Kondisi arus lalu lintas pada momen mudik Lebaran di ruas tol Jakarta-Cikampek dan Jalan Layang Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ) terpantau mengalami penurunan drastis. Pantauan melalui kamera pengawas yang dioperasikan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada Jumat siang (20/3) menunjukkan kelancaran yang signifikan.
Perbedaan kontras terlihat jika dibandingkan dengan kondisi pada hari sebelumnya, Kamis (19/3). Pada hari tersebut, ruas tol Jakarta-Cikampek hingga Jalan Layang MBZ di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, diwarnai kepadatan kendaraan yang cukup parah. Rute ini memang menjadi jalur krusial bagi para pemudik yang hendak menuju berbagai destinasi di Pulau Jawa, sehingga lonjakan volume kendaraan di sana sangatlah lumrah terjadi menjelang hari raya.
Bahkan, dilaporkan bahwa antrean kendaraan sempat mengular hingga mencapai jarak 30 kilometer. Fenomena ini terjadi akibat peningkatan volume kendaraan pemudik yang melintas secara bersamaan.
Menyikapi dinamika arus mudik ini, Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol. Agus Suryonugroho, menjelaskan bahwa saat ini terjadi pergeseran titik kepadatan arus lalu lintas. Peningkatan volume kendaraan kini lebih terasa pada jalur-jalur arteri, bukan lagi di jalan tol utama seperti sebelumnya.
Antisipasi Kepolisian Terhadap Perubahan Arus Mudik
Sebagai bentuk respons terhadap pergeseran pola arus mudik ini, jajaran kepolisian di berbagai daerah telah sigap menyiapkan berbagai skenario rekayasa lalu lintas. Langkah-langkah antisipatif ini dirancang untuk memastikan kelancaran dan keamanan perjalanan para pemudik. Beberapa rekayasa lalu lintas yang telah disiapkan meliputi:
- Sistem Buka-Tutup Jalur: Penerapan sistem buka-tutup dilakukan di titik-titik tertentu yang berpotensi mengalami kemacetan, guna mengatur aliran kendaraan agar tidak menumpuk.
- Pengalihan Arus: Kendaraan dialihkan ke jalur alternatif apabila ruas jalan utama mengalami kepadatan berlebih, sehingga membantu mendistribusikan volume kendaraan.
- Penerapan Contra Flow: Sistem ini melibatkan penggunaan sebagian jalur dari arah berlawanan untuk menambah kapasitas lajur lalu lintas di arah yang padat.
- Penerapan One Way: Kebijakan satu arah ini diterapkan pada ruas jalan tertentu yang sangat padat untuk memaksimalkan efisiensi pergerakan kendaraan.
Evaluasi Skema One Way Nasional
Lebih lanjut, Irjen Pol. Agus Suryonugroho menambahkan bahwa skema one way nasional yang saat ini masih diberlakukan, terus dalam proses evaluasi secara berkala. Kebijakan ini diambil untuk mengurai kepadatan di jalan tol utama.
Jika tren penurunan kepadatan arus lalu lintas terus berlanjut seperti yang terpantau pada Jumat siang, ada potensi skema one way nasional ini akan segera dihentikan. Keputusan penghentian ini akan diambil setelah melalui koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk Kementerian Perhubungan dan Jasa Marga.
“Akan dilakukan evaluasi bersama stakeholder seperti Menteri Perhubungan, Dirut Jasa Marga, dan dilaporkan kepada Kapolri untuk kemungkinan penghentian one way,” ungkap Agus dalam keterangan resminya pada Jumat (20/3).
Meskipun demikian, hingga berita ini diturunkan pada siang hari tersebut, belum ada pengumuman resmi mengenai pencabutan skema one way nasional. Pihak berwenang masih terus memantau perkembangan situasi di lapangan.
Operasi Ketupat: Pengamanan Menjelang Idulfitri
Di samping fokus pada pengaturan lalu lintas, kepolisian juga akan menggelar Operasi Ketupat. Operasi ini memiliki cakupan yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada pengaturan arus kendaraan. Fokus utama Operasi Ketupat adalah menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, khususnya di tempat-tempat ibadah, menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
Kegiatan pengamanan ini akan mencakup periode krusial seperti malam takbiran dan pelaksanaan salat Idulfitri. Irjen Pol. Agus Suryonugroho menekankan bahwa Operasi Ketupat bertujuan untuk memastikan seluruh masyarakat dapat menjalankan ibadah dan merayakan hari raya dengan aman dan nyaman, bebas dari gangguan kamtibmas.





