Jawa Masih Dihujani: Fenomena di Baliknya

Prakiraan Hujan Meluas di Pulau Jawa: Ancaman Banjir dan Upaya Mitigasi

Jakarta – Fenomena cuaca ekstrem kembali menghampiri Pulau Jawa. Bukan hanya wilayah Jabodetabek, namun hampir seluruh area di pulau ini diprediksi akan diguyur hujan pada Minggu pagi, 18 Januari 2026. Kondisi ini disebabkan oleh meratanya awan tebal yang terpantau di atas langit Jawa.

Erma Yulihastin, seorang peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa pengamatan citra satelit menunjukkan adanya tiga awan tebal yang mengindikasikan sistem konvektif kuat di perairan sekitar Pulau Jawa. Dua di antaranya meluas di wilayah utara Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, sementara satu lagi terdeteksi di selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sistem konvektif ini, menurut Erma, berpotensi menciptakan konvergensi atau pertemuan angin yang meluas, terutama di bagian barat dan tengah Jawa. Fenomena konvergensi merupakan salah satu faktor utama yang mendorong terbentuknya awan hujan.


Warga melewati banjir di Kampung Baru, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, 17 Januari 2026. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekalongan per pukul 14.00, sebanyak 8.692 Kepala Keluarga (KK) terdampak banjir akibat curah hujan tinggi di empat kecamatan yang ada di Kota Pekalongan dengan ketinggian air rata-rata mencapai antara 20-80 centimeter.

Sebelumnya, pada hari Sabtu, telah teramati pembentukan squall line atau barisan awan hujan yang panjang dan masif di Laut Jawa dan Samudra Hindia. Kondisi ini diperkirakan menjadi penyebab hujan yang signifikan di sebagian besar wilayah pesisir utara dan selatan Jawa Barat, serta pantura Tengah yang mengalami hujan persisten.

Keberadaan awan-awan tebal yang bertahan selama seminggu terakhir ini merupakan hasil dari pertemuan dua fenomena atmosfer yang signifikan. Fenomena pertama adalah cold surge atau gelombang dingin yang berasal dari benua Asia, yang turut memperkuat monsun barat. Fenomena kedua adalah southerly surge, yang dipicu oleh prakondisi badai tropis di Samudera Hindia dan kini telah berkembang menjadi bibit siklon tropis 96S. Kombinasi kedua fenomena ini menciptakan kondisi atmosfer yang sangat kondusif untuk pembentukan dan peningkatan intensitas hujan di wilayah Jawa.

Operasi Modifikasi Cuaca Diluncurkan di Jawa Tengah

Menghadapi dampak dari curah hujan yang tinggi dan potensi peningkatan banjir, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah meluncurkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini diambil untuk meredakan intensitas hujan yang dapat memperparah kondisi bencana.

Banjir dan tanah longsor dilaporkan telah melanda setidaknya empat kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Kudus, Pati, Jepara, dan Demak. Kondisi ini menimbulkan kerugian materiel yang signifikan dan mengancam keselamatan warga.


Warga menggunakan perahu ketika melintasi jalan desa yang terendam banjir di Desa Setrokalangan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, 17 Januari 2026.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, menyatakan bahwa dalam pelaksanaan OMC ini, tiga armada pesawat dikerahkan. Dua di antaranya berasal dari BNPB dan satu armada dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Suharyanto menjelaskan bahwa tujuan utama dari operasi modifikasi cuaca bukanlah untuk menghentikan hujan sepenuhnya, melainkan untuk mengurangi intensitas dan debit curah hujan. Dengan adanya OMC, diharapkan hujan yang semula turun dengan lebat hingga ekstrem dapat berubah menjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat namun dengan durasi yang lebih singkat.

“Meskipun cuaca terlihat mendung, dengan adanya modifikasi cuaca diharapkan tidak terjadi hujan yang dapat menambah parah kondisi banjir di wilayah terdampak,” ujar Suharyanto saat penyerahan bantuan kepada korban banjir di Desa Gajah, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak.

Dampak banjir yang terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah didominasi oleh kerusakan infrastruktur. Jalan dan jembatan dilaporkan terendam bahkan ada yang putus akibat luapan air. Selain itu, dilaporkan juga adanya korban jiwa, dengan dampak bencana yang paling menonjol terjadi di Kabupaten Pati dan Jepara. Upaya penanganan bencana dan bantuan kepada para korban terus dilakukan oleh berbagai pihak terkait.

Pos terkait