Hanyut tanpa sisa, warga Lambung Bukik Padang sedih surau Jamiaturrahmah hilang jelang Ramadan

Surau Jamiaturrahmah Lenyap Ditelan Banjir Bandang, Tradisi Ramadan Terancam

PADANG – Di sudut Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, kini hanya terdengar desau angin dan gemericik air sungai. Lokasi yang dulunya megah berdiri Surau Jamiaturrahmah, kini hanyalah hamparan luka. Tanah yang dulunya suci kini tertimbun batu-batu besar dan gelondongan kayu yang melintang tak beraturan. Banjir bandang yang menerjang pada akhir November 2025 lalu rupanya tak hanya meninggalkan jejak lumpur. Arus deras tersebut berhasil mencabut bangunan berukuran 15×15 meter itu hingga ke akarnya, menyisakan ruang kosong yang kini hanya terisi oleh tumpukan puing.

Surau Jamiaturrahmah bukan sekadar tumpukan batu bata dan semen. Ia adalah gudang kenangan yang menyimpan jejak sujud masyarakat Lambung Bukik lintas generasi. Setiap jengkal lantainya menjadi saksi bisu jutaan doa dan harapan yang dipanjatkan. Kini, jejak-jejak itu tertimbun material bencana, meninggalkan kekosongan yang begitu dalam bagi siapa pun yang pernah bersimpuh di dalamnya.

Luka Mendalam Pascabencana: Kehilangan Pusat Spiritual dan Sosial

Dasri Ben, seorang warga yang rumahnya turut lenyap di dekat surau, mengungkapkan kepedihannya. Baginya, surau itu adalah saksi bisu perjalanan hidupnya, tempat ia mengadu dalam doa setiap kali beban hidup terasa berat. “Semuanya hilang. Rumah saya, juga tempat kami semua bersujud. Sekarang tidak ada lagi yang tersisa untuk kami jadikan sandaran batin,” ujarnya dengan nada lirih.

Kepedihan Dasri Ben merupakan cerminan kolektif masyarakat Lambung Bukik. Kehilangan rumah ibadah di tengah situasi pascabencana ibarat kehilangan atap pelindung bagi jiwa yang sedang terluka dan trauma. Surau bukan hanya tempat untuk menunaikan ibadah salat, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial bagi masyarakat. Di sana, diskusi tentang problematika kehidupan warga seringkali terjadi, menciptakan rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang erat.

Tradisi “Salat 40” Terancam Hilang Jelang Ramadan

Di balik puing-puing yang berserakan, terselip kekhawatiran yang kian memuncak seiring mendekatnya bulan suci Ramadan. Sebuah tradisi yang telah mendarah daging bagi masyarakat setempat, yang dikenal sebagai “Salat 40”, kini terancam putus. Salat 40 bukan sekadar ibadah berjamaah biasa; ia adalah marwah spiritual warga yang dimulai sebelum Ramadan tiba, sebagai bentuk persiapan batin menyambut bulan penuh berkah.

Reni, warga terdampak lainnya, bercerita bagaimana biasanya seminggu sebelum puasa, warga sudah sibuk bersiap untuk ritual ibadah panjang selama 40 hari ini. “Biasanya kami sudah sibuk bersiap untuk ibadah panjang 40 hari. Sekarang, tempat kami berkumpul sudah hanyut dibawa air. Rasanya ada yang tercerabut dari tradisi kami,” tuturnya. Kehilangan Surau Jamiaturrahmah berarti kehilangan wadah utama untuk melaksanakan tradisi sakral ini.

Dampak Sosial dan Kerinduan Akan Kebersamaan

Kehilangan surau ini secara perlahan mengikis ruang sosial warga. Surau selama ini menjadi titik temu, tempat di mana masalah warga didiskusikan dan solusi dicari dalam semangat kekeluargaan. Kini, warga yang ingin menjalankan tradisi tersebut terpaksa harus berpindah ke surau di wilayah lain. Namun, bagi mereka, rasa khusyuk dan kedekatan emosional yang terjalin di Surau Jamiaturrahmah tak akan pernah bisa tergantikan sepenuhnya.

Setiap langkah warga menuju surau lain kini dirasa sebagai pengingat akan pedihnya kehilangan. Ada kerinduan yang mendalam akan suasana akrab di bawah atap Jamiaturrahmah yang kini telah tiada. Keberadaan surau bukan hanya soal bangunan fisik, melainkan tentang komunitas yang terjalin di dalamnya.

Harapan untuk Pembangunan Kembali

Pembangunan kembali Surau Jamiaturrahmah tentu memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Namun, bagi warga Lambung Bukik, bukan sekadar bangunan megah yang mereka dambakan. Yang terpenting adalah hadirnya kembali tempat mereka pulang untuk menenangkan jiwa, tempat untuk berkumpul, dan melanjutkan tradisi spiritual yang telah diwariskan turun-temurun.

Surau Jamiaturrahmah kini memang telah menjadi kenangan yang terbawa arus banjir. Namun, di hati masyarakat, semangat untuk menghidupkan kembali denyut spiritualitas itu tetap menyala, meskipun di tengah keterbatasan dan tantangan yang ada. Dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu mewujudkan impian masyarakat Lambung Bukik untuk kembali memiliki rumah ibadah yang menjadi jantung kehidupan mereka.

Pos terkait