Iran Tunjuk Pengganti Khamenei

Majelis Pakar Iran Capai Keputusan Pemimpin Tertinggi Baru, Bayang-bayang Ketegangan Global Mengintai

Badan yang berwenang dalam penentuan pemimpin tertinggi Iran telah mengumumkan bahwa mereka telah mencapai sebuah keputusan krusial mengenai siapa yang akan menggantikan Ali Khamenei. Meskipun demikian, identitas pemimpin baru tersebut masih dirahasiakan dari publik. Keputusan ini muncul di tengah situasi geopolitik yang sangat tegang, terutama dengan adanya ancaman dari Israel yang secara tegas menyatakan akan menargetkan siapa pun yang terpilih untuk memegang posisi prestisius tersebut. Ali Khamenei sendiri dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada hari pertama pecahnya perang antara Iran dan koalisi tersebut.

“Kandidat yang paling cocok, yang telah disetujui oleh mayoritas Majelis Pakar, telah ditentukan,” ujar Mohsen Heydari, salah seorang anggota badan seleksi, pada hari Minggu. Pernyataan ini disiarkan oleh kantor berita ISNA Iran, sebagaimana dilaporkan oleh The Guardian. Konfirmasi senada datang dari anggota lain, Mohammad Mehdi Mirbagheri, yang dalam sebuah video yang dirilis oleh kantor berita Fars Iran, menyatakan bahwa pendapat yang tegas, mencerminkan pandangan mayoritas, telah tercapai.

Ancaman Israel dan Kandidat Potensial

Militer Israel tidak tinggal diam. Mereka telah mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka akan terus memburu setiap calon pengganti pemimpin tertinggi Iran yang baru. Melalui unggahan di platform X dalam bahasa Persia, militer Israel juga menegaskan akan mengejar siapa pun yang mencoba menunjuk pengganti Khamenei.

Dalam beberapa hari terakhir, Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei yang berusia 56 tahun, telah muncul sebagai kandidat terdepan. Namun, penunjukannya masih jauh dari kata pasti. Para kritikus melihat potensi pengangkatan Mojtaba sebagai upaya untuk memperkuat rezim yang dituduh oleh berbagai kelompok hak asasi manusia telah menyebabkan kematian setidaknya 7.000 orang dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, tradisi suksesi dari ayah ke anak juga cenderung tidak disukai di kalangan ulama Syiah Iran, terutama di negara republik yang lahir dari penggulingan monarki pada tahun 1979.

Peran Majelis Pakar dan Konteks Perang

Berdasarkan konstitusi Iran, Majelis Pakar, yang terdiri dari 88 anggota, memegang tanggung jawab fundamental untuk memilih pemimpin tertinggi negara. Khamenei, yang telah memimpin Iran selama 37 tahun, dilaporkan meninggal dunia akibat serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel di Teheran pada tanggal 28 Februari.

Pertemuan para ulama untuk menunjuk pemimpin baru ini berlangsung di tengah eskalasi pertempuran antara Israel dan Iran yang memuncak sepanjang akhir pekan. Serangan Iran dilaporkan telah menghantam infrastruktur energi di berbagai wilayah Teluk, sementara serangan balasan Israel menargetkan fasilitas penyimpanan minyak dan bahan bakar di dalam Iran.

Serangan Meluas dan Keretakan Internal

Gelombang serangan Iran terbaru juga dilaporkan telah merambah negara-negara Teluk pada hari Minggu, 8 Maret. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait semuanya melaporkan adanya serangan. Arab Saudi mengklaim telah berhasil mencegat 15 drone, sementara serangan di Bahrain dilaporkan menyebabkan “kerusakan material” pada sebuah pabrik desalinasi yang vital.

Serangan-serangan yang terjadi baru-baru ini terhadap negara-negara Teluk tampaknya juga menyoroti potensi bentrokan di dalam kepemimpinan Iran sendiri. Hal ini terlihat dari pernyataan Presiden Masoud Pezeshkian yang kemudian ditafsirkan ulang oleh para pejabatnya.

Pezeshkian dilaporkan telah meminta maaf kepada negara-negara di Semenanjung Arab dan menyatakan bahwa serangan terhadap mereka akan dihentikan, asalkan wilayah udara dan pangkalan AS di negara-negara tersebut tidak digunakan untuk melawan Iran. Menurut para analis, janji Pezeshkian untuk menghentikan serangan terhadap negara-negara Teluk ini mengindikasikan adanya keretakan publik yang jarang terjadi di kalangan elit penguasa Iran. Hal ini terbukti dari keharusan para pejabatnya untuk menafsirkan ulang pernyataannya, yang tampaknya menimbulkan kemarahan di kalangan faksi-faksi paling konservatif di negara itu.

Situasi ini menunjukkan kompleksitas internal Iran dalam menghadapi tekanan eksternal yang intens, di mana keputusan mengenai pemimpin tertinggi baru menjadi sangat krusial dalam menentukan arah kebijakan negara di tengah ketidakpastian global.

Pos terkait