ditandatangani pada November 2025. Penyelesaian transaksi diharapkan rampung sebelum kuartal III/2026. Dalam kesepakatan ini, Nations akan mendanai 75% dari seluruh biaya masa depan pengembangan Blok Duyung, termasuk pengembangan Lapangan Mako. Nations akan membayar US$16 juta (sekitar Rp266,96 miliar) kepada WNEL untuk 75% PI, dengan pembayaran dilakukan dalam tiga tahap.

Di kancah internasional, Arsari Group juga berencana mengakuisisi tambang di Kanada dengan nilai investasi mencapai Rp7 triliun. Rencana ini diungkapkan oleh Presiden Direktur Arsari Tambang, Aryo Djojohadikusumo, yang menargetkan penyelesaian akuisisi pada Juni 2026. Peluang investasi di Kanada ini didukung oleh ditandatanganinya perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia dengan Kanada (ICA-CEPA).

PT Golden Eagle Energy Tbk. (SMMT): Penguatan Bisnis Batu Bara

PT Golden Eagle Energy Tbk. (SMMT), emiten yang bergerak di sektor batu bara, telah menyelesaikan akuisisi PT Bara Enim Sejahtera pada Juli 2025. Akuisisi ini memberikan SMMT kendali langsung maupun tidak langsung atas 100% kepemilikan saham di PT Triaryani (TRA). Dengan pengambilalihan ini, SMMT akan memiliki kendali penuh atas arah kebijakan operasional dan pengembangan TRA, serta membuka potensi konsolidasi laba TRA ke dalam laporan keuangan konsolidasi perseroan. Dana akuisisi ini diperoleh dari fasilitas pinjaman sebesar Rp500 miliar dari PT Geo Energy Investama (GEI). PT Triaryani merupakan pemegang Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) untuk komoditas batu bara, dengan cadangan sebesar 273 juta MT dan karakteristik batu bara rendah sulfur serta rendah abu.

PT ABM Investama Tbk. (ABMM): Akuisisi Tambang

PT ABM Investama Tbk. (ABMM), melalui anak usahanya, PT Reswara Minergi Hartama (RWA), mengumumkan rencana akuisisi saham PT Piranti Jaya Utama senilai US$57 juta atau setara dengan Rp939,36 miliar. Transaksi ini melibatkan dua tahap. Pertama, RWA menandatangani perjanjian pengikatan jual beli saham (PPJB) dengan PT Tuah Turangga Agung (TTA) untuk pembelian 100% kepemilikan TTA pada PT Borneo Berkat Makmur (BBM), yang memiliki 60% saham Piranti Jaya Utama. Kedua, RWA menandatangani PPJB dengan Borneo Prima Pte Ltd, Edward Sumarli, dan Herry Hermawanto untuk kepemilikan saham mereka pada PT Borneo Berkat Sentosa (BBS), yang memegang 40% saham Piranti Jaya Utama.

Pertamina: Ekspansi di Hulu Migas, Hilir, dan Energi Terbarukan

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) secara resmi mengakuisisi 24,5% hak partisipasi di Blok Bobara dari Petroliam Nasional Berhad (Petronas). Aksi korporasi ini ditandai dengan penandatanganan Farm-Out Agreement (FOA) untuk Kontrak Bagi Hasil (PSC) Blok Bobara. Dengan akuisisi ini, PHE akan memegang 24,5% hak partisipasi, bergabung dengan Petronas sebagai operator dan TotalEnergies sebagai mitra. Blok Bobara, yang berlokasi di perairan laut dalam Papua Barat, memiliki potensi sumber daya gas dan minyak bumi yang signifikan.

Di sektor hilir, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mengakuisisi 14% saham PT Patra SK dari SK Enmove Co., Ltd. Akuisisi ini bertujuan memperkuat bisnis perseroan di industri pengolahan minyak. Dengan transaksi ini, Patra SK kini dimiliki oleh KPI, Pertamina Patra Niaga, dan SK Enmove Co., Ltd.

Lebih lanjut, Pertamina melalui Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) turut merambah sektor energi terbarukan dengan mengakuisisi 20% saham perusahaan energi hijau asal Filipina, Citicore Renewable Energy Corporation (CREC). Share subscription agreement senilai US$120 juta atau setara Rp1,96 triliun ini menjadi bukti komitmen Pertamina dalam transisi energi.

Sinar Mas Group: Akuisisi di Industri Logistik Energi

Frontier Resources, perusahaan yang terafiliasi dengan Sinar Mas Group, dikabarkan berencana mengakuisisi Hyundai LNG Shipping, salah satu perusahaan pengangkut gas alam cair (LNG) terbesar di Korea Selatan. Konsorsium yang dipimpin oleh IMM Private Equity dan IMM Investment telah menandatangani share purchase agreement (SPA) untuk menjual 100% saham Aegis One, induk Hyundai LNG Shipping, kepada Frontier Resources. Nilai transaksi ini diperkirakan mencapai sekitar 3,8 triliun won Korea Selatan (termasuk utang), atau sekitar Rp43,05 triliun.

Pos terkait