Festival Ela-Ela 2026: Ratusan Warga Taliabu Bergembira

Festival Malam Ela-Ela: Tradisi Unik Menyambut Lailatul Qadar di Taliabu

Ratusan warga Desa Wayo, Kecamatan Taliabu Barat, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, baru-baru ini berkumpul untuk merayakan Festival Malam Ela-Ela. Acara yang penuh makna spiritual dan kebersamaan ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan dan persiapan menyambut malam Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan dalam ajaran Islam.

Kegiatan yang telah memasuki tahun keempat penyelenggaraannya ini, dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Taliabu, Hayatuddin Fataruba. Kehadiran pejabat daerah, unsur muspika, serta tokoh agama dan adat menandai pentingnya acara ini bagi masyarakat setempat.

Semangat Kebersamaan dan Pelestarian Tradisi

Festival Malam Ela-Ela lahir dari inisiatif dan semangat gotong royong para pemuda Desa Wayo. Acara ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga menjadi sarana penting untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga, baik yang berada di desa maupun yang merantau. Melalui kegiatan ini, tradisi Ramadan yang unik ini terus dijaga kelestariannya dari generasi ke generasi.

Ketua Panitia Festival Malam Ela-Ela, Dahlan Haji Hasim, menyampaikan apresiasinya yang tinggi terhadap seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan mendukung terselenggaranya acara. “Alhamdulillah, pada malam hari ini merupakan pelaksanaan festival ela-ela yang ke empat kalinya di Desa Wayo,” ujar Dahlan saat mengikuti pawai keliling kota Bobong.

Dahlan menjelaskan bahwa tema utama yang diusung dalam festival tahun ini adalah “menyambut kemuliaan seribu bulan di malam Lailatul Qadar.” Tema ini menekankan pada aspek spiritual dan kesiapan umat Islam dalam menghadapi malam penuh berkah tersebut.

Rangkaian Acara yang Sarat Makna

Pantauan di lapangan menunjukkan kemeriahan yang luar biasa dalam festival ini. Acara utama diisi dengan kegiatan yang khidmat dan membangkitkan semangat keagamaan, di antaranya:

  • Pawai Obor: Ratusan peserta, sebagian besar adalah pemuda dan warga Desa Wayo, berpawai keliling kota Bobong sambil membawa obor. Cahaya obor yang berkelip-kelip di kegelapan malam menciptakan pemandangan yang spektakuler dan simbolis, menggambarkan cahaya kebaikan dan tuntunan Ilahi.
  • Lantunan Shalawat: Sepanjang perjalanan pawai, peserta secara serempak melantunkan shalawat nabi. Suara-suara merdu yang menggema di udara menjadi penyejuk hati dan pengingat akan kebesaran Allah SWT serta kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Kehadiran berbagai elemen masyarakat, mulai dari Camat Taliabu Barat, Kapolsek Taliabu Barat, Danramil Bobong, Kasat Lantas Polres Taliabu, Danton Kompi 4 Bataliyon C Pelopor, Kepala Desa Wayo, hingga para tokoh agama, tokoh adat, dan kelompok majelis ta’lim, menunjukkan dukungan penuh terhadap upaya pelestarian tradisi dan penguatan nilai-nilai keagamaan di masyarakat.

Pendanaan Swadaya Masyarakat: Wujud Kebersamaan

Salah satu aspek yang patut diapresiasi dari Festival Malam Ela-Ela ini adalah sumber pendanaannya. Festival ini sepenuhnya didanai dari partisipasi masyarakat Desa Wayo. Dana tersebut dikumpulkan melalui berbagai kegiatan yang dilakukan secara swadaya, salah satunya adalah kegiatan “gendang sahur” yang rutin dilaksanakan selama bulan Ramadan.

“Anggaran pelaksanaan festival malam ela-ela bersumber dari partisipasi masyarakat lewat kegiatan gendang sahur selama ramadan,” terang Dahlan. Hal ini menjadi bukti nyata dari semangat kebersamaan dan kepedulian pemuda Desa Wayo dalam menumbuhkan semangat spiritual Islam di lingkungan mereka. Kegiatan gendang sahur tidak hanya berfungsi sebagai pengumpul dana, tetapi juga menjadi sarana membangunkan warga untuk sahur, menciptakan suasana Ramadan yang lebih hidup.

Meskipun demikian, para panitia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kegiatan gendang sahur keliling, suara sound system yang digunakan sempat mengganggu kenyamanan warga. Hal ini menunjukkan kesadaran dan kepedulian panitia terhadap lingkungan sekitar.

Festival Malam Ela-Ela ini menjadi contoh inspiratif bagaimana tradisi lokal dapat dihidupkan kembali dan diperkaya dengan nilai-nilai spiritual, serta bagaimana partisipasi aktif masyarakat dapat mewujudkan kegiatan yang bermakna dan berkelanjutan. Acara ini tidak hanya memperkaya khazanah budaya Ramadan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan spiritual masyarakat Desa Wayo.

Pos terkait