Hujan Deras Guyur Jakarta, Genangan Meluas di Sejumlah Titik
Jakarta dilanda hujan deras sejak Minggu, 18 Januari 2026 dini hari, mengakibatkan sejumlah ruas jalan tergenang air dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 30 hingga 40 sentimeter. Kondisi ini menimbulkan kelumpuhan lalu lintas di beberapa area vital ibu kota.
Titik-Titik Genangan yang Meluas
Berdasarkan pantauan, genangan air terpantau di beberapa lokasi strategis:
- Jalan Letjen Suprapto, Jakarta Pusat: Ruas jalan ini tergenang cukup dalam, sehingga akses hanya bisa dilalui oleh armada Transjakarta.
- Tol Sedyatmo Off Rawa Bokor arah Bandara: Genangan setinggi sekitar 5 sentimeter dilaporkan di area ini. Meskipun masih dapat dilintasi, pengendara diimbau untuk ekstra hati-hati.
- Jalan Sunter: Tepatnya di lajur arteri sebelum Gerbang Tol Sunter, genangan air mencapai ketinggian 30 sentimeter pada pukul 05.30 WIB.
- Jalan Ahmad Yani, Cempaka Putih: Di depan Rumah Sakit Pertamina, genangan air terpantau mencapai ketinggian sekitar 40 sentimeter. Kondisi ini sangat menyulitkan kendaraan roda dua untuk melintas.
Kesiapsiagaan “Pasukan Oranye” DLH DKI Jakarta
Menghadapi potensi banjir yang kerap terjadi di musim penghujan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta telah menyiagakan ribuan personelnya. Sebanyak 1.790 Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP), yang akrab disapa “Pasukan Orange”, disiagakan untuk menangani berbagai dampak banjir, terutama penanganan sampah.
Kesiapsiagaan ini merupakan bagian dari antisipasi DLH terhadap potensi curah hujan tinggi yang diprediksi akan terjadi sepanjang periode Januari hingga Februari 2026. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menekankan bahwa kesiapan sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana, adalah kunci utama dalam penanganan sampah saat terjadi banjir.
“Kami memastikan sampah tidak menumpuk, saluran air tetap berfungsi optimal, dan lingkungan warga terdampak banjir dapat dibersihkan dengan cepat,” ujar Asep dalam keterangannya pada Jumat, 16 Januari 2026.
DLH DKI Jakarta tidak hanya menyiapkan personel, tetapi juga berbagai sarana dan prasarana pendukung, meliputi:
- 101 unit truk pengangkut sampah
- 116 unit alat berat
- 15 perahu karet
- 25 bus toilet
- 48 toilet portable
Selain itu, ribuan peralatan kerja juga disiapkan, termasuk:
- 1.369 cangkrang atau garpu penggaruk sampah
- 1.235 cangkul
- 1.329 sapu
- 7.836 karung atau plastik sampah
Seluruh personel dan armada tersebut telah disebar di 25 lokasi yang dinilai rawan banjir di seluruh wilayah Jakarta.
Strategi Penanganan Sampah di Musim Hujan
DLH DKI Jakarta menerapkan pola penanganan khusus selama musim penghujan untuk mengantisipasi penumpukan sampah yang dapat memperparah kondisi banjir. Unit Pengelola Sampah Badan Air (UPSBA) ditempatkan di sembilan titik rawan banjir, dengan mengoptimalkan fungsi 29 unit saringan sampah otomatis.
Personel lapangan juga dilengkapi dengan perlengkapan pendukung seperti kubus apung, bus toilet, tangki air, dan toilet portable untuk memaksimalkan respons di lapangan.
“Sistem siaga ini merupakan upaya pencegahan agar sampah tidak menyumbat saluran air serta menjaga kelancaran aliran sungai, sehingga dampak banjir dapat ditekan secara efektif,” jelas Asep.
Perpanjangan Operasi Modifikasi Cuaca Hingga 22 Januari 2026
Menyikapi potensi cuaca ekstrem dan perkiraan peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia dalam sepekan mendatang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk memperpanjang durasi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi yang awalnya dijadwalkan berlangsung selama lima hari sejak 13 Januari 2026, kini diperpanjang hingga 22 Januari 2026.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Isnawa Adji, menyatakan bahwa pelaksanaan OMC dilakukan melalui kolaborasi erat dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI Angkatan Udara.
“BPBD melaksanakan operasi modifikasi cuaca sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi atau cuaca ekstrem di Jakarta,” ujar Isnawa pada Jumat.
Isnawa menekankan pentingnya modifikasi cuaca sebagai langkah preventif untuk menekan potensi bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan genangan yang kerap terjadi saat curah hujan tinggi. Kejadian banjir yang melanda puluhan RT di Jakarta sejak 12 Januari lalu menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan, terutama ketika prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan lebat yang berkelanjutan. Operasi modifikasi cuaca ini bertujuan untuk menekan risiko terjadinya bencana.
Isnawa mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, memantau informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah, serta segera melaporkan kondisi darurat melalui kanal pengaduan yang tersedia.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta telah menginstruksikan BPBD DKI untuk melaksanakan modifikasi cuaca selama lima hari mulai 13 Januari 2026. Berdasarkan pengalaman, tanpa intervensi modifikasi cuaca, dampak hujan lebat berpotensi lebih besar. Oleh karena itu, langkah ini dinilai perlu dilakukan kembali untuk menekan risiko banjir di Jakarta.






