Jemaah Haji Hilang 8 Hari di Makkah, Ditemukan Wafat Setelah Terpisah Saat Tawaf

Kehilangan yang Menyedihkan: Kisah Muhammad Firdaus di Makkah

Kisah perjuangan pencarian Muhammad Firdaus, seorang jemaah haji asal Pondok Labu, Jakarta, berakhir dengan duka yang mendalam. Setelah delapan hari pencarian di tengah keramaian kota suci Makkah, ia akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Peristiwa ini mengundang rasa haru dari masyarakat luas, terutama karena kisah ini melibatkan keluarga yang tidak pernah berhenti mencari keberadaan sang ayah.

Kabar duka ini pertama kali sampai ke telinga pihak keluarga pada Jumat (22/5/2026) dini hari. Informasi tersebut berasal dari seorang kenalan keluarga yang sedang berada di Makkah. Anak almarhum, Nurul Fadila, membagikan pengalaman emosional saat pertama kali mendengar kabar mengenai sang ayah.

“Saya dikabari teman yang ada di Makkah, katanya Bapak Muhammad Firdaus ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di rumah sakit,” ujar Nurul pada Sabtu (23/5/2026). Perasaan syok dan kesedihan langsung menyergap keluarga setelah mendengar kabar tersebut.

Upaya Tak Putus Meski Cuaca Ekstrem

Pencarian Muhammad Firdaus dilakukan dengan penuh keteguhan hati oleh keluarga. Sebelum dinyatakan wafat, almarhum dilaporkan hilang sejak Jumat (15/5/2026) saat sedang menjalani ibadah umrah di Masjidil Haram. Proses pencarian sangat sulit, terutama karena cuaca ekstrem yang melanda kota Makkah pada masa itu. Suhu berkisar antara 40 hingga 48 derajat celsius, membuat segala upaya menjadi semakin berat.

Almarhum sempat ditemukan dan kembali ke hotel bersama istri. Namun, tak lama kemudian, ia kembali hilang dan keberadaannya tidak bisa ditemukan selama lebih dari satu minggu. Keluarga di Jakarta tidak tinggal diam. Mereka segera menghubungi berbagai pihak terkait seperti petugas kloter, sektor, daerah kerja (daker) haji, hingga tim perlindungan jemaah (Linjam).

Petugas di Arab Saudi juga turut serta dalam pencarian. Mereka menyisir berbagai sudut kota, termasuk rumah sakit dan hotel, sambil melibatkan kepolisian setempat. Beban psikologis keluarga semakin berat karena situasi yang begitu menantang.

Keikhlasan dan Penghormatan Akhir

Memasuki hari keempat tanpa kepastian, keluarga mulai menunjukkan tanda-tanda kepasrahan. Mereka sadar bahwa kondisi fisik almarhum dan cuaca yang panas di Makkah bisa saja menjadi faktor utama dalam nasib yang akan dihadapi. Dengan perlahan, mereka mulai menerima apa pun yang akan terjadi.

Akhirnya, kepastian datang dari sebuah rumah sakit di Makkah. Untuk memastikan informasi tersebut, ibunda Nurul yang juga sedang beribadah haji bersama almarhum melakukan pengecekan fisik. Isak tangis pecah di ruang rumah sakit saat sang istri mengenali suaminya.

“Ibu saya datang ke rumah sakit dan ternyata benar itu Abah,” kenang Nurul dengan pilu. Meskipun duka menghiasi hati keluarga, ada rasa syukur dan kedamaian yang tersisa. Muhammad Firdaus diberi penghormatan terakhir dengan disalatkan langsung di Masjidil Haram, tempat suci yang menjadi impian setiap umat Muslim.

Kesimpulan

Kini, almarhum telah beristirahat dengan tenang di salah satu kawasan pemakaman di Makkah. Sementara itu, sang istri dengan ketegaran hati memilih untuk tetap melanjutkan sisa rangkaian ibadah hajinya di Tanah Suci, membawa serta doa dan kenangan manis bersama sang suami.


Pos terkait