Gado-gado Tanpa Mazhab: Sebuah Manifesto Kebebasan Ekspresi dalam Puisi Ganjar Kurnia
Dalam dunia sastra yang seringkali terkotak-kotak oleh aliran, mazhab, dan standar estetika yang baku, hadir sebuah karya yang menolak segala bentuk kekangan. Kumpulan puisi berjudul “Gado-gado Tanpa Mazhab” karya Ganjar Kurnia menjadi penanda sikap artistik yang unik, di mana setiap larik adalah perpaduan spontanitas, kejujuran, dan kemerdekaan berekspresi. Puisi-puisi dalam antologi ini adalah cerminan dari pandangan penyair yang melihat dirinya sebagai “penyair-penyairan”, meramu pengalaman hidup yang beragam menjadi sebuah sajian sastra yang apa adanya.
Bait terakhir dari puisi “Gado-gado Tanpa Mazhab” dengan lugas menyatakan, “Aku/bukan mereka yang sering disebut dalam antologi/atau catatan kaki/Aku hanyalah gado-gado,/yang tak pernah ingin dikungkung/Puisiku, kusajikan apa adanya/Jangan ditanya kualitas dan makna/Silahkan dibaca pelan-pelan/Kalau tidak suka,/buang saja ke keranjang sampah.” Pernyataan ini bukan sekadar pembuka, melainkan sebuah manifesto yang menggarisbawahi filosofi kepenyairan Ganjar Kurnia. Ia tidak terikat pada kaidah sastra konvensional, melainkan mengutamakan kebebasan total dalam menciptakan karya.
Puisi yang menjadi judul antologi ini secara keseluruhan merepresentasikan pernyataan estetika dan manifesto kepenyairan Ganjar Kurnia. Dengan kerendahan hati, ia menggambarkan proses kreatifnya seperti meracik gado-gado: “Aku hanya penyair-penyairan/Kata-kata, kuaduk menjadi gado-gado –/campuran sambal getir dan kerupuk tawa./Ada sedikit mistik, sedikit logika,/sejumput sunyi, seiris bahak, setetes trauma.” Di sini, Ganjar Kurnia tidak memposisikan dirinya sebagai penyair agung, melainkan sebagai seseorang yang mengekspresikan pengalaman hidupnya secara jujur. Pengalaman tersebut meliputi rasa getir, tawa, unsur mistik, logika, kesunyian, humor, hingga luka. Intinya, puisi-puisinya adalah perpaduan kaya dari berbagai rasa kehidupan.
Setya Yuwana Sudikan dalam kata pengantarnya menekankan bahwa judul buku ini sendiri merupakan sebuah pernyataan sikap. Sama seperti gado-gado yang merupakan perpaduan aneka bahan seperti lontong, tauge, kentang, tempe, kerupuk, dan sambal kacang, kumpulan puisi ini menolak kemurnian bentuk dan aliran tertentu. Di dalamnya, pembaca akan menemukan kritik sosial, refleksi mendalam, pengakuan, semangat, yang semuanya disajikan dengan mengutamakan kejujuran ekspresi. Semua itu diolah dari kekayaan pengalaman hidup sang penyair.
Latar Belakang Sang Penyair: Akademisi dan Budayawan
Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, adalah sosok yang memiliki latar belakang multidisiplin. Ia adalah seorang akademisi yang menjabat berbagai posisi penting di Universitas Padjadjaran (Unpad), termasuk Kepala Pusat Budaya (sejak 2020), Ketua Senat Akademik Unpad (2020-2025), dan Ketua Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda (2020-kini). Selain itu, ia juga memimpin Majalah Manglé. Rekam jejaknya sebagai akademisi juga mencakup pengalaman internasional sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris, serta pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Padjadjaran (2007-2015).
Selain kesibukannya di dunia akademik, Ganjar Kurnia juga aktif dalam dunia seni dan budaya. Ia tidak hanya menulis buku-buku akademik di bidang pertanian, tetapi juga menghasilkan karya sastra berupa puisi, fiksi mini, naskah oratorium, dan bahkan menyutradarai berbagai pertunjukan seni seperti gending karesmen, oratorium, dan opera berbahasa Sunda. Kekayaan dua dunia ini, antara sains dan budaya, terjalin harmonis dalam proses kreatif puisinya. Puisi-puisinya dalam “Gado-gado Tanpa Mazhab” membuktikan kesungguhannya sebagai penyair, mampu mengolah realitas, imajinasi, dan suasana batin menjadi larik-larik yang penuh makna, sarat renungan, dan terkadang diselingi sentuhan humor.
Keragaman Tema dalam Gado-gado Tanpa Mazhab
Antologi ini memuat 93 puisi yang mencakup spektrum tema yang sangat luas. Sebagian besar puisi berakar pada pengalaman religius, namun bukan dalam pengertian dogmatis. Ganjar Kurnia membawa pembaca ke dalam ruang spiritual melalui lensa sains modern, menyajikan gagasan ketuhanan sebagai titik temu antara cahaya ilahi dan mekanisme biologis tubuh manusia.
Sebagai contoh, puisi “Berita dari Goa” mengambil momen turunnya wahyu ilahi dan menerjemahkannya menjadi resonansi biologis.
“Firman turun,/menembus ruang dan waktu/menjadi resonansi/menelusup ke neuron yang haus cahaya hikmah/menguatkan sinapsis dalam pencarian kebenaran” (hlm 55).
Dalam puisi ini, wahyu dipandang bukan hanya sebagai pesan dari langit, tetapi juga sebagai peristiwa neurologis yang menyalakan kesadaran manusia. Hal ini menunjukkan keberanian Ganjar Kurnia dalam menyatukan kosmologi Islam dengan ilmu pengetahuan tanpa mengurangi kesakralannya. Puisi-puisi religius lainnya dalam antologi ini juga menghadirkan spiritualitas yang relevan bagi manusia masa kini: religius namun rasional, mistik namun komunikatif.
Sesuai dengan judul dan sikap estetikanya sebagai penyair “gado-gado”, antologi ini tidak hanya terbatas pada tema spiritualitas. Beragam tema lain juga dieksplorasi, meliputi sains, digitalisasi, politik, dan kritik sosial. Tema-tema ini diungkapkan dengan gaya bahasa yang lentur, polos, penuh humor satiristik, dan tetap sarat renungan.
Salah satu keunggulan puisi-puisinya adalah kemampuannya menyatukan bahasa imajiner dan metaforis dengan bahasa sains dan digital tanpa terkesan dipaksakan. Diksi seperti “folder”, “crash”, “rendering”, “interface”, “file”, “recycle”, “fixel”, “metadata”, dan “cache” dalam puisi “Aku Sesak” (hlm 70-71) menggambarkan bagaimana penyair memandang manusia kontemporer sebagai makhluk yang hidup dalam dua realitas: biologis dan digital. Puisi ini tidak hanya berfungsi sebagai kritik, tetapi juga sebagai renungan eksistensial tentang bagaimana teknologi mengubah struktur rasa manusia.
Dalam beberapa puisinya, Ganjar Kurnia membahas fenomena masyarakat kontemporer, seperti polarisasi identitas, ketegangan politik, hingga perpecahan yang dipicu oleh algoritma media sosial. Puisi “Walau”, misalnya, menggambarkan peperangan modern yang tidak lagi menggunakan senjata fisik, melainkan gawai dan jempol:
“Kini,/peluru tak lagi ditembakkan dari senapan,/melainkan dari jempol amarah,/menyusup lewat layar,/menembus lewat frasa yang tidak diikat tagar.” (hlm 91).
Menyimak keseluruhan puisi dalam buku “Gado-gado Tanpa Mazhab” adalah sebuah pengalaman menyantap hidangan sastra dengan berbagai rasa. Ganjar Kurnia menyadari bahwa puisinya adalah sebuah “gado-gado”, namun justru di situlah letak kekuatannya yang unik dan memikat.
Detail Buku:
- Judul Buku: Gado-gado Tanpa Mazhab (Kumpulan Puisi)
- Penulis: Ganjar Kurnia
- Penyunting: Setya Yuwana Sudikan, Dhodhi Susatya Eka Putra
- Penerbit: Unessa University Press
- Tahun Terbit: Oktober 2025
- Dimensi: 14,5 x 21 cm
- Tebal: xiv + 152 halaman
- ISBN: 978-602-449-758-3





