Idulfitri di Tengah Perang: Ragam Perayaan Timur Tengah

Idulfitri 1447 H Dirayakan di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Perayaan Idulfitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret, di sejumlah negara Timur Tengah diwarnai oleh suasana ketegangan geopolitik yang masih membara. Negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, dan Palestina turut merayakan hari besar umat Islam ini di tengah dinamika regional yang kompleks.

Gencatan Senjata Idulfitri di Pakistan dan Afghanistan

Secara khusus, Pakistan dan Afghanistan sepakat untuk menghentikan sementara permusuhan selama periode Idulfitri. Kesepakatan ini dicapai setelah serangkaian kekerasan mematikan yang terjadi antara kedua negara tetangga tersebut dalam beberapa pekan terakhir.

Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyatakan bahwa penangguhan konflik akan berlaku mulai Kamis, 19 Maret, hingga Selasa, 24 Maret. Kesepakatan ini merupakan hasil permintaan dari Arab Saudi, Qatar, dan Turki.

“Pakistan menyampaikan isyarat ini dengan itikad baik dan sesuai dengan norma-norma Islam,” ujar Tarar.

Namun, perlu dicatat bahwa operasi militer dapat dilanjutkan dengan intensitas yang lebih tinggi apabila terjadi serangan lintas batas, serangan drone, atau insiden teror di wilayah Pakistan.

Pemerintah Taliban di Afghanistan juga mengumumkan penangguhan sementara operasi militer terhadap Pakistan. Gencatan senjata ini diumumkan hanya beberapa hari setelah Afghanistan menuduh militer Pakistan bertanggung jawab atas tewasnya ratusan orang dalam serangan udara di Kabul. Pakistan membantah tuduhan tersebut, mengklaim bahwa serangan hanya menargetkan infrastruktur teroris dan sasaran militer. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat adanya 143 korban tewas dalam insiden di fasilitas rehabilitasi narkoba di Kabul, meskipun angka ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Pelarangan Salat Idulfitri di Masjid Al-Aqsa Picu Protes

Di Palestina, otoritas Israel memberlakukan larangan terhadap pelaksanaan salat Idulfitri di Masjid Al-Aqsa, yang terletak di Yerusalem Timur. Alasan yang diberikan adalah pembatasan keamanan di tengah eskalasi konflik dengan Iran.

Menanggapi larangan ini, warga Palestina menyerukan umat Muslim untuk melaksanakan salat di sekitar Kota Tua agar tetap dapat merayakan Idulfitri. Aparat Israel dilaporkan menggunakan kekerasan, termasuk pentungan, granat kejut, dan gas air mata, terhadap warga yang beribadah di luar tembok Kota Tua sebagai bentuk protes atas pembatasan akses ke Al-Aqsa selama bulan Ramadan.

Memasuki masa Idulfitri, suasana di Yerusalem Timur dilaporkan muram. Kawasan Kota Tua, yang biasanya ramai menjelang hari raya, justru sepi dengan aktivitas perdagangan yang sangat terbatas. Israel juga membatasi akses publik, hanya mengizinkan apotek dan toko kebutuhan pokok untuk beroperasi.

Serangan Udara ke Dubai dan Eskalasi Konflik Iran-Israel

Ledakan hebat mengguncang Dubai pada Jumat pagi ketika pertahanan udara mencegat tembakan yang diarahkan ke kota tersebut, di mana warga sedang merayakan Idulfitri.

Iran dilaporkan terus melancarkan gelombang serangan ke Israel, yang telah menyebabkan jutaan orang mengungsi. Hal ini terjadi setelah hari yang intens pada Kamis, 19 Maret, yang menyaksikan lebih dari selusin peluncuran rudal.

Sementara itu, Israel melancarkan serangan udara ke Teheran pada Jumat, 20 Maret, bertepatan dengan perayaan Nowruz di Iran. Serangan ini terjadi di tengah konflik yang semakin memanas dan mulai mengguncang perekonomian global, termasuk pasar energi.

Laporan dari sejumlah aktivis menyebutkan ledakan terdengar di sekitar ibu kota Teheran. Serangan ini terjadi sehari setelah Israel menyatakan akan menahan diri dari serangan lanjutan ke ladang gas utama Iran. Namun, Iran justru meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk.

Konflik ini semakin menekan pasokan energi global, terutama mengingat posisi strategis Selat Hormuz yang berada di bawah pengaruh Iran. Jalur ini merupakan rute pelayaran bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Iran Menetapkan Idulfitri pada Sabtu

Sementara sebagian besar negara di kawasan merayakan Idulfitri pada Jumat, Iran menetapkan hari raya tersebut jatuh pada Sabtu, 21 Maret. Pemerintah Iran menyatakan bahwa Jumat merupakan hari ke-30 Ramadan berdasarkan hasil pemantauan hilal. Pengumuman serupa juga disampaikan oleh ulama Syiah terkemuka di Irak, Ayatullah Ali al-Sistani.

Kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyebutkan bahwa Idulfitri menjadi penanda berakhirnya bulan suci Ramadan. Tahun ini, akhir Ramadan bertepatan dengan perayaan Nowruz, yang dirayakan saat ekuinoks musim semi.

Ramadan merupakan salah satu rukun Islam, yang di dalamnya umat Muslim menjalankan ibadah puasa dari matahari terbit hingga terbenam. Bulan ini juga dianjurkan untuk memperbanyak amal, termasuk berbagi kepada sesama, terlebih lagi di tengah kondisi yang penuh tantangan seperti yang dihadapi saat ini.

Pos terkait