Kinerja Keuangan Garuda Indonesia di 2025: Laba Bersih Merosot Tajam di Tengah Pemulihan Armada
Tahun 2025 menjadi periode yang menantang bagi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Maskapai penerbangan nasional ini membukukan kerugian bersih yang signifikan, mencapai US$ 319,39 juta atau setara dengan Rp 5,4 triliun. Angka ini merupakan lonjakan kerugian yang cukup drastis jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, di mana kerugian yang tercatat sebesar US$ 69,77 juta atau sekitar Rp 1,18 triliun.
Pendapatan usaha konsolidasi Garuda Indonesia pada tahun 2025 tercatat sebesar US$ 3,22 miliar. Meskipun angka ini masih terbilang besar, namun terjadi penurunan sebesar 5,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Penurunan pendapatan ini turut berkontribusi pada membesarnya kerugian yang dialami perusahaan.
Faktor-faktor Penyebab Kerugian
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menjelaskan bahwa kerugian yang dialami pada tahun 2025 disebabkan oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah fluktuasi nilai tukar mata uang asing. Pergerakan kurs yang tidak stabil memberikan tekanan pada biaya operasional perusahaan yang sebagian besar menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.
Selain itu, peningkatan biaya tetap (fixed cost) juga menjadi penyebab signifikan. Biaya ini membengkak seiring dengan intensitas program pemulihan pelayanan armada. Meskipun perusahaan berupaya keras untuk mengembalikan armada yang tidak dapat beroperasi menjadi laik terbang, namun proses ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Tidak dapat dipungkiri penurunan kinerja Garuda Indonesia Group utamanya dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I 2025 di mana jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance,” ujar Glenny dalam sebuah pernyataan tertulis. Keterbatasan armada yang siap melayani penumpang ini secara langsung membatasi potensi pendapatan perusahaan.
Tantangan Pemulihan Armada
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Garuda Indonesia pada tahun 2025 adalah jumlah pesawat yang belum dapat beroperasi (unserviceable aircraft). Menurut Glenny, pada pertengahan tahun 2025, jumlah armada yang tidak dapat melayani hanya sekitar 84 unit. Namun, perusahaan terus berupaya untuk memaksimalkan jumlah armada yang laik terbang (serviceable aircraft) di akhir tahun 2025. Upaya ini berhasil meningkatkan jumlah armada yang siap beroperasi menjadi setidaknya 99 unit.
Meskipun demikian, pada akhir tahun 2025, masih terdapat 43 pesawat yang belum dapat melayani karena masih dalam tahap penyelesaian perawatan armada. Proses perawatan yang memakan waktu ini menjadi salah satu kendala utama dalam meningkatkan kapasitas produksi perusahaan.
Dampak pada Jumlah Penumpang dan Pendapatan
Terbatasnya kapasitas produksi armada secara langsung berdampak pada penurunan jumlah penumpang yang dapat dilayani oleh Garuda Indonesia. Pada tahun 2025, GIAA mencatat jumlah penumpang sebanyak 21,2 juta. Angka ini mengalami penurunan sebesar 10,5 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, Glenny menambahkan bahwa tren penurunan kinerja ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, seperti:
- Penurunan passenger yield: Pendapatan rata-rata yang diperoleh dari setiap penumpang mengalami penurunan. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk persaingan harga dan promo yang ditawarkan.
- Tekanan nilai tukar Rupiah: Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing meningkatkan biaya operasional yang berdenominasi dolar.
- Tantangan rantai pasok industri aviasi global: Gangguan pada rantai pasok global juga berdampak pada ketersediaan suku cadang dan komponen pesawat, yang pada akhirnya mempengaruhi biaya dan proses perawatan.
Suntikan Modal dan Perbaikan Ekuitas
Di tengah tantangan tersebut, Garuda Indonesia mendapatkan angin segar berupa suntikan modal sebesar Rp 23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management pada tahun 2025. Suntikan modal ini memberikan dampak positif yang signifikan terhadap posisi keuangan perusahaan.
Glenny mengungkapkan bahwa suntikan modal tersebut berhasil membuat ekuitas perseroan kembali positif. Pada akhir tahun 2025, ekuitas GIAA tercatat meningkat menjadi US$ 91,9 juta, sebuah perbaikan drastis dari tahun sebelumnya yang mencatatkan ekuitas negatif sebesar US$ 1,35 miliar.
Dana suntikan modal dari Danantara Asset Management dialokasikan untuk dua tujuan utama:
- Mempercepat program perawatan dan reaktivasi armada: Sebagian besar dana digunakan untuk memastikan pesawat-pesesawat yang membutuhkan perawatan dapat segera diperbaiki dan kembali beroperasi.
- Menyelesaikan kewajiban Citilink kepada Pertamina: Sebesar 64 persen dari total dukungan, atau sekitar Rp 15 triliun, dialokasikan untuk membantu anak perusahaan Garuda Indonesia, Citilink, dalam menyelesaikan kewajibannya kepada PT Pertamina (Persero).
Sementara itu, Garuda Indonesia sendiri memperoleh alokasi sebesar Rp 8,7 triliun dari dana tersebut. Dana ini difokuskan untuk kebutuhan perawatan armada. Upaya optimalisasi perawatan armada ini diharapkan akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2026.
Meskipun menghadapi tantangan yang berat di tahun 2025, dengan progres pemulihan armada yang terus berjalan dan implementasi transformasi yang konsisten, Garuda Indonesia optimis bahwa kapasitas produksi dan kinerja operasionalnya akan membaik secara bertahap. Perusahaan menargetkan untuk mencapai fase pemulihan yang lebih solid di masa mendatang.





