Perjuangan Tanpa Henti: Guru SMPN 44 Takengon Seberangi Sungai Berbahaya Demi Pendidikan
Di tengah keindahan perbukitan Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, sebuah kisah luar biasa tentang dedikasi dan keberanian tengah terungkap. Para pendidik di SMPN 44 Takengon kini dihadapkan pada tantangan ekstrem untuk mencapai tempat mereka mengajar. Banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Kampung Bah beberapa waktu lalu telah meluluhlantakkan infrastruktur vital, termasuk jembatan permanen yang menjadi akses utama. Akibatnya, satu-satunya cara bagi para guru untuk sampai ke sekolah adalah dengan bergantung pada seutas tali sling atau sebuah gondola rakitan yang melintasi sungai berlumpur.
Situasi ini menciptakan suasana mencekam namun juga penuh dengan semangat pantang menyerah. Para guru harus berhadapan dengan ketakutan yang mengintai setiap pagi, sementara di sisi lain, mereka juga harus memikirkan kondisi psikologis para siswa yang terdampak bencana.
Akses Darat Terputus, Solusi Ekstrem Menjadi Pilihan
Sebelumnya, para guru dan siswa di SMPN 44 Takengon dapat dengan mudah mengakses sekolah melalui jalur darat. Namun, bencana alam yang terjadi telah mengubah segalanya. Jembatan permanen yang dulunya kokoh kini tak lagi dapat dilalui. Jalan yang biasa mereka lalui telah amblas, berubah menjadi bagian dari aliran sungai yang deras dan keruh.
Kini, pilihan yang tersedia sangat terbatas. Para guru harus menyeberangi sungai menggunakan sebuah kotak besi yang digantung pada kabel baja, sebuah gondola darurat yang ditarik secara manual oleh warga dari seberang sungai. Alat transportasi yang tidak konvensional ini menjadi satu-satunya harapan bagi mereka untuk tetap menjalankan tugas mulia mencerdaskan anak bangsa.
Tawa di Tengah Ketakutan: Mengatasi Trauma dengan Semangat
Bagi Shapriana Dewi, seorang guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang tinggal di Kabupaten Bener Meriah, pengalaman menyeberangi sungai dengan gondola rakitan ini adalah ujian mental yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Perjalanan yang harus ia tempuh setiap hari sangat jauh, dan ia harus menghadapi rasa takut yang luar biasa saat bergantung pada seutas tali dan kotak besi.
“Kaki dingin, ditambah kawan bawa durian pas pulang, ketusuk-tusuk kaki kita ya Allah, aku sendiri mengekspresikan rasa takut itu dengan ketawa,” ungkap Dewi dengan nada bercampur antara rasa ngeri dan geli.
Di atas ketinggian, rasa takut seringkali disamarkan dengan candaan dan tawa di antara para guru. Meskipun menyadari sepenuhnya risiko keamanan yang mengintai, mereka tetap berbaris rapi setiap pagi, menunggu giliran untuk diseberangkan. Satu kotak besi hanya mampu menampung dua orang, dan penyeberangan dilakukan secara perlahan, ditarik oleh warga di seberang.
Sekolah di Zona Merah: Menghadapi Dampak Bencana pada Siswa
Kondisi pendidikan di wilayah ini saat ini berada di titik kritis. Banyak siswa yang belum dapat kembali ke sekolah. Hal ini bukan disebabkan oleh kemalasan, melainkan karena rumah mereka telah hancur diterjang bencana atau berada di wilayah yang dinyatakan tidak aman untuk dihuni.
“Kami belum pernah masuk sekolah (belajar), karena anak-anak tidak memungkinkan datang ke sekolah, siswa berasal dari Kampung Bah dan Serempah,” jelas Dewi. Ia menambahkan bahwa salah satu desa asal muridnya, Serempah, kini telah ditetapkan sebagai “zona merah” dan tidak layak huni lagi. Akibatnya, para siswa yang berasal dari sana kini terpaksa mengungsi dan tinggal di area Pasar Simpang Empat.
Melihat kondisi psikologis para siswa yang terguncang hebat akibat trauma bencana, para guru di SMPN 44 Takengon kini memfokuskan sebagian besar perhatian mereka pada pemberian bantuan trauma healing. Mereka berusaha memberikan dukungan emosional dan psikologis untuk membantu anak-anak melewati masa sulit ini.
“Sementara kami memberikan treatment trauma untuk anak-anak,” ujar Dewi.
Meskipun fasilitas sekolah rusak dan akses menjadi sangat sulit, semangat pengabdian para guru ini tidak sedikit pun luntur. Dewi menegaskan bahwa jadwal masuk sekolah akan tetap dimulai pada tanggal 12 Januari 2026, terlepas dari segala kendala yang ada.
“Apapun kondisinya, proses belajar mengajar akan kami lakukan pada hari Senin,” tegasnya. Ia menambahkan dengan jujur, “Kalau aktif, apapun kondisinya kami harus mengajar, tapi maunya jangan pakai sling lagi bang.”
Meniti Tali di Atas Sungai Lumpur: Kisah Guru PAI
Kisah perjuangan serupa juga dialami oleh Rahmi Sasmita Sari, yang akrab disapa Mita. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) ini harus menyaksikan bagaimana alam telah mengubah bentang lahan di sekitarnya secara drastis. Sungai Ketol yang biasanya tenang kini melebar, menelan habis jalan aspal yang dulu sering ia lalui dengan sepeda motor.
Ada dua opsi bagi Mita dan guru lainnya untuk menyeberangi sungai: masuk ke dalam kotak besi yang menggantung, atau melakukan atraksi menegangkan dengan berjalan di atas tali sling sambil berpegangan tangan. Mita memilih cara yang pertama, meskipun jantungnya berdegup kencang setiap kali melihat arus deras sungai di bawahnya.
“Jembatannya tidak putus, hanya saja, sungainya jadi lebih luas, jalan amblas. Jalan jadi sungai, itulah yang kami lewati sekarang ini dengan sling,” terang Mita, menggambarkan kondisi medan yang ekstrem.
Harapan pada Jembatan Darurat: Urat Nadi Pendidikan yang Dinanti
Saat ini, SMPN 44 Takengon memiliki kapasitas 45 siswa dengan 20 orang guru. Beruntung, bangunan sekolah mereka selamat dari terjangan longsor. Namun, keberadaan gedung yang kokoh menjadi tidak berarti jika akses menuju ke sana tertutup total.
Harapan besar kini tertumpu pada pembangunan jembatan darurat menuju Kampung Burlah. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa jembatan ini akan segera rampung dalam pekan ini. Bagi Mita dan rekan-rekannya, jembatan darurat ini bukan sekadar sebuah konstruksi kayu atau besi. Jembatan tersebut adalah urat nadi pendidikan yang akan menyambung kembali mimpi-mimpi dan masa depan anak-anak pedalaman Aceh Tengah.
“Kalau longsor kami bisa lewati pelan-pelan dan hati-hati. Kalau sungai ini, tidak ada cara lain, semoga bisa segera rampung jembatan daruratnya,” pungkas Mita dengan nada penuh harap, menggambarkan kerinduan akan normalitas dan kemudahan akses demi kelangsungan pendidikan generasi penerus.




